Konten dari Pengguna

Indonesia Sarang Meme "Jomok"?

Victo Ramadhana Pogiya

Victo Ramadhana Pogiya

Seorang mahasiswa Universitas Pamulang program studi Ilmu Komunikasi S1

·waktu baca 4 menit

Tulisan dari Victo Ramadhana Pogiya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena meme di Indonesia menjadi perbincangan setelah sebuah video dari kanal YouTube Whirow YouTube channel pada 14 Maret 2026 mengangkat isu yang cukup kontroversial. Dalam videonya yang berjudul "there is a country obsessed with gay black gooners," Indonesia disebut memiliki ketertarikan yang tinggi terhadap konten meme yang menggabungkan unsur humor, ras, dan seksualitas.

Konten tersebut kemudian memicu diskusi di berbagai platform media sosial. Beberapa kreator lokal seperti Silince Man, Caveine, dan Ray Restu Fauzi ikut membahas fenomena ini. Pertanyaannya, kenapa konten seperti ini bisa begitu cepat menyebar dan bahkan membentuk komunitas tersendiri di Indonesia?

Ilustrasi meme "Jomok". Foto: Dok. ChatGPT
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi meme "Jomok". Foto: Dok. ChatGPT

Istilah “jomok” sendiri merupakan singkatan dari “jokes homok”, yaitu bentuk humor absurd yang berkembang di internet. Meme ini umumnya mengambil potongan video pria bertubuh maskulin dengan ekspresi atau gerakan tertentu, lalu diedit ulang menjadi konten lucu dalam berbagai format seperti video dubbing, sticker WhatsApp, hingga template meme.

Kalau ditarik ke belakang, akar dari fenomena ini bisa dilihat dari viralnya figur seperti Ricardo Milos sekitar tahun 2019. Video yang menampilkan tarian dengan gestur erotis tersebut kemudian menyebar luas dan dijadikan bahan meme di berbagai platform digital.

Perkembangan berikutnya semakin kuat ketika muncul konten dari Philip Dibby yang di Indonesia dikenal sebagai “Rehan Wangsaf”. Video tanpa konteks yang ia unggah kemudian diedit oleh warganet dengan tambahan lagu seperti “Ko Buat Sa Jatuh dalam Kenyamanan” dari Baribut Gang x MMK Squad, hingga akhirnya menjadi template yang terus direproduksi.

Di titik ini, kita bisa melihat bagaimana satu konten sederhana bisa berkembang menjadi fenomena besar melalui mekanisme remix culture di media sosial. Konten tidak lagi dikonsumsi secara pasif, tetapi diolah ulang oleh pengguna menjadi bentuk baru yang lebih relevan dengan konteks lokal.

Fenomena ini juga diperkuat oleh temuan dari penelitian Farrell Riskia Putra Sembiring yang berjudul “Meme Jomok sebagai Representasi Interseksionalitas Ras dan Gender di Media Sosial”. Dalam penelitiannya, Farrell menemukan bahwa banyak template meme yang digunakan menampilkan pria berkulit hitam dengan tubuh maskulin, dan sering kali dikaitkan dengan konteks seksual.

Ia juga mencatat adanya kecenderungan dalam pemilihan figur, di mana karakter tertentu dianggap lebih “menghibur” dibanding yang lain. Di sinilah terlihat bahwa humor di media sosial tidak sepenuhnya netral, melainkan dipengaruhi oleh konstruksi sosial tentang tubuh, ras, dan ekspresi.

Salah satu figur yang cukup populer dalam meme ini adalah Perrel Brown yang dikenal di Indonesia sebagai “Mas Ambatukam”. Nama ini sendiri muncul dari salah dengar frasa bahasa Inggris yang kemudian diadaptasi menjadi lelucon lokal. Fenomena ini menunjukkan bagaimana audiens Indonesia tidak hanya mengkonsumsi, tetapi juga memodifikasi makna dari konten global.

Ilustrasi statistik meme. Foto: Dok. ChatGPT

Jika dilihat dari data pencarian, popularitas figur ini di Indonesia bahkan lebih tinggi dibandingkan di negara asalnya pada periode tertentu. Hal ini menandakan bahwa ada pola konsumsi yang unik, di mana konten tertentu justru berkembang lebih besar ketika masuk ke konteks budaya yang berbeda.

Dari sini, muncul komunitas-komunitas digital dengan selera humor yang sama, seperti grup Facebook “Sungut Lele” atau istilah-istilah khas seperti “member Ngawi”, yang menjadi bagian dari identitas kolektif pengguna internet tertentu. Komunitas ini berperan penting dalam menyebarkan dan mempertahankan eksistensi meme tersebut di berbagai platform.

Namun, di balik itu semua, penting untuk melihat fenomena ini secara lebih kritis. Meme yang terus direproduksi dengan pola yang sama berpotensi membentuk cara pandang tertentu, terutama ketika menyangkut representasi ras dan seksualitas. Humor yang terlihat sederhana bisa membawa makna yang lebih kompleks dalam konteks sosial.

Pada akhirnya, viralnya meme “jomok” di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kombinasi berbagai faktor: budaya remix di internet, kekuatan komunitas digital, serta algoritma media sosial yang mempercepat penyebaran konten.

Fenomena ini tidak hanya soal lucu atau tidak, tetapi juga menunjukkan bagaimana budaya digital bekerja dalam membentuk selera, identitas, dan cara pandang masyarakat di era internet.