Laras Suara Paviliun Indonesia di Nada Minor Venice Biennale 2026

Penulis, Pemerhati Budaya dan Gaya Hidup
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Indah Ariani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teks: Indah Ariani, Foto: Dok. Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026/Adhya Ranadireksa
Paviliun Indonesia di Biennale Venesia 2026 hadir dengan kejutan
konsep kuratorial yang lantang, namun dalam dan tenang, selaras dengan tema besar yang ditawarkan.
Pada gelarannya yang ke-61, Biennale Venesia yang dikuratori mendiang Koyo Kouoh menawarkan sebuah tema kuratorial yang terasa sendu, "In Minor Keys." Dalam musik, nada minor acap dianggap menggambarkan suasana yang asing karena bunyinya yang menyempal dari nada-nada mayor. Kunci minor juga sering diidentikkan dengan suasana janggal, melankolik dan penuh duka. Namun dalam seni rupa, Kouoh justru mengajak para partisipan untuk juga menangkap kegembiraan, penghiburan, harapan dan transendensi yang juga ada dalam nada-nada minor tersebut.
Tema yang ditawarkan Kouoh ini memberi jalan bagi kurator Paviliun Indonesia, Aminudin T. H. Siregar untuk menghadirkan "Printing the Unprinted". Tema ini secara cerdas dan jenaka mengantar narasi mengenai pelayaran fiktif abad ke-15, yang terinspirasi dari sebuah manuskrip yang dikaitkan dengan arsiparis imajiner Datu Na Tolu Hamonangan dari Harajaon Pusuk Buhit, sebuah kerajaan di Sumatra yang dikenal atas kemajuan dalam teknologi maritim, astronomi, perdagangan, tata pemerintahan, dan kesenian. Ia membalik kisah penemuan benua Asia yang selama ini didominasi oleh kisah perjalanan para penemu dari Utara, negara-negara Barat, menjadi sebuah kisah fiktif tentang manuskrip pelayaran agung yang dilakukan oleh seorang arsiparis bernama Datu Na Tolu Hamonangan dari Harajaon Pusuk Buhit, sebuah kerajaan di Tanah Batak, Sumatera.
Dalam kisah ini, Harajoan Pusuk Buhit digambarkan sebagai sebuah kerajaan pada abad itu telah mengalami kemajuan dalam teknologi maritim, astronomi, perdagangan, tata pemerintahan, dan kesenian. Pelayaran yang memakan waktu selama 14 tahun (1472–1486) itu dimulai dari Danau Toba dan melintasi pesisir barat Sumatra, Malaka, Teluk Benggala, Gujarat, Hormuz, Laut Merah, Alexandria, Venesia, hingga Eropa Tengah. Perjalanan ini direpresentasikan melalui tiga kapal simbolis: Siboru Deak Parujar, Dewi Pencipta Batak sekaligus kapal induk; Naga Padoha, Sang Ular Kosmis sebagai kapal pengawal; dan Sahala ni Ombak, Roh Ombak yang didedikasikan bagi penemuan ilmiah.
Proses Residensi yang Menghangatkan Hati
Paviliun Indonesia yang berlokasi di Scuola Internazionale di Grafica Venezia ini mengajak tujuh seniman — Agus Suwage (67), Syarizal Pahlevi (61), Nurdian Ichsan (55), R.E. Hartanto (53), Theresia Agustina Sitompul (45), Mariam Sofrina (43), dan Rusyan Yasin (32) — untuk merespon konsep kuratorial tersebut. Para seniman tak hanya diundang untuk merespon sebuah tema, namun juga terlibat dalam serangkaian proses berkarya yang berfokus pada praktik seni grafis yang sama sekali baru untuk sebagian seniman. Dari tujuh seniman itu, hanya Theresia dan Syahrizal yang memang menekuni seni grafis. Lainnya datang dengan fokus pada seni lukis, juga keramik.
Masing-masing seniman merespon sebuah sebuah bagian perjalanan dan menciptakan tiga buah plat yang berkisah tentangnya. Kopi pertama dari hasil cetak plat yang mereka gambari tentang perjalanan tersebut, dirangkai menjadi sebuah manuskrip yang terasa inggil disusun dalam kotak kayu besar dengan tutup berwarna marun dan tulisan berwarna kuning yang akan segera melayangkan ingatan kita pada bendera Republik Venesia yang pernah berdiri dan berkuasa hingga akhir abad ke-18, tepatnya 1797.
Selain ketiga plat yang menjadi karya utama untuk "Printing the Unprinted", para seniman yang mendapat mentoring seni grafis dari Roberta Feoli, printmaking master dari Scuola Internazionale di Grafica Venezia juga membuat karya-karya lain yang diletakkan di luar ruang pamer utama.
Proses pembuatan karya-karya tersebut, meninggalkan kesan mendalam bagi Roberta. Dalam banyak percakapan, Roberta, dengan mata yang akan segera berkaca-kaca tak bosan-bosan menceritakan betapa ia merasa hangat dan haru tiap kali melihat interaksi para seniman Indonesia yang berproses bersamanya. "Mereka selalu saling bantu dan tak segan berbagi ruang. Hal yang sangat jarang saya jumpai dari banyak residensi yang berlangsung di Scuola. Kebanyakan seniman biasanya akan sangat tenggelam dalam proses mereka sendiri dan sangat enggan berbagi ruang, apalagi saling membantu. Kebersamaan dan kerjasama yang saya lihat dalam interaksi para seniman Indonesia sungguh mengharukan," kata Roberta. Ia melihat para seniman Indonesia bagai sebuah keluarga yang saling menjaga. "Padahal di Indonesia mereka semua sudah punya nama dan reputasi besar," katanya lagi.
Menanggapi komentar Roberta itu, salah seorang seniman, R. E. Hartanto mengatakan bahwa sejatinya, kebersamaan itu antara lain terbangun berkat sebuah pesan dari Roberta yang disampaikannya di awal masa residensi. "Roberta mengatakan pada kami, terutama seniman yang tidak menekuni printmaking, bahwa dalam seni cetak, kerjasama menjadi salah satu kunci penting yang harus dipegang oleh setiap seniman. Berbeda dengan melukis, di mana saya dan kawan-kawan lain terbiasa bekerja sendiri, printmaking akan selalu membutuhkan bantuan langsung dari orang lain. Misalnya, ketika plat sudah selesai digarit dan poleskan warna, lalu kami harus menempelkannya pada kertas sementara tangan kami masih penuh cat, maka, mau tak mau, kami perlu meminta bantuan orang lain untuk melakukannya. Dalam praktiknya, memang demikian yang terjadi. Tak hanya dalam urusan mengambil kertas, tapi juga hal-hal lain," Hartanto mengatakan.
Berbentuk kerjasama kolaboratif antara Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dan Scuola Internazionale di Grafica di Venezia, kegiatan di Paviliun Indonesia ini mencakup pameran, residensi, diskusi, lokakarya, dan simposium.
Atensi Besar dari pencinta seni mancanegara.
Pengunjung yang datang melihat pameran terus bergulir sejak hari pertama pembukaan pada Kamis (7/5/26) hingga memasuki pekan keempat penyelenggaraannya. Tak jarang tim kerja paviliun harus memberi toleransi waktu agar beberapa pengunjung yang kebetulan datang bertepatan dengan waktu tutup pameran untuk melihat karya-karya tujuh seniman di dalam ruang pamer.
Para pengunjung dengan antusias berbincang dan mengajukan berbagai pertanyaan pada kurator paviliun dan tujuh seniman partisipan pameran yang diadakan di Scuola Internazionale di Grafica Venezia. Narasi kuratorial yang diangkat dari kisah fiksi pelayaran seorang arsiparis bernama Datu Na Tolu Hamonangan dari Harajaon Pusuk Buhit, sebuah kerajaan di Tanah Batak yang direspon para seniman, sering dianggap sebagai sebuah fakta sejarah oleh pengunjung.
Agnes Poignant, pengunjung dari Prancis, adalah salah seorang yang sempat mengira bahwa karya-karya yang ada di Paviliun Indonesia dibuat berdasarkan fakta sejarah. Ketika diberi tahu bahwa kisah Datu Na Tolu Hamonangan berikut jalur pelayaran besar tersebut adalah fiksi rekaan yang dilandasi pembalikan kisah dan jalur pelayaran Marco Polo, Agnes merasa makin menemukan daya tarik yang dalam karya-karya yang dilihatnya, karena artinya, para seniman berhasil menuangkan rekaan sejarah tersebut menjadi gambar-gambar kuat serupa yang mereka buat.
Lain lagi dengan Alicia, seorang kurator dan galeris dari Argentina. Ia begitu terpesona dengan karya-karya grafis serta proses pengkaryaan yang didengarnya dari Lorenzo de Castro, direktur Scuola Inetrnazionale di Grafica Venezia. Proses printmaking yang dilakukan para seniman Indonesia, menurut Alicia yang hingga lebih dari satu kali berkunjung ke Paviliun Indonesia, merupakan bentuk pemurnian, karena karya seni yang dihasilkan seperti dipulangkan ke bentuknya yang paling hakiki.
Berbagai pendapat lain juga dilontarkan baik secara lisan kepada kurator dan para seniman, maupun melalui tulisan yang ditorehkan pada buku pesan yang disediakan di meja registrasi. Perjalanan Paviliun Indonesia di Venice Biennale ke-61 yang akan berlangsung hingga 22 November 2026 ini baru melalui pekan-pekan pertamanya. Masih akan ada setidaknya 24 pekan lagi yang harus dilalui.
Ketika para seniman dan kurator Paviliun Indonesia yang telah berada di Venesia sejak April 2026 silam untuk menjalani residensi dan berproses bersama mencipta karya kembali ke tanah air pada 31 Mei 2026 ini, karya-karya mereka akan mulai menjalani hari-harinya bertemu pengunjung bersama keluarga besar Scuola Grafica dan dua pengampu pameran, Nadia dan Eko, dua warga Indonesia yang bermukim di Venesia. Serupa anak-anak yang dititipkan di asrama oleh para orang tua, karya-karya dalam Printing the Unprinted akan berdiam sendiri, melewati masa di mana mereka harus mempertahankan diri dengan segenap kekuatan yang dimilikinya.
Namun, seperti anak-anak yang dirawat dan dibesarkan dalam kasih sayang, karya-karya seniman di Paviliun Indonesia yang dibuat penuh cinta dalam kebersamaan dan kerjasama yang baik serta rasa bungah untuk mewakili bangsa di Venice Biennale, pameran seni dua tahunan tertua di dunia itu, karya-karya itu tentu akan dengan gagah dan berani menjumpai setiap pengunjung. Dalam diam, mereka, karya-karya itu, pasti akan dengan bangga menghantarkan cinta dan rasa bungah para seniman yang membuatnya. Laras suara di Nada Minor yang sejak saat pertama karya-karya itu dipamerkan untuk publik telah berhasil menyihir dan membawa masuk para pengunjung untuk turut serta dalam pelayaran agung dalam manuskrip Printing the Unprinted.
