Lagu-lagu Indonesia Makin Digemari, Pesona K-Pop dan Barat Meredup
·waktu baca 6 menit

Tiap orang punya selera musik atau music taste yang beragam, mulai dari genre hingga negara asal lagu yang didengarkan. Ada yang lebih suka musik Indonesia, barat, hingga korean pop (K-Pop).
Untuk melihat gambaran preferensi musik di Tanah Air, kumparan menelusuri lagu dan musisi asal negara mana saja yang paling digandrungi masyarakat dari tahun ke tahun. Kami mengumpulkan data Top 50 Artists dan Top 50 Songs dari basis data Spotify.
Data 50 Top Artists yang dianalisis mencakup periode November 2021 hingga Mei 2026, sedangkan data Top 50 Songs mencakup periode yang lebih panjang, yaitu dari Januari 2017 hingga Mei 2026. Seluruh data tersebut kemudian diolah menggunakan bahasa pemrograman Python.
Karena data asli berbasis harian (daily) sangat masif dan pergerakannya tidak berubah drastis setiap hari, kami melakukan penyederhanaan. Kami mengambil sampel data mingguan, tepatnya di setiap awal bulan, untuk menangkap tren besar secara lebih efektif.
Lantas, seperti apa temuannya?
Lagu Indonesia Salip Lagu AS
Temuan kumparan menunjukkan bahwa lagu milik musisi Indonesia berhasil merajai tangga lagu pada Agustus 2018. Meski sempat disalip kembali oleh lagu asal Amerika Serikat (AS) pada April 2019, tren pendengar musik Indonesia setelahnya terus melesat.
Padahal sebelumnya, kiblat musik pendengar di Tanah Air didominasi oleh karya musisi AS. Sebagai gambaran, pada Agustus 2017, lagu dari musisi AS mendominasi dengan 23 lagu di Top 50 Songs Spotify, namun per Mei 2026 jumlahnya merosot tajam hingga 87 persen, menyisakan 3 lagu saja.
Sementara itu, lagu Indonesia yang bertengger di Top 50 Songs Spotify naik lebih dari 10 kali lipat. Pada Januari 2017 hanya ada 4 lagu lokal di Top 50 Songs Spotify, per 1 Mei 2026 jumlahnya melesat menjadi 42 lagu.
Kami juga merangkum musisi yang lagunya paling sering masuk 50 Top Songs Spotify sejak Januari 2017 hingga Mei 2026. Hasilnya, 10 besarnya diisi musisi asal Indonesia. Terbanyak adalah Hindia yang 143 kali masuk chart. Disusul Tulus sebanyak 117 kali, Pamungkas 100 kali, mahalini 98 kali, dan Juicy Luicy 92 kali.
Namun perlu diingat, angka-angka di atas merupakan penyederhanaan dari dailly chart yang diambil di awal bulan saja. Angkanya tentu saja akan lebih besar bila benar-benar dihitung secara harian.
Senada dengan data Top 50 Songs Spotify, kami juga mendapati bahwa musisi asal Indonesia juga perkasa saat dilihat menurut Top 50 Artists Spotify. Pada November 2021, ada 22 musisi Indonesia yang masuk Top 50 Artists Spotify. Kemudian pada Mei 2026, jumlah musisi Indonesia yang masuk dalam tersebut meningkat menjadi 36.
Teknologi Informasi Membuat Lagu Indonesia Berjaya
Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, Prof Manneke Budiman, menyebut fenomena ini tak terlepas dari pengaruh terbukanya akses informasi yang berperan untuk memviralkan lagu-lagu Indonesia.
"Jelas yang nomor satu berperan itu adanya teknologi komunikasi dan media digital, TikTok, YouTube, Spotify gitu ya, yang ikut membantu sebetulnya untuk mengglobalkan, untuk memviralkan musik Indonesia. Dan kemudian ternyata direspons dengan sangat positif oleh netizen tidak hanya di Indonesia tapi juga di berbagai negara di dunia," terang Manneke saat dihubungi kumparan, Kamis (4/6).
Manneke menyebut medsos memangkas modal materil musisi agar bisa dikenal, sehingga musisi baru turut bermunculan. Selain itu, medsos juga membantu para talenta potensial unjuk gigi menampilkan bakatnya.
Tak hanya soal exposure, kata Manneke, media sosial atau medsos turut meningkatkan kepercayaan diri musisi Indonesia untuk berkarya. Apresiasi ke musisi, kata dia, dilihat secara langsung dan meluas dengan mudah.
Manneke lalu menyoroti fenomena maraknya musik koplo yang dipadukan dengan aliran musik lain. Manneke menilai, musik koplo punya tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia sekaligus mendongkrak kemunculan aliran musik baru.
Semakin banyak penyanyi yang kemudian masuk ke wilayah koplo. Bahkan lagu-lagu rohani pun saya lihat sebagian itu bisa juga sudah di-koplo-kan. Kenikmatannya dari situ, karena orangnya juga bisa ikut bergoyang."
- Manneke Budiman, Guru Besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI
"Mereka [koplo] juga terbuka untuk bisa dilintas genre, dikawinsilangkan antargenre. Yang tidak [dipadukan] itu juga akan terasa, kemudian tidak akan punya terlalu banyak penggemar [musik] yang serius sekali gitu," tambahnya.
Ia menegaskan bahwa meningkatnya pamor musik Indonesia di dalam negeri bukan karena musik barat yang melemah. Musik barat tetap kuat di negaranya sendiri dan di negara-negara lain. Namun, di Indonesia, masyarakat semakin banyak mendengarkan musik dari negaranya sendiri.
"Karena algoritmanya [musik Indonesia] naik. Dan akibatnya algoritma para penikmat musik barat itu juga turun gitu. Jadi kira-kiranya begitu," ucapnya.
Pesona K-Pop Meredup
Gelombang musik asal Korea Selatan (Korsel) sempat menggema di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Temuan kami menunjukkan ada penurunan jumlah musisi asal Korsel di Top 50 Artists Spotify Indonesia.
Pada November 2021, ada 8 musisi Korsel yang masuk jajaran Top 50 Artists. Popularitas musisi asal Korsel mencapai puncaknya pada bulan tersebut dan pada Desember 2021. Namun, pada Mei 2026 hanya ada 1 musisi.
Adapun 8 musisi Korsel yang bertengger di Top 50 Artists pada November 2021 adalah BTS, Blackpink, LeeHi, JEON SOMI, TWICE, NCT DREAM, dan SEVENTEEN. Sementara 3 musisi Korsel yang bertengger di Top 50 Artists pada Mei 2026 hanya BTS
Menurut dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Indonesia (UI), Zaini, turunnya tren musik asal Korsel di Indonesia tak terlepas dari sifat budaya populer yang tak bisa prediksi secara stabil. Sebelumnya, gelombang budaya populer korea (hallyu) muncul karena gencarnya promosi.
"Misalnya juga kita lihat media sosial juga yang terus banyak mempromosikan, terus juga dari pihak Korea sendiri juga dengan gencar lewat pendekatan soft power. Nah, ini akhirnya kan orang istilahnya mau nggak mau ikut terbawa arus," terangnya saat dihubungi kumparan, Kamis (4/6).
Zaini juga melihat ada perubahan perilaku pendengar musik Korsel. Hal ini tak terlepas dari perasaan 'jenuh' generasi sekarang terhadap lagi-lagu asal Korsel.
"Kalau saya sih melihat kejenuhan ya dari penikmat musik itu. Gen Z ataupun generasi yang sekarang sedang misalnya mencari hal-hal, sesuatu yang lebih menarik," ungkapnya.
"Ini yang kalau saya lihat tren yang mungkin mereka sedang mencari-cari apa nih yang lebih (baru) untuk dinikmati? Kalau yang gitu-gitu saja ya mereka monoton, karena kalau yang namanya lagu berulang kali diputar dalam waktu yang terus-menerus pasti ada kejenuhan," tambahnya.
Kita lihat karakter Korea itu kan hampir sama gitu ya secara karakter, ya mungkin cuma grup-grup yang berbeda. Nah ini yang pada akhirnya orang melihat 'wah cuma gini-gini saja'."
- Zaini, dosen Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea UI
Maka, menurutnya, industri musik Korsel perlu melakukan terobosan yang lebih kreatif agar dapat menggaet kembali pasarnya.
