Konten dari Pengguna

Kenapa Lagu Rohani Sering Menggunakan Metafora? Ini Makna di Balik Liriknya

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Apris Lenok Lalumba tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah saat mendengarkan lagu rohani, kita mendengar kata-kata seperti batu, badai, laut, salib, cahaya, atau harapan?

Sekilas, kata-kata tersebut terdengar seperti gambaran biasa. Namun, dalam sebuah lagu, kata-kata itu sering kali tidak hanya digunakan dalam arti sebenarnya. Ada pesan yang lebih dalam di baliknya.

Misalnya, ketika sebuah lagu menyebut Kristus sebagai "batu penjuru", tentu yang dimaksud bukanlah Yesus sebagai batu secara harafiah. Batu digunakan sebagai gambaran tentang sesuatu yang menjadi dasar dan menopang kehidupan seseorang.

Penggunaan kata atau gambaran untuk menyampaikan makna yang lebih dalam seperti inilah yang disebut metafora. Menariknya, penggunaan metafora cukup banyak ditemukan dalam lagu-lagu rohani karena cara ini membuat pesan iman yang abstrak menjadi lebih mudah dibayangkan dan dirasakan.

Suasana ibadah Youth & College di GKKD Southers Bintaro. Foto: Ricky

Apa Itu Metafora?

Secara sederhana, metafora adalah cara menyampaikan suatu makna dengan menggunakan gambaran atau perbandingan yang tidak dimaksudkan secara harafiah.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya kita juga sering menggunakan metafora tanpa menyadarinya. Misalnya, ketika seseorang mengatakan "dia adalah tulang punggung keluarga", tentu yang dimaksud bukan tulang secara harafiah. Ungkapan tersebut menggambarkan seseorang yang menjadi penopang utama keluarganya.

Hal yang sama dapat ditemukan dalam lagu rohani. Sebuah lagu tidak selalu menjelaskan pesan iman dengan kalimat yang langsung dan sederhana. Kadang-kadang penulis lagu menggunakan benda, keadaan alam, atau pengalaman manusia sebagai gambaran untuk menyampaikan pesan spritual.

Karena itu, ketika mendengar kata "badai" dalam sebuah lagu rohani, kita tidak harus langsung membayangkan cuaca buruk. Badai bisa menjadi gambaran tentang persoalan, ketakutan, tekanan, atau keadaan sulit yang sedang dihadapi seseorang.

Kenapa Lagu Rohani Banyak Menggunakan Metafora?

Salah satu alasannya adalah karena banyak hal yang dibicarakan dalam lagu rohani bersifat abstrak. Kasih, iman, pengharapan, keselamatan, dan hubungan manusia dengan Tuhan bukan sesuatu yang selalu dapat dilihat secara langsung.

Metafora membantu mengubah sesuatu yang abstrak menjadi gambaran yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Batu dapat menggambarkan dasar yang kokoh. Laut dapat menggambarkan sesuatu yang luas dan tidak selalu dapat diprediksi. Badai dapat menggambarkan pergumulan. Sementara itu, cahaya dapat memberikan gambaran tentang harapan atau sesuatu yang membawa seseorang keluar dari kegelapan.

Dengan cara seperti ini, sebuah lagu tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengajak pendengar untuk membayangkan dan merasakan pesan yang sedang disampaikan.

Penelitian mengenai metafora dalam lagu-lagu rohani juga menunjukan bahwa metafora banyak digunakan untuk menyampaikan tema seperti iman, pengharapan, keselamatan, serta hubungan antara Tuhan dan manusia. Bahasa metaforis membuat konsep-konsep tersebut menjadi lebih mudah dipahami sekaligus memberikan dampak emosional yang lebih kuat bagi pendengar.

Suasana penyembahan jemaat GKKD Southers Bintaro. Foto: Ricky Maru

Untuk melihat bagaimana cara kerja metafora tersebut, berikut beberapa lagu rohani yang menggunakan gambaran-gambaran menarik dalam liriknya.

Tujuh Lagu Rohani yang Menggunakan Metafora

1. Cornerstone - Hillsong Worship

Salah satu contoh yang cukup jelas adalah lagu Cornerstone dari Hillsong Worship.

Kata Cornerstone berarti "batu penjuru". Dalam konteks bangunan, batu penjuru memiliki posisi penting dalam menentukan dan menopang struktur bangunan. Dalam lagu ini, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan Kristus sebagai dasar yang kokoh dalam iman.

Jadi, ketika Kristus disebut sebagai Cornerstone, maknanya bukan bahwa Kristus adalah batu secara harafiah. Batu tersebut menjadi gambaran tentang sesuatu yang menjadi dasar dan tempat seseorang membangun kehidupannya.

Gambaran ini juga berkaitan dengan penggunaan istilah "cornerstone" dalam Alkitab, termasuk Efesus 2:20 yang menyebut Kristus sebagai batu penjuru. Analisis yang menjadi dasar artikel ini juga menemukan bahwa Cornerstone menggambarkan Yesus sebagai fondasi iman yang kuat dan tidak tergoyahkan.

Ilustrasi fondasi bangunan sebagai gambaran tentang dasar yang kokoh. Sumber: Unsplash/David Thielen

2. Living Hope - Phil Wickham

Metafora berikutnya dapat ditemukan dalam lagu Living Hope karya Phil Wickham.

Istilah living hope atau "pengharapan yang hidup" menarik karena harapan sebenarnya bukan sesuatu yang hidup seperti manusia atau makhluk hidup. Di sini, kata "hidup" memberikan gambaran bahwa pengharapan tersebut bukan sesuatu yang mati atau kosong.

Pengharapan dalam lagu ini berkaitan dengan Kristus sebagai sumber pengharapan, keselamatan, dan kehidupan baru. Phil Wickham sendiri menjelaskan lagu ini dalam kaitannya dengan keselamatan yang diberikan Kristus dan pengharapan yang membawa kehidupan.

Dengan menggunakan gambaran "pengharapan yang hidup", pesan lagu terasa lebih kuat. Pengharapan bukan hanya sebuah keinginan agar sesuatu terjadi, tetapi sesuatu yang menjadi pegangan dalam kehidupan orang percaya.

Cahaya di antara pepohonan sebagai ilustrasi pengharapan. Sumber: Unsplash/Simon Wilkes

3. Lead Me to the Cross - Hillsong UNITED

Berikutnya ada Lead Me to the Cross dari Hillsong UNITED.

Kata "cross" atau salib tentu mempunyai makna yang sangat penting dalam iman Kristen. Namun, dalam ungkapan "Lead Me to the Cross", salib bukan hanya menunjuk pada sebuah benda atau tempat secara fisik.

Salib menjadi gambaran tentang pengorbanan Kristus. Kasih karunia, pengampunan, dan penyerahan diri. Karena itu, ungkapan tersebut dapat dipahami sebagai kerinduan untuk kembali mengingat dan memusatkan hati pada karya pengorbanan Kristus.

Metafora seperti ini membuat pesan lagu tidak perlu menjelaskan semuanya dengan kalimat panjang. Satu gambaran tentang salib sudah membawa banyak makna bagi pendengar yang memahami konteks iman Kristen.

Analisis dalam penelitian yang digunakan sebagai dasar artikel ini juga menempatkan Lead Me to the Cross sebagai ungkapan yang berkaitan dengan pengorbanan Kristus, kasih karunia, pengampunan, dan penyerahan diri.

Salib sebagai ilustrasi tema pengorbanan dan penebusan. Sumber: Unsplash/Jonas Allert

4. Oceans (Where Feet May Fail) - Hillsong UNITED

Laut menjadi salah satu gambaran yang sangat kuat dalam lagu Oceans (Where Feet May Fail).

Jika dipikir secara harafiah, laut adalah tempat yang luas dan tidak selalu dapat diprediksi. Seseorang tidak bisa mengendalikan gelombang atau mengetahui seluruh keadaan yang ada di dalamnya.

Karena itu, laut menjadi gambaran yang tepat untuk membicarakan situasi yang berada di luar kendali manusia.

Dalam lagu ini, gambaran tentang laut berkaitan dengan kepercayaan kepada Tuhan ketika seseorang berada dalam keadaan yang tidak pasti. Ungkapan tentang kepercayaan yang tidak memiliki batas menggambarkan keberanian untuk tetap percaya meskipun keadaan di depan tidak sepenuhnya diketahui.

Penelitian yang menjadi dasar artikel ini juga menemukan bahwa metafora dalam Oceans menggambarkan kepercayaan penuh kepada Tuhan dalam situasi yang tidak pasti dan sulit.

Laut sebagai ilustrasi keadaan yang luas dan tidak selalu dapat diprediksi. Sumber: Unsplash/ Josh Mackey

5. What a Beautiful Name - Hillsong Worship

Lagu kelima adalah What a Beautiful Name dari Hillsong Worship.

Salah satu gambaran menarik dalam lagu ini adalah, "the veil tore before You". Tirai atau tabir dalam gambaran tersebut bukan sekedar benda yang terbuka secara fisik. Tirai menjadi gambaran tentang sebuah penghalang yang tersingkap.

Dalam konteks iman Kristen, gambaran tersebut berkaitan dengan terbukanya hubungan antara manusia dan Tuhan melalui karya Kristus.

Inilah salah satu kekuatan metafora. Sebuah benda sederhana seperti tirai dapat digunakan untuk menggambarkan sebuah konsep spritual yang jauh lebih besar.

Analisis yang digunakan dalam artikel ini juga mengidentifikasi gambaran "the veil tore before You" sebagai simbol dari dihilangkannya penghalang antara Tuhan dan manusia melalui pengorbanan Kristus.

Tirai yang terbuka sebagai ilustrasi tentang sesuatu yang tersingkap. Sumber: Unsplash/Jonathan Borba

Lima lagu tadi menunjukan bahwa metafora bukan hanya digunakan untuk membuat lirik terdengar indah. Di baliknya terdapat cara untuk menyampaikan pesan iman melalui gambaran yang lebih dekat dengan pengalaman manusia.

Namun, penggunaan metafora seperti ini tidak hanya dapat ditemukan dalam lagu-lagu worship internasional. Hal yang sama juga dapat kita temukan dalam lagu-lagu yang lebih dekat dengan lingkungan kita.

Salah satunya adalah karya Southers Worship dari GKKD Southers.

Dua lagu yang akan dibahas berikutnya adalah Tenang di Tengah Badai dan Tempatku Berharap, karya Ps. Otto Daniel Panggabean. Nama Ps. Otto Daniel Panggabean tercantum sebagai penulis musik dan lirik pada sumber resmi Southers Worship.

Kedua lagu tersebut dipilih karena memiliki gambaran metaforis yang menarik, seperti badai, pelita, sungai, bumi yang bergoncang, dan tempat pengharapan.

Suasana penyembahan di ibadah Youth & College di GKKD Southers Bintaro. Foto: Ricky

6. Tenang di Tengah Badai - Southers Worship

Judul lagu ini sendiri sudah menggunakan metafora yang mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari: badai.

Badai secara harafiah adalah keadaan cuaca yang berat. Namun, dalam kehidupan manusia, "badai" juga sering digunakan untuk menggambarkan masalah, tekanan, ketakutan, atau keadaan yang sulit.

Dalam Tenang di Tengah Badai, gambaran tersebut digunakan untuk menunjukkan bahwa keadaan sulit tidak selalu harus membuat seseorang kehilangan ketenangan. Lagu ini menggambarkan seseorang yang tetap memegang janji Tuhan dan merasa aman bersama-Nya meskipun keadaan di sekitarnya digambarkan seperti badai.

Selain badai, ada juga gambaran guruh, pelita yang tak padam, dan sungai yang tak kering.

Guruh memberikan gambaran tentang sesuatu yang menggelegar dan menakutkan. Sementara itu, pelita yang tak padam dapat dipahami sebagai gambaran tentang kasih yang terus menyala dan tidak mudah hilang. Sungai yang tidak kering memberikan gambaran tentang sesuatu yang terus mengalir dan tidak habis.

Yang menarik, metafora-metafora tersebut tidak berdiri sendiri. Semuanya mengarah pada satu pesan yang sama: keadaan dapat berubah, tetapi kepercayaan kepada Tuhan menjadi sumber ketenangan.

Suasana penyembahan dalam ibadah Youth & College di GKKD Southers Bintaro, menggambarkan ketenangan saat tetap mengarahkan hati kepada Tuhan di tengah berbagai pergumulan. Foto: Ricky

7. Tempatku Berharap - Southers Worship

Jika Tenang di Tengah Badai banyak menggunakan gambaran tentang badai dan ketenangan, Tempatku Berharap membawa kita kepada gambaran tentang pengharapan.

Judulnya sendiri menarik. Secara harafiah, "tempat" biasanya menunjuk pada suatu lokasi. Namun, dalam ungkapan "Tempatku Berharap", Tuhan tidak sedang digambarkan sebagai sebuah lokasi fisik.

Kata "tempat" digunakan untuk menggambarkan kepada siapa seseorang menaruh pengharapannya. Dengan kata lain, Tuhan menjadi tempat seseorang bersandar dan menaruh harapan.

Hal tersebut semakin jelas ketika lagu menggambarkan keadaan seperti bumi bergoncang serta topan badai yang menghadang. Gambaran alam tersebut dapat dibaca sebagai keadaan besar yang mengguncang kehidupan manusia. Namun, di tengah keadaan tersebut, pengharapan tetap diarahkan kepada Tuhan.

Di sini kita dapat melihat bahwa metafora membuat pesan menjadi lebih dekat dengan pengalaman manusia. Setiap orang mungkin pernah mengalami "badai" dalam kehidupannya, meskipun bentuknya berbeda-beda. Ada yang berupa kegagalan, kekhawatiran, kehilangan, tekanan, atau masa depan yang belum jelas.

Karena itu, ketika lagu menyebut Tuhan sebagai tempat berharap, pendengar dapat menghubungkannya dengan pengalama mereka sendiri.

Suasana penyembahan dalam ibadah Youth & College di GKKD Southers Bintaro, menggambarkan hati yang tetap tertuju kepada Tuhan di tengah berbagai keadaan. Foto: Ricky

Jadi, Kenapa Lagu Rohani Sering Menggunakan Metafora?

Setelah melihat tujuh lagu tadi, kita bisa melihat bahwa metafora bukn hanya sekedar hiasan dalam sebuah lirik.

Metafora membantu penulis lagu menyampaikan sesuatu yang sulit dijelaskan secara langsung melalui gambaran yang sudah dikenal manusia.

Batu dapat membantu kita membayangkan dasar yang kokoh.

Harapan yang hidup memberikan gambaran tentang pengharapan yang terus memberi kehidupan.

Salib membawa kita kepada gambaran tentang pengorbanan Kristus.

Laut menggambarkan keadaan yang luas dan tidak selalu dapat dikendalikan.

Tirai memberikan gambaran tentang sesuatu yang sebelumnya menjadi penghalang lalu tersingkap.

Sementara itu, badai dapat menggambarkan pergumulan, dan tempat dapat digunakan untuk menggambarkan kepada siapa seseorang menaruh pengharapannya.

Itulah mengapa metafora memiliki tempat yang cukup penting dalam lagu rohani. Bahasa seperti ini membuat pesan iman yang abstrak menjadi lebih mudah dibayangkan, lebih dekat dengan pengalaman sehari-hari, dan dapat direnungkan secara pribadi.

Pada akhirnya, sebuah lagu rohani tidak hanya didengar karena melodinya. Ada kata-kata di dalamnya yang mungkin sederhana, tetapi menyimpan makna yang lebih dalam ketika kita berhenti sejenak dan mencoba memahaminya.

Mungkin itu juga alasan mengapa sebuah lagu yang sama dapat memiliki arti yang berbeda bagi setiap orang. Ketika sebuah metafora bertemu dengan pengalaman hidup seseorang, kata-kata dalam lagu tersebut terasa jauh lebih dekat dan personal.

Jadi, lain kali ketika mendengarkan lagu rohani dan menemukan kata seperti "batu", "laut", "badai", atau "harapan", mungkin kita bisa berhenti sejenak dan bertanya:

Apa yang sebenarnya ingin digambarkan melalui kata itu?

Karena terkadang, makna sebuah lagu justru mulai terlihat ketika kita tidak hanya mendengarkan kata-katanya, tetapi juga mencoba memahami gambaran yang ada di baliknya.