Ketika Layar Menulis Sejarah
Tulisan dari Indri Ariefiandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks. Di satu sisi, kemampuan literasi membaca masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah besar. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan kemampuan membaca pelajar Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara-negara OECD.
Di sisi lain, masyarakat Indonesia justru menjadi salah satu pengguna internet dan media sosial terbesar di dunia. Setiap hari, jutaan orang menghabiskan waktu berjam-jam menonton video pendek, film, serial televisi, dokumenter, maupun konten digital melalui berbagai platform.
Perubahan ini sesungguhnya menghadirkan pertanyaan yang jauh lebih penting daripada sekadar rendahnya minat membaca. Melalui medium apa generasi Indonesia kini belajar memahami sejarah, mengenal para pahlawan, memaknai identitas bangsa, dan membangun ingatan kolektifnya?
Jawabannya semakin jelas. Bagi sebagian besar generasi digital, layar telah menjadi ruang belajar yang paling dominan. Informasi tidak lagi datang terutama melalui buku pelajaran, melainkan melalui film, dokumenter, serial televisi, YouTube, media sosial, hingga platform streaming.
Dalam konteks inilah Indonesia memerlukan cara pandang baru terhadap audio visual. Film bukan lagi sekadar industri hiburan, tetapi telah menjadi instrumen pembentukan pengetahuan, identitas nasional, dan bahkan kedaulatan budaya.
Pergeseran Cara Manusia Belajar
Perubahan cara manusia memperoleh pengetahuan sebenarnya telah diprediksi puluhan tahun lalu.
Pada abad ke-20, buku merupakan medium utama pewarisan pengetahuan. Sekolah, perpustakaan, dan penerbit menjadi institusi yang menentukan bagaimana sejarah diwariskan kepada generasi berikutnya. Namun abad ke-21 menghadirkan lanskap yang berbeda. Kini masyarakat lebih dahulu melihat, mendengar, dan merasakan sebelum membaca. Visual bergerak menjadi bahasa utama kehidupan digital.
Fenomena ini tidak berarti budaya membaca kehilangan relevansinya. Sebaliknya, ia menunjukkan bahwa penyampaian pengetahuan harus mengikuti perubahan perilaku masyarakat. Ketika layar menjadi medium yang paling banyak dikonsumsi, maka sejarah bangsa juga harus mampu hadir melalui layar.
Perebutan Ingatan Kini Terjadi di Ruang Audio Visual
Sejarah tidak pernah sekadar kumpulan tanggal dan peristiwa. Sejarah adalah narasi yang membentuk cara suatu bangsa memahami dirinya sendiri.
Sosiolog Maurice Halbwachs menyebutnya sebagai collective memory atau ingatan kolektif. Ingatan masyarakat dibangun melalui institusi yang secara terus-menerus mereproduksi cerita mengenai masa lalu. Dahulu institusi tersebut didominasi keluarga, sekolah, dan buku. Kini media audio visual mengambil peran yang semakin besar.
Sejarawan Pierre Nora bahkan memperkenalkan konsep lieux de mémoire, yaitu ruang-ruang tempat memori suatu bangsa dipelihara. Pada era digital, ruang itu tidak lagi hanya berupa museum, arsip, atau monumen. Film, serial televisi, dokumenter, hingga platform digital telah menjelma menjadi ruang memori baru yang dikunjungi jutaan orang setiap hari.
Karena itu, perebutan narasi sejarah pada abad ke-21 sesungguhnya sedang berlangsung di layar.
Dunia Telah Memanfaatkan Film sebagai Penjaga Ingatan Bangsa
Banyak negara telah memahami perubahan tersebut.
Generasi muda di berbagai belahan dunia mengenal Holocaust bukan pertama kali melalui buku pelajaran, melainkan melalui Schindler's List. Tragedi nuklir Uni Soviet kembali menjadi perhatian dunia setelah serial Chernobyl ditayangkan. Minat publik terhadap sejarah Kerajaan Inggris meningkat melalui serial The Crown. Bahkan berbagai perdebatan mengenai tragedi 1965 di Indonesia memperoleh perhatian internasional setelah hadirnya dokumenter The Act of Killing.
Film-film tersebut tentu bukan pengganti penelitian sejarah. Namun ia berhasil menjadi pintu masuk yang membangkitkan rasa ingin tahu masyarakat. Audio visual menghadirkan wajah, suara, emosi, dan suasana zaman yang sulit dicapai hanya melalui teks.
Negara-negara besar juga memanfaatkan film sebagai instrumen soft power. Korea Selatan memperkenalkan sejarahnya melalui drama kolosal. Tiongkok secara konsisten memproduksi film bertema sejarah dan peradaban. Amerika Serikat membangun narasi nasional melalui Hollywood selama puluhan tahun. Inggris memanfaatkan serial televisi untuk memperkuat citra sejarah dan institusi monarkinya.
Mereka memahami bahwa siapa yang menguasai narasi budaya akan memiliki pengaruh yang jauh melampaui batas wilayahnya.
Indonesia Kaya Sejarah, Miskin Strategi
Ironisnya, Indonesia yang memiliki ribuan tahun sejarah justru belum memiliki strategi nasional untuk menjadikan audio visual sebagai instrumen literasi sejarah.
Padahal Nusantara menyimpan kekayaan narasi yang hampir tidak terbatas. Dari Sriwijaya dan Majapahit, Perang Diponegoro, Perang Aceh, perjuangan Cut Nyak Dhien, Pattimura, Sultan Hasanuddin, hingga sejarah lokal di setiap provinsi, semuanya merupakan sumber cerita yang bernilai tinggi.
Sebagian besar kisah tersebut masih hidup di ruang akademik, arsip, atau buku pelajaran yang hanya dibaca oleh kelompok tertentu. Sangat sedikit yang hadir dalam bentuk film, serial, dokumenter, atau konten digital berkualitas tinggi yang mampu menjangkau masyarakat luas.
Yang lebih mengkhawatirkan, Indonesia belum memiliki peta jalan yang jelas mengenai pengembangan film sejarah sebagai bagian dari kebijakan kebudayaan nasional. Produksi karya sejarah masih bergantung pada inisiatif individu, rumah produksi, atau proyek tertentu. Belum tampak sebuah ekosistem yang menghubungkan sejarawan, arsiparis, sineas, lembaga pendidikan, dan pemerintah dalam satu strategi yang berkesinambungan.
Saatnya Strategi Nasional Audio Visual Sejarah
Sudah saatnya Indonesia memandang audio visual sebagai bagian dari kebijakan strategis negara.
Strategi Nasional Audio Visual Sejarah bukan dimaksudkan untuk mengendalikan kreativitas atau menyeragamkan narasi sejarah. Sebaliknya, strategi ini bertujuan menciptakan ekosistem yang memungkinkan lahirnya karya-karya sejarah yang berkualitas, berbasis riset, menghargai kebebasan berekspresi, sekaligus memperkuat literasi publik.
Beberapa langkah yang dapat dipertimbangkan antara lain menyusun peta jalan produksi film sejarah nasional, memperluas akses sineas terhadap arsip dan sumber sejarah, memberikan insentif bagi produksi dokumenter dan film sejarah, memperkuat kolaborasi antara akademisi dan pelaku industri kreatif, serta mendukung distribusi karya-karya sejarah ke sekolah, komunitas, dan platform digital.
Dengan pendekatan seperti itu, negara tidak sedang menentukan isi cerita, melainkan membangun infrastruktur pengetahuan agar sejarah Indonesia dapat diceritakan oleh lebih banyak pembuat film dengan kualitas yang semakin baik.
Ketahanan Budaya Dimulai dari Narasi
Indonesia sedang memasuki bonus demografi dan menatap Indonesia Emas 2045. Dalam situasi tersebut, pembangunan tidak cukup hanya diukur melalui pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, atau kemajuan teknologi. Bangsa juga membutuhkan fondasi identitas yang kuat.
Ketahanan budaya pada abad ke-21 tidak lagi hanya ditentukan oleh banyaknya museum, arsip, atau buku sejarah yang dimiliki. Ia juga ditentukan oleh kemampuan suatu bangsa menghadirkan kisahnya sendiri di ruang digital yang menjadi konsumsi masyarakat setiap hari.
Apabila ruang itu tidak diisi oleh narasi Indonesia, maka ruang tersebut akan dipenuhi oleh narasi bangsa lain. Generasi muda akan lebih akrab dengan sejarah negara lain daripada sejarah bangsanya sendiri.
Pada akhirnya, membangun audio visual sejarah bukan semata membangun industri film. Ia adalah investasi jangka panjang untuk membentuk memori kolektif, memperkuat identitas nasional, meningkatkan literasi sejarah, dan memperbesar pengaruh budaya Indonesia di dunia.
Selama berabad-abad sejarah diwariskan melalui prasasti, naskah, dan buku. Pada abad ke-21, sejarah juga diwariskan melalui layar yang setiap hari berada di genggaman masyarakat. Karena itu, tantangan Indonesia bukan lagi sekadar memproduksi lebih banyak film, melainkan memastikan bahwa kisah bangsa ini hadir secara akurat, menarik, dan mudah diakses oleh generasi digital. Sebab bangsa yang mampu menguasai narasi di layar sesungguhnya sedang membangun masa depannya.

