Konten dari Pengguna

Ketika Pulang Tak Lagi Sama: Mengungkit Luka dalam Lagu “Sesi Potret”

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari anabel miraclelia porayo karundeng tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seseorang duduk di atas rel kereta dengan kepala tertunduk, menciptakan suasana tenang dan penuh perenungan. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Seseorang duduk di atas rel kereta dengan kepala tertunduk, menciptakan suasana tenang dan penuh perenungan. Foto: Pixabay

Ada banyak alasan yang membuat seseorang menunda pulang. Pekerjaan, keadaan ekonomi, jarak, hingga keinginan untuk pulang ketika sudah membawa sesuatu yang bisa dibanggakan. Namun, waktu tidak selalu menunggu kita siap. Hal inilah yang terasa begitu kuat dalam lagu “Sesi Potret” karya eńau bersama Ari Lesmana, yang mengangkat kisah tentang kehilangan dan penyesalan ketika seseorang akhirnya pulang, tetapi orang yang ingin ditemuinya sudah lebih dulu pergi.

Bagi sebagian orang, pulang adalah sesuatu yang bisa dilakukan kapan saja. Hari ini belum bisa, mungkin bulan depan. Tahun ini belum sempat, mungkin tahun depan.

Kita sering merasa masih memiliki waktu.

Masih ada kesempatan untuk bertemu.

Masih ada hari lain untuk mendengarkan cerita mereka.

Masih ada kesempatan untuk mengucapkan hal-hal yang selama ini tertahan.

Namun, “Sesi Potret” membawa kita pada kenyataan bahwa tidak semua orang akan menunggu kita pulang.

Ketika Kesuksesan Datang Terlambat

Ada ironi yang terasa kuat dalam cerita lagu ini.

Seseorang bekerja keras.

Menahan rindu.

Menunda pulang.

Bukan karena tidak ingin bertemu, tetapi karena merasa belum memiliki cukup alasan untuk pulang dengan bangga.

Mungkin ia ingin pulang ketika hidupnya sudah lebih baik.

Ketika penghasilannya sudah cukup.

Ketika tangannya sudah membawa sesuatu untuk orang-orang yang menunggunya.

Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan waktu yang kita rencanakan.

Saat ia akhirnya siap untuk pulang, orang yang ingin ditemui sudah tidak lagi berada di sana.

Yang tersisa hanyalah penyesalan.

Karena ternyata, waktu bersama seseorang tidak bisa digantikan oleh apa pun yang berhasil kita bawa pulang.

Siluet seseorang mendorong benda besar di tengah suasana matahari terbenam dengan langit berwarna jingga. Foto: Pixabay

Hal-Hal Kecil yang Baru Terasa Berarti Setelah Hilang

Salah satu bagian yang membuat “Sesi Potret” terasa begitu dekat adalah caranya mengingat hal-hal sederhana.

Ocehan.

Wewangian khas.

Susunan keluarga ketika berfoto bersama.

Hal-hal yang mungkin dulu terasa biasa saja, bahkan terkadang dianggap mengganggu.

Namun setelah seseorang pergi, justru detail-detail kecil itulah yang paling dirindukan.

Sesi foto keluarga yang dulu mungkin terasa membosankan, tiba-tiba berubah menjadi pengingat bahwa ada satu posisi yang kini tidak lagi terisi.

Susunan barisannya tidak sama lagi.

Dan tidak akan pernah benar-benar sama.

Lagu ini menggunakan momen sederhana untuk menunjukkan satu hal yang jauh lebih besar: kehilangan tidak selalu terasa melalui hal-hal besar. Terkadang, kehilangan justru terasa ketika kita menyadari bahwa tidak akan ada lagi suara yang dulu sering kita abaikan.

Foto hitam putih yang menampilkan senyum seseorang secara dekat, dengan rambut terurai di sekeliling wajah. Foto: Pixabay

Kata yang Terlambat Diucapkan

Ada kalanya kita terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaan kepada orang terdekat.

Kita merasa tidak perlu mengatakan bahwa kita sayang.

Tidak perlu meminta maaf.

Tidak perlu berterima kasih.

Karena kita berpikir mereka sudah tahu.

Kita berpikir masih ada besok.

Masih ada kesempatan berikutnya.

Namun, “Sesi Potret” seperti mengingatkan bahwa tidak semua kata bisa terus ditunda.

Ada kalimat yang mungkin baru ingin kita ucapkan ketika orangnya sudah tidak lagi bisa mendengarnya.

Dan pada saat itulah, penyesalan menjadi jauh lebih berat.

Bukan karena kita tidak pernah mencintai mereka.

Tetapi karena kita tidak sempat membuat mereka mendengar bahwa kita mencintainya.

Belajar Ikhlas Ketika Tidak Ada Jalan untuk Kembali

Kehilangan mungkin menjadi salah satu pengalaman yang paling sulit diterima manusia.

Kita bisa terbiasa dengan jarak.

Kita bisa menunggu seseorang pulang.

Kita bahkan bisa memperbaiki hubungan yang sempat rusak.

Namun, ada kehilangan yang tidak memberikan kesempatan kedua.

Tidak ada pesan yang bisa dibalas.

Tidak ada perjalanan pulang yang bisa mengembalikan waktu.

Tidak ada kata maaf yang bisa mengulang kesempatan.

Yang tersisa hanya kenangan.

Dan mungkin sebuah foto.

Sebuah sesi potret yang membekukan satu momen, sementara orang-orang di dalamnya perlahan berubah.

Ada yang tumbuh.

Ada yang pergi.

Dan ada yang akhirnya hanya bisa dikenang.

Sebelum Semuanya Menjadi Kenangan

Mungkin itulah yang membuat lagu “Sesi Potret” terasa begitu menyentuh.

Bukan hanya karena berbicara tentang kehilangan.

Tetapi karena lagu ini berbicara tentang penyesalan yang mungkin diam-diam menjadi ketakutan banyak orang: terlambat.

Terlambat pulang.

Terlambat meminta maaf.

Terlambat mengatakan terima kasih.

Terlambat mengatakan bahwa kita sayang.

Kita terlalu sering menunggu waktu yang tepat.

Menunggu keadaan membaik.

Menunggu kesuksesan datang.

Padahal, waktu bersama orang-orang yang kita cintai tidak selalu bisa menunggu.

Dan mungkin, sebelum suatu hari kita hanya bisa melihat sebuah foto lama sambil menyadari bahwa susunan barisannya sudah tidak sama lagi, ada beberapa hal yang seharusnya kita lakukan hari ini.

Pulang.

Memeluk.

Mendengarkan.

Atau sekadar mengatakan:

“Terima kasih sudah ada.”

Karena pada akhirnya, mungkin yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan seseorang.

Melainkan menyadari bahwa kita sebenarnya masih punya waktu, tetapi memilih untuk menundanya.