Kenapa Standar Pacar Kita Naik Gara-Gara Drama Korea?

Mahasiswi Ilmu Komunikasi di salah satu perguruan tinggi Jawa Tengah
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Abigail Eilien Soesanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah nggak sih lihat di timeline postingan yang berisi seperti “Green flag bener karakter A, jadi pengen punya pacar kaya dia” atau “Standar pacarku jadi tinggi karena karakter B”? Kelihatannya biasa seperti candaan, tapi ada pertanyaan besar di belakangnya. Apakah benar tontonan yang dikonsumsi setiap malam benar-benar bisa mengubah cara seseorang memandang cinta?
Saat ini drama Korea sudah bukan sekadar tontonan biasa. Menurut survei Jakpat yang dilansir GoodStats (2025) menunjukkan bahwa 62% responden menonton drama Korea karena tertarik pada karakter yang ditampilkan, dan 58% lainnya mengaku daya tarik pemeran menjadi alasan utama mereka mengikuti sebuah drama. Artinya, yang membuat penonton bertahan bukan hanya jalan ceritanya, tetapi juga hubungan emosional yang terbangun dengan karakter di dalamnya.
Bagi sebagian penggemar, kedekatan itu bahkan terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Bangun tidur ditemani OST drama, makan siang sambil rewatch adegan favorit, malam menunggu episode terbaru menjadi rutinitas yang tidak asing lagi. Yang menarik dari fenomena ini bukan seberapa sering orang menonton drama saja, tetapi apa yang terjadi di dalam kepala selama itu berlangsung.
Ketika Karakter Fiksi Menjadi Teman Emosional
Pernah lihat seseorang merasa sedih bukan karena masalahnya sendiri, tetapi karena tokoh dalam drama baru saja mengalami masalah percintaan? Atau ikut deg-degan menunggu pengakuan cinta seorang karakter yang seharusnya tidak ada hubungannya dengan kehidupan nyata?
Kalau pernah, itu adalah pengalaman yang oleh para peneliti disebut sebagai interaksi parasosial. Interaksi parasosial adalah hubungan satu arah antara penonton dan karakter media. Meski karakter tersebut tidak benar-benar mengenal penontonnya, hubungan itu dapat terasa begitu nyata secara emosional.
Fenomena ini bukan sesuatu yang aneh atau memalukan. Ini adalah cara otak manusia memproses suatu cerita. Saat menonton drama penonton tidak hanya menjadi penonton pasif, otak tidak membedakan antara orang nyata dan karakter fiksi dalam hal respons emosional.
Penonton bisa ikut sedih, ikut senang, bahkan merasa seolah-olah terlibat langsung dalam cerita. Ini menjadi alasan perasaan itu menciptakan kedekatan tersendiri dengan karakter yang ditonton, meskipun karakter tersebut tidak pernah benar-benar ada.
Kedekatan emosional tersebut tidak muncul begitu saja. Semakin sering seseorang mengikuti perjalanan hidup seorang karakter, semakin besar peluang ia merasa mengenal, memahami, bahkan ikut merasakan apa yang dialami karakter tersebut.
Kesepian dan Kedekatan dengan Karakter Fiksi
Sebuah studi yang dilakukan Putri dan Basaria (2025) dari Universitas Tarumanagara melibatkan lebih dari empat ratus penggemar drakor di Indonesia menemukan hal yang cukup menarik. Semakin kesepian seseorang, semakin dalam pula keterikatan emosionalnya dengan karakter drama.
Bukan berarti semua penonton drakor adalah orang-orang kesepian. Namun, bagi sebagian orang drama Korea dapat menjadi ruang pelarian emosional yang memberikan rasa nyaman dan kedekatan ketika kebutuhan emosional tertentu belum sepenuhnya terpenuhi dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi sebagian penonton, karakter drakor bukan lagi sekadar tokoh dalam cerita. Mereka terasa seperti teman yang selalu hadir setiap minggu melalui episode-episode baru. Para peneliti menyebut pengalaman ini sebagai sense of companionship, yaitu perasaan memiliki kedekatan atau teman, meskipun hubungan tersebut hanya terjalin secara satu arah melalui media.
Dari Layar ke Ekspektasi Cinta
Tapi kedekatan emosional ini tidak hanya berhenti sekadar rasa nyaman, kedekatan emosional ikut membentuk cara seseorang menilai hubungan romantis di dunia nyata.
Sebuah penelitian oleh Syafrina, Permatasari, dan Dara (2016) dari Universitas Brawijaya yang melibatkan lebih dari seratus perempuan muda penggemar drama Korea menemukan adanya hubungan antara intensitas menonton drama Korea dengan keterikatan emosional terhadap karakter fiksi. Semakin dalam seseorang terlibat secara emosional dengan karakter drama, semakin tinggi pula ekspektasinya terhadap hubungan romantis di dunia nyata. Dalam psikologi, ekspektasi ini disebut romantic beliefs, yaitu keyakinan mengenai seperti apa hubungan romantis yang ideal seharusnya berjalan.
Salah satu alasan mengapa keyakinan ini dapat terbentuk adalah karena karakter dalam drama Korea memang dirancang untuk memikat penonton. Sosok laki-laki yang ditampilkan sering kali digambarkan tampan, mapan, penuh perhatian, peka terhadap perasaan pasangan, dan selalu hadir pada momen yang tepat. Mereka tampak mampu memahami pasangan tanpa harus banyak diberi tahu, rela berkorban, serta hampir selalu menemukan cara untuk menyelesaikan konflik secara romantis.
Karakter seperti ini tentu saja tidak hadir secara kebetulan. Mereka dibangun untuk membuat penonton merasa terhubung dan jatuh hati. Berbeda dengan manusia di dunia nyata yang memiliki banyak sisi kurang menyenangkan, karakter fiksi dibentuk melalui proses seleksi oleh penulis naskah.
Penonton hanya diperlihatkan sifat-sifat yang mendukung perkembangan cerita. Sisi yang kurang menarik biasanya disederhanakan, dipersingkat atau bahkan dihilangkan demi kebutuhan alur. Sementara kebiasaan sehari-hari yang mungkin membuat seseorang terlihat membosankan, mudah marah, atau mengecewakan sering kali tidak ditampilkan. Akibatnya karakter tersebut terasa seperti representasi pasangan yang nyaris sempurna.
Berbeda dengan karakter fiksi, pasangan di dunia nyata tidak memiliki penulis naskah yang mengatur setiap dialog dan alur cerita. Mereka bisa melakukan kesalahan, salah memahami perasaan pasangannya, atau tidak selalu tahu apa yang harus dikatakan pada situasi tertentu.
Justru ketidaksempurnaan itulah yang menjadi bagian dari hubungan antarmanusia. Namun, ketika seseorang terlalu sering terpapar gambaran hubungan yang ideal dalam cerita fiksi, persepsinya mengenai hubungan romantis dapat ikut terbentuk. Akibatnya, hubungan di dunia nyata terkadang terasa kurang memuaskan, bukan karena hubungan itu buruk tetapi karena pembandingnya adalah kisah yang memang dirancang untuk menjadi ideal di layar.
Antara Inspirasi dan Standar yang Tidak Realistis
Jadi, apakah menonton drama Korea adalah sesuatu yang keliru? Tentu tidak sesederhana itu.
Penelitian Putri dan Basaria (2025) dari Universitas Tarumanagara menunjukkan bahwa keterikatan emosional dengan karakter fiksi tidak selalu berdampak negatif. Dalam kadar yang wajar, karakter drama dapat menjadi sumber inspirasi. Mulai dari cara menghadapi konflik dengan tenang, memperlakukan orang lain dengan empati, hingga keberanian untuk memperjuangkan hal-hal yang dianggap penting.
Yang perlu dijaga bukanlah seberapa sering kita menonton drama Korea, melainkan bagaimana kita memaknainya. Sejak dahulu, manusia belajar melalui cerita. Jika dulu nilai-nilai kehidupan diwariskan lewat dongeng atau cerita rakyat, kini cerita itu hadir dalam bentuk serial yang dapat ditonton kapan saja lewat gawai.
Drama Korea mungkin tidak mengajarkan hubungan yang sempurna. Namun, drama Korea mampu mengingatkan kita akan kebutuhan yang manusiawi seperti ingin dicintai, dipahami, diterima, dan merasa terhubung dengan orang lain. Selama kita menyadari bahwa karakter di layar adalah hasil konstruksi cerita, inspirasi yang mereka berikan dapat menjadi sesuatu yang positif.
Pada akhirnya, bukan drama Korea yang menentukan cara kita memandang cinta, melainkan bagaimana kita menempatkan cerita tersebut dalam kehidupan nyata. Kisah di layar memang diciptakan untuk menyentuh emosi, tetapi hubungan yang sesungguhnya selalu dibangun oleh manusia yang sama-sama tidak sempurna.
Referensi
Jakpat. (2025). Korean drama trends in Indonesia 2025. GoodStats. https://goodstats.id/publication/korean-drama-trends-in-indonesia-2025-KZnxR
Putri, M. N., & Basaria, D. (2025). Hubungan antara loneliness dan interaksi parasosial pada penggemar K-Drama. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD FKIP Universitas Mandiri, 11(4), 371–380.
Putri, B. M. S., & Yatim, D. I. (2019). Parasocial interaction among young female devotees of Korean dramas. Anima, 34(4), 188–197. https://doi.org/10.24123/aipj.v34i4.2579
Syafrina, D., Permatasari, D. P., & Dara, Y. P. (2016). Parasosial dan romantic beliefs: Studi pada penonton serial drama Korea. Mediapsi, 2(2), 16–22. https://doi.org/10.21776/ub.mps.2016.002.02.3
