Konten dari Pengguna

Manusia Emas yang Gagal Masuk Smelter

Syarifudin Brutu

Syarifudin Brutu

Mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra indonesia, universitas syiah kuala

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syarifudin Brutu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi manusia Silver dan manusia Emas
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi manusia Silver dan manusia Emas

Matahari menggantung di langit seperti bohlam kuning yang hampir putus, menyinari debu-debu nikel yang menari di atas aspal perempatan jalan. Di sana, di bawah lampu merah yang durasinya lebih lama daripada masa depan rakyat kecil, berdirilah dua monumen kegagalan negara: Si Perak dan Si Emas.

​Si Perak sedang sibuk menggaruk selangkangannya yang mulai iritasi karena cat semprot murah merk "Hilirisasi Jaya". Di seberangnya, Si Emas—saingan sekaligus kawan senasib—sedang melakukan pose teatrikal; seolah-olah dia adalah pahlawan yang baru keluar dari lubang tambang, padahal dia cuma sarjana yang keluar dari lubang jarum birokrasi.

​"Woy, Perak! Jangan loyo begitu! Tegakkan badanmu! Kau itu representasi Generasi Emas! Walaupun emasmu cuma cat semprot yang kalau kena hujan jadi warna tahi ayam, kau tetap harus terlihat mahal!" teriak Si Emas sambil menyodorkan kotak plastik bekas es krim ke arah kaca mobil mewah yang lewat.

​Si Perak meludah, dan ludahnya mendarat tepat di atas nisan imajiner pendidikan tinggi. "Mahal kepalamu! Aku ini sarjana pendidikan, Mas. Dulu aku diajari cara mengelola kelas, sekarang aku cuma ahli dalam mengelola rasa lapar. Kau tahu apa yang lebih sarkas dari kebijakan pemerintah? Ijazah kita! Teksturnya pas sekali untuk alas tidur di emperan toko, atau kalau sedang sial, bisa dipakai untuk bungkus gorengan agar minyaknya meresap ke dalam nilai IPK kita yang cumlaude itu."

​Mereka berdua tertawa terbahak-bahak. Tawa yang terdengar seperti suara besi berkarat yang dipaksa bergesekan.

​"Ingat kata Pak Sekjen tahun 2026 dulu?" Si Emas menimpali sambil bergaya ala orator ulung. "'Guru itu oversupply! Terlalu banyak orang pintar mengajar, tapi tidak ada yang pintar mencangkul nikel!' Wah, jenius sekali itu! Beliau memang nabi bagi para penyembah alat berat. Menutup prodi pendidikan adalah langkah paling religius yang pernah ada. Sebab, jika sekolah tetap ada, anak-anak akan belajar cara membaca grafik penindasan. Tapi kalau sekolah diganti jadi kamp pelatihan budak, mereka hanya perlu belajar satu kata: Siap, Juragan!"

​Di negeri ini, pendidikan telah dikategorikan sebagai tindakan subversif. Barangsiapa yang ketahuan mengajarkan logika dasar selain cara mengoperasikan ekskavator, akan dianggap sebagai teroris stabilitas ekonomi.

​"Benar juga," Si Perak menyeka keringat metaliknya. "Pemerintah kita itu sangat baik hati, Mas. Mereka tidak mau kita berdosa karena menganggur. Makanya, mereka sengaja membuat kita tetap bodoh. Logikanya kan brilian: kalau kau tidak belajar, kau tidak akan pintar. Kalau kau tidak pintar, kau tidak akan punya standar hidup tinggi. Dan kalau kau tidak punya standar, kau tidak akan menuntut lowongan kerja! Jadi, pengangguran itu sebenarnya salah kita sendiri: kenapa kita dulu lancang ingin punya otak?"

​Sebuah mobil dinas lewat, kacanya terbuka sedikit, menampakkan seorang pejabat yang sedang asyik menghitung tumpukan uang sambil mendengarkan lagu kebangsaan. Si Emas mendekat, melakukan gerakan "hormat budak". Si Pejabat melemparkan sekeping koin, lalu berkata, "Teruslah berkilau, Nak. Kalian adalah bukti suksesnya hilirisasi manusia!"

​Si Emas memungut koin itu, menciumnya, lalu menatap Si Perak dengan mata yang nyaris menangis namun dipaksa tertawa. "Lihat, Perak! Kita dihargai! Kita bukan lagi manusia, kita adalah komoditas! Dompet mereka harus bengkak sampai mau pecah, sementara kepala kita harus dikosongkan sampai bergema kalau diketuk. Di negeri 2045, satu-satunya cara untuk selamat adalah dengan menjadi benda mati. Karena benda mati tidak butuh makan, tidak butuh keadilan, dan yang paling penting: tidak butuh guru."

​"Sarkasmu terlalu tajam, Mas," bisik Si Perak. "Nanti kalau didengar drone pemantau relevansi, kita bisa disemprot cat hitam dan dianggap limbah B3."

​"Biar saja!" Si Emas berteriak ke langit yang mendung. "Biarlah kita jadi limbah! Toh, di negeri yang menyembah nikel ini, emas yang murni itu hanya yang digali dari tanah, bukan yang tumbuh dari pikiran. Mari kita rayakan hari ini, hari di mana ijazah kependidikan resmi menjadi surat izin untuk meminta-minta di lampu merah!"

​Lampu berubah hijau. Kendaraan-kendaraan menderu, melindas bayangan kedua manusia logam itu. Mereka tetap di sana, mematung, menjadi saksi bisu bagi sebuah bangsa yang lebih memilih mengisi perut dengan hasil kerokan bumi daripada mengisi kepala dengan cahaya budi.

​Goblok? Oh, tentu tidak. Ini adalah puncak peradaban. Di mana manusia telah berhasil berevolusi menjadi logam, agar pas dengan mesin-mesin industri yang telah lama menggantikan posisi Tuhan.