Humor, Sensi, dan Asbun

Wartawan dan Penulis
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Chris Wibisana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tahun 1970-an, Prambors pernah punya siaran malam. Pendengarnya jutaan orang. Pengisinya mahasiswa-mahasiswa Universitas Indonesia. Tak ada tema tetap saban kali mereka mengudara. Yang jelas, siaran itu mengocok perut, dan karenanya ditunggu-tunggu.
Kurang sewindu sejak mulai mengudara, suara mengalun dari kotak radio dua band kini punya tampang di layar putih. Setengah abad kemudian, orang takzim menyebut mereka kelompok Warung Kopi atau Warkop. Aslinya lima orang, tetapi tiga di antaranya menjadi ikon: Wahjoe Sardono, Kasino Hadiwibowo, dan Indrodjojo Koesoemonegoro.
Sejak masih di radio, gawan bayi Warkop adalah humor yang menggugat. Dalam catatan Main-Main jadi Bukan Main (2010), karakteristik humor mereka adalah gejala hibriditas kultural. Komponennya macam-macam.
Dari sisi politik, tegangan masa Demokrasi Terpimpin baru berlalu. Revolusi tak ada lagi. Diganti seribu jargon pembangunan. Dari sisi kultural, sebuah kampung besar bernama Djakarta tengah merangkak menjadi metropolitan. Dari sisi global, protes antiperang berkecamuk. Kemapanan digugat. Pemberontakan orang muda melahirkan Generasi Bunga. Tak kecuali di Djakarta.
Dalam masyarakat semacam itu, mahasiswa jadi odd bean in a can. Mereka dididik memahami garis besar masalah, menarik benang merah, dan merumuskan cara-cara teknokratik untuk menyelesaikannya.
Pundak mahasiswapun dibebani ekspektasi tinggi. Orang tua mereka berinvestasi pada gelar dan jabatan yang menjanjikan kedudukan. Orang-orang di jalanan berharap mereka menjadi pemimpin hari depan. Lewat protes mereka yang mengguncang pada 1966, ketertindasan punya suara.
Hasilnya, sebuah subkultur. Di kota besar bernama Djakarta, kebudayaan tak punya satu wajah. Orang-orang muda terdidik itu masih kenal ludruk, wayang, atau ketoprak. Tetapi mereka juga tak asing dengan pertunjukan film, di bioskop atau layar tancap. Sebagai manusia purnabudaya, mereka menikmati gaya Sean Connery sebagai James Bond, sama asyiknya dengan panggung seni di lapangan desa.
Di bangku kuliah pun tak jauh berbeda. Pengajar para mahasiswa itu, Drs. James Danandjaja, adalah antropolog Indonesia pertama yang meneliti folklor. Guyon dan candaan kini masuk laboratorium. Dibedah pakai pisau teori, ia memang jadi tidak lucu lagi. Namun, ketika diucapkan, ia jadi bertenaga. Urat saraf yang tegang berhasil ditarik. Suasana kaku bisa dicairkan.
Satu generasi pun melahirkan humor mereka sendiri. Ia menjadi senjata menggugat yang mapan, rapi, tertib, teratur, disiplin, dan seragam. Ketika bulan madu demokrasi selesai dan kekerasan kembali naik ke permukaan, jungkir-balik logika itu perlahan-lahan menjadi jalan keluar dari kesesakan.
Yang nakal
Sebagai "pemberontakan kecil", humor zaman itu menjadi nakal. Dalam sebuah siaran Obrolan Warung Kopi, lagu "Satu Nusa Satu Bangsa" pernah diplesetkan, secara sengaja dan terang-terangan.
Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa Jawa. Tanah Jawa, Jawa punya, orang Sunda menyewa....
Di kesempatan lain, mereka menyiarkan kisah seorang nona cantik yang menjadi pencopet. Ia beroperasi di bus kota yang berdesak-desakan. Seorang korban pencopetan mengetahui modus nona cantik itu lantas memperingatkan temannya, seorang laki-laki peranakan Arab.
Bertemulah mereka suatu kali dalam bus kota yang berdesakan. Nona pencopet cantik mulai meraba saku celana pria Arab itu. Ternyata, saku celana itu sudah sengaja dilubangi. Bukan dompet, nona pencopet itu malah menggenggam barang lain yang tersembunyi di balik celana itu. Pria Arab menyadarinya, dan dengan enteng berkata, "Ente lepas, ane teriak!"
Stereotipe di masa itu sangat lumrah. Obrolan berbumbu dan bernuansa seks belum tabu. Eksposur penampilan, logat bicara, dan identitas yang memeragakan etnisitas tertentu secara komikal tidak digugat.
Orang-orang masih bisa tertawa, menertawakan, dan ditertawakan tanpa sakit hati. Kalaupun ada "musuh" yang tidak bisa tertawa, adalah kekuasaan yang hadir lewat larangan, pembredelan, ancaman, bahkan penghilangan. Celetuk legendaris, "Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang!" juga lahir di zaman kegelapan ini.
Sebagai produk kultural, humor menjadi katarsis politik yang pengap dan seragam. Kekuasaan yang bengis bisa ditertawakan secara karikatural. Monolog Butet Kartaredjasa sampai pernah dikuntit intelijen karena menirukan suara bariton Soeharto. Pentas "Opera Kecoa" Teater Koma yang berderai tawa pernah dilarang pentas karena dianggap tidak mendidik.
Kartunis surat kabar tak jarang ditelepon dan diperingatkan. Sebabnya, seorang berpangkat tinggi tersinggung suatu gambar, betapapun gambar itu tak menyebut nama siapapun. Di saat bersamaan, buku-buku dengan awalan judul Mati Ketawa tersebar luas.
Salah satunya, Mati Ketawa Cara Rusia (1986), yang bahkan diberi kata pengantar Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Abdurrahman Wahid. Yang jadi lebih lucu ketika mengingat itu, adalah kenyataan bahwa sehebat-hebat Kiai Haji Abdul Hakim Mahfudz yang terpilih dalam Muktamar Jombang bulan lalu, dia tak pernah menulis pengantar kumpulan humor.
Yang selesai
Betapapun, sebagai produk intelektual, humor ternyata punya umur. Pada suatu masa, kantor pusat Kelompok Kompas Gramedia di Palmerah, Jakarta Selatan, pernah hampir dibakar massa. Pasalnya, angket tabloid Monitor yang mereka terbitkan dianggap kelewat batas. Angket itupun, dilihat dari tempat terbit dan rencananya, jelas diniatkan sebagai bentuk humor.
Dalam sebuah edisi akhir tahun 1990, pembaca diminta mengirimkan kartu pos ke alamat redaksi berisi nama tokoh idola mereka. Karena tabloid itu bertiras hampir 1 juta eksemplar, kartu pos mulai membanjiri alamat penerbit majalah.
Beberapa edisi kemudian, hasil angket keluar. Tokoh idola nomor 1 adalah Presiden Soeharto. Tokoh idola nomor 10 ternyata Arswendo Atmowiloto, pemimpin redaksi Monitor. Celakanya, tokoh idola nomor 11 tertulis Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wassalam.
Kali ini tak ada ampun. Kantor tabloid Monitor diserbu. Penerbitnya, Kompas Gramedia, jadi sasaran demonstrasi. Arswendo dipenjara. Ia dianggap penista agama. Tabloid yang sangat terkenal itupun dikubur sejarah untuk selama-lamanya.
Sekitar satu dasawarsa kemudian, gerakan Reformasi menjatuhkan Presiden Soeharto. Orde Baru dianggap seolah-olah ikut tamat. Nyatanya, yang hampir ikut tamat adalah Republik Indonesia. Ketika itu, pergolakan berkecamuk dari Aceh, Kalimantan, Maluku, dan Papua. Sebagian besar berdimensi komunal. Artinya, ada identitas yang terluka, baik sisi etnisitas maupun religius. Unsur inheren yang pada suatu masa memancing tawa, belakangan jadi tabu. Ia tidak boleh dibuat lucu. Lucunya, ketidaklucuan itu dibakukan sebagai norma baru.
Bersamaan dengan usaha menghentikan konflik berdarah-darah itu, kampanye "keindonesiaan" kembali digulirkan. Kerukunan beragama dibicarakan. Keberagaman diusung, tetapi sebagai bentuk penghormatan. Dus, tidak boleh ditertawakan.
Tak berapa lama, kesadaran gender mencuat. Trauma kekerasan seksual menjadi bahan bakar melawan seksisme dan objektifikasi perempuan. Ketika percakapan tentang senarai tabu memasuki gelanggang, humor benar-benar kehilangan tempat.
Sederet tabu lahir dalam bentuk baru. Bukan larangan pentas atau penarikan kaset humor, tetapi norma sosial yang lahir dari insecurity (saking tidak lucunya, kata ini tak punya padanan dalam bahasa Indonesia). Etnisitas seseorang bukan tertawaan. Agama tidak boleh dibuat lelucon. Guyonan seksis itu kekerasan seksual. Mencandai gestur seseorang tak boleh dibiasakan. Ruang publik menjadi steril, bukan karena kekuasaan melarang, tetapi karena semua orang semakin sensi(tif) dan curiga pada apa-apa yang ditertawakan.
Konon, sensitivitas semacam itu lahir karena kecerdasan yang meningkat. Orang semakin memahami ada etika yang dilanggar ketika sesuatu yang inheren ternyata tidak boleh ditertawakan.
Lucunya, kata orang yang sama, orang cerdas itu humoris. Apakah itu berarti masyarakat yang semakin sensitif, semakin tidak cerdas? Mana yang benar? Semakin cerdas dan sensitif, semakin antihumor; atau semakin cerdas, justru semakin humoris?
Boleh jadi, 49 tahun setelah Arwah Setiawan (1935-1995) mengumandangkan pidato kebudayaan "Humor itu Serius", kita sekarang bertemu dengan paradoks humor lain: serangkaian tabu yang menekankan ketidaklucuan sesuatu, ternyata sangat lucu. Tertawa tentang suku, tidak boleh. Tertawa tentang agama, juga dilarang. Lama-lama, larangan itu perlu juga ditertawakan, sebab jangan-jangan, kita sendirilah yang menciptakan masa, "Tertawa Sudah Dilarang!"
Asbun
Ketika serangkaian etika dan tabu sensitivitas membunuh humor, sebuah generasi diam-diam menciptakan humor lain. Anak-anak Generasi Alpha, yaitu mereka yang lahir setelah Kiamat 2012 ditunda sampai batas waktu tidak ditentukan, menjadi pelopornya.
Mereka tidak belajar humor, tetapi memiliki spontanitas yang justru memancing tawa. Respons mereka terhadap keadaan dianggap bentuk "asal bunyi". Asumsinya, mereka tidak mengerti apa yang mereka ucapkan secara spontan.
Boleh jadi asumsi itu benar, tetapi di sana juga ada kecemasan lain. Ketika generasi yang berhasil menyemai bibit humor ini "mengetahui", akankah asbun mereka turut almarhum bersamaan dengan, konon, kecerdasan mereka yang bertambah?
Jangan dipikirkan sekarang. Sebab yang lebih bikin kebelet dan memusingkan daripada ketiadaan humor di tengah kesesakan, adalah menghitung mundur kematian humor dengan penuh kesadaran.
Barangkali sudah tiba waktunya kita memeriksa perbendaharaan humor yang tersisa. Agentic AI sudah semakin pandai, sementara tak banyak orang tahu berapa kali Sam Altman tertawa dalam sehari. Jangan-jangan, ketika pengetahuan umum dikuasai AI sementara sisa otak kita dikuasai tabu tentang sensitivitas, larangan tertawa bisa-bisa dimasukkan perundang-undangan, dengan draft susunan GPT yang dipoles Gemini dan Claude.
Pada akhirnya, sebuah adaptasi diperlukan. Suatu hari, Presiden Indonesia memasukkan prompt ke GPT.
"Buatkan saya sebuah model perhitungan. Berdasarkan data-data pertumbuhan ekonomi, kecerdasan rakyat, dan stabilitas politik negara ini, masih berapa jauh Indonesia Emas akan tercapai? Ibaratkan jarak menuju capaian itu dalam satuan kilometer,"
Maka ChatGPT menghitung dengan segala upaya. 10 detik, 20 detik, 30 detik berlalu. Hasil tak juga keluar. Setelah 45 detik, baru keluar jawaban,
"Menurut hitungan saya, ibarat jarak, Indonesia Emas tinggal sejauh 25 kilometer." Presiden terperanjat. "Dahsyat. Apakah Anda tidak salah? Tinggal 25 kilometer?" Matanya berbinar-binar.
Algoritma kembali berpikir. Hasilnya, tetap sama. Ibarat jarak, Indonesia Emas tinggal 25 kilometer dari titik sekarang. Presiden sangat gembira. Sebuah konferensi pers digelar. Ketika capaian itu diumumkan, seorang wartawan ingin mengonfirmasi prompt yang dimasukkan. Presiden jengkel.
"Lihat, saya memasukkan prompt yang benar dan ChatGPT sudah membuat perhitungan. Ibarat jarak, ia memperkirakan Indonesia Emas tinggal 25 kilometer!"
"Tapi, bukankah dalam pidato 17 Agustus, Bapak mengatakan setiap tahun kita berjalan selangkah menuju Indonesia Emas?"
