Maudy Ayunda, Fans, dan Cancel Culture

Peneliti Independen, Alumni Magister Kajian Budaya dan Media UGM.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kontroversi yang melibatkan Maudy Ayunda dan respons warganet terhadap konten yang dianggap tidak sensitif terhadap realitas sosial memperlihatkan fenomena yang semakin lazim dalam budaya digital, yaitu cancel culture. Pada umumnya, cancel culture dilakukan fans ketika figur publik tidak memenuhi standar moral yang dibangun oleh audiensnya.
Di media sosial, seorang publik figur dapat dipuji sebagai sosok inspiratif pada satu waktu, tetapi kemudian dikritik, ditinggalkan, bahkan didorong untuk dibatalkan pada waktu yang lain. Perubahan tersebut dapat berlangsung sangat cepat. Dalam konteks ini, fenomena cancel culture terhadap Maudy Ayunda menarik untuk dilihat bukan semata-mata sebagai persoalan antara seorang selebritas dan warganet, melainkan sebagai persoalan mengenai hubungan antara figur publik, penggemar, identitas, dan kekuasaan di ruang digital.
Salah satu perspektif yang dapat digunakan untuk membaca fenomena tersebut adalah kajian fan culture.
Dalam kajian budaya populer, Henry Jenkins melalui Textual Poachers (1992) menunjukkan bahwa penggemar bukanlah konsumen yang pasif. Mereka secara aktif memproduksi, menafsirkan, mendiskusikan, dan memberikan makna terhadap objek budaya yang mereka konsumsi.
Penggemar tidak hanya menikmati seorang figur publik. Mereka juga membangun narasi mengenai siapa figur tersebut dan nilai-nilai apa yang dianggap melekat padanya.
Dalam kasus figur seperti Maudy Ayunda, misalnya, publik dapat membangun citra mengenai seorang perempuan muda yang cerdas, berpendidikan, sukses, mandiri, dan inspiratif. Citra tersebut kemudian menjadi bagian dari identitas publiknya.
Persoalannya, citra seorang figur publik tidak sepenuhnya berada di tangan figur tersebut. Audiens juga memiliki peran dalam membentuk dan mempertahankannya.
Akibatnya, ketika seorang figur publik melakukan sesuatu yang dianggap tidak sesuai dengan citra yang telah dibangun, reaksi audiens dapat menjadi sangat emosional.
Kekecewaan tersebut bukan hanya berbunyi, "Saya tidak menyukai konten ini." Lebih jauh, ia dapat berubah menjadi, "Saya tidak menyangka Maudy melakukan hal seperti ini."
Melihat perbedaan keduanya amatlah penting. Kalimat kedua menunjukkan adanya ekspektasi mengenai siapa Maudy "seharusnya".
Di sinilah hubungan antara penggemar dan figur publik menjadi lebih kompleks.
Ketika Kekaguman Berubah menjadi Rasa Memiliki
Cornel Sandvoss dalam Fans: A Study of Consumer Culture and Popular Culture (2005) menjelaskan bahwa fandom berkaitan dengan hubungan refleksif antara penggemar dan objek yang mereka konsumsi. Objek fandom dapat menjadi bagian dari cara seseorang memahami dan mengekspresikan dirinya.
Dengan demikian, hubungan penggemar dengan figur publik tidak semata-mata bersifat konsumtif. Di dalamnya terdapat investasi emosional dan identitas.
Ketika seseorang telah mengikuti seorang figur publik selama bertahun-tahun, mengetahui perjalanan hidupnya, mengikuti pemikirannya, dan mengidentifikasi diri dengan nilai-nilai yang dianggap dibawanya, figur tersebut dapat terasa seperti bagian dari kehidupan personal penggemarnya.
Media sosial juga turut memperkuat perasaan tersebut.
Penggemar dapat melihat unggahan sehari-hari, mendengar pandangan personal, mengikuti aktivitas keluarga, serta menyaksikan perjalanan karier seorang figur publik. Interaksi semacam ini menciptakan apa yang dalam kajian media disebut sebagai hubungan parasosial, yaitu perasaan kedekatan dengan figur media meskipun hubungan tersebut pada dasarnya berlangsung satu arah.
Masalah muncul ketika kedekatan yang dirasakan tersebut berkembang menjadi rasa memiliki.
Penggemar dapat merasa memiliki hak untuk menentukan bagaimana seorang figur publik seharusnya bersikap.
Dalam kondisi demikian, kritik terhadap figur publik tidak lagi semata-mata berasal dari ketidaksukaan terhadap suatu tindakan. Kritik dapat muncul karena adanya perasaan bahwa sang idola telah mengecewakan hubungan simbolik yang dibangun selama ini.
Dari Penggemar menjadi Anti-Fan
Fenomena tersebut juga dapat dibaca melalui konsep anti-fan yang dikembangkan Jonathan Gray. Dalam kajian fandom, anti-fan tidak sekadar berarti orang yang tidak menyukai seorang figur. Anti-fan merupakan audiens yang secara aktif membangun wacana mengenai ketidaksukaan terhadap objek budaya tertentu.
Media sosial membuat perpindahan dari penggemar menjadi anti-fan berlangsung semakin mudah.
Seseorang dapat menjadi penggemar hari ini, kecewa esok hari, lalu menjadi kritikus yang sangat vokal pada hari berikutnya.
Ironisnya, orang yang sebelumnya mengagumi seorang figur dapat menjadi salah satu pihak yang paling keras mengkritiknya. Hal tersebut terjadi karena kritik sering kali lahir dari ketidaksesuaian antara citra yang diharapkan dan tindakan yang dianggap dilakukan oleh sang figur.
Dengan kata lain, semakin tinggi ekspektasi terhadap seorang figur, semakin besar pula potensi kekecewaan ketika ekspektasi tersebut tidak terpenuhi.
Dalam konteks Maudy Ayunda, persoalannya menjadi menarik karena citra publik yang telah terbentuk selama bertahun-tahun turut menentukan bagaimana sebuah pernyataan atau konten dibaca.
Sebuah konten yang mungkin dianggap biasa jika dibuat oleh orang lain dapat dibaca secara berbeda ketika dibuat oleh figur yang memiliki citra tertentu.
Dalam kasus Maudy, publik tidak hanya membaca kontennya. Publik juga membaca "Maudy" di balik konten tersebut.
Tuntutan untuk Selalu Autentik dan "Relatable"
Media sosial pada dasarnya juga menghasilkan tuntutan yang kontradiktif terhadap figur publik.
Di satu sisi, masyarakat menginginkan selebritas tampil autentik. Mereka ingin melihat kehidupan yang dianggap nyata, personal, dan tidak terlalu dibuat-buat.
Di sisi lain, ketika seorang figur publik menampilkan kehidupannya secara autentik tetapi dianggap terlalu jauh dari pengalaman masyarakat kebanyakan, publik dapat memberikan kritik.
Dengan demikian, terdapat tuntutan yang hampir mustahil dipenuhi: seorang figur publik dituntut untuk menjadi dirinya sendiri, tetapi sekaligus harus menjadi dirinya sendiri sesuai dengan ekspektasi audiens.
Dalam kasus Maudy, tuntutan tersebut berkelindan dengan persoalan kelas sosial dan privilege.
Figur publik dengan akses pendidikan, ekonomi, jaringan sosial, dan gaya hidup tertentu tentu tidak mengalami realitas kehidupan yang sama dengan seluruh pengikutnya.
Oleh karena itu, ketika seorang figur publik berbicara mengenai kesehatan mental, kebahagiaan, self-care, atau pengembangan diri, pesan tersebut tidak pernah benar-benar bebas dari konteks sosial.
Pesan yang dimaksudkan sebagai pengalaman personal dapat dibaca oleh audiens sebagai representasi dari posisi kelas tertentu.
Kritik terhadap "ketidakpekaan" karena itu tidak selalu sekadar persoalan bahasa. Ia dapat menjadi ekspresi kegelisahan sosial yang lebih luas terhadap ketimpangan pengalaman hidup.
Cancel Culture dan Kontrol Sosial
Pada titik ini, cancel culture tidak dapat begitu saja dianggap sebagai perilaku negatif warganet.
Kritik publik memiliki fungsi sosial. Figur publik memiliki kekuatan simbolik yang besar. Mereka dapat memengaruhi cara masyarakat memahami isu tertentu dan memiliki akses terhadap perhatian publik yang jauh lebih besar dibandingkan warga biasa.
Oleh karena itu, kritik terhadap figur publik merupakan bagian dari mekanisme kontrol sosial dalam masyarakat digital.
Persoalannya muncul ketika kritik berubah menjadi penghukuman kolektif yang tidak memberikan ruang bagi konteks, klarifikasi, atau perubahan.
Media sosial memiliki kecenderungan mengubah persoalan yang kompleks menjadi penilaian yang biner: benar atau salah, baik atau buruk, layak diikuti atau harus dibatalkan. Padahal manusia tidak sesederhana itu.
Seseorang dapat melakukan kesalahan tanpa seluruh identitasnya harus direduksi menjadi kesalahan tersebut.
Di sinilah cancel culture memiliki persoalan epistemologis: publik sering kali memberikan penilaian berdasarkan potongan informasi yang beredar dalam ruang digital yang bergerak sangat cepat.
Ironi Ekonomi Perhatian
Di sisi lain, ada paradoks yang lebih besar dalam fenomena ini.
Masyarakat mungkin menyerukan agar seorang figur publik tidak lagi diberi perhatian. Namun, mekanisme cancel culture justru dapat membuat figur tersebut semakin banyak dibicarakan.
Kontroversi menghasilkan komentar, sedangkan komentar menghasilkan interaksi. Interaksi lalu meningkatkan visibilitas. Kemudian visibilitas menghasilkan pemberitaan.
Pada akhirnya, kontroversi menjadi bagian dari ekonomi perhatian. Algoritma media sosial tidak membedakan secara moral antara perhatian yang muncul karena kekaguman dan perhatian yang muncul karena kemarahan. Selama pengguna berhenti menggulir, membaca, berkomentar, membagikan, atau membuat konten baru, perhatian tetap bernilai.
Di sinilah kritik sosial menghadapi sebuah paradoks.
Kita dapat membenci seorang figur publik, tetapi kebencian tersebut tetap dapat menjadi bahan bakar popularitasnya.
Lebih jauh, dalam budaya digital, seorang figur publik tidak selalu kehilangan relevansi ketika dibatalkan. Ia dapat memperoleh bentuk relevansi baru melalui kontroversi.
Siapa yang Sebenarnya Memiliki Kuasa?
Kontroversi Maudy Ayunda pada akhirnya membuka pertanyaan yang lebih penting daripada sekadar apakah ia layak dibatalkan atau tidak.
Pertanyaannya adalah: siapa yang memiliki kuasa untuk menentukan bagaimana seorang figur publik harus tampil di ruang publik?
Selama ini, selebritas sering dipahami sebagai pihak yang memiliki kekuasaan karena mereka memiliki popularitas dan akses terhadap audiens dalam jumlah besar.
Namun, media sosial mendistribusikan sebagian kekuasaan tersebut kepada audiens. Penggemar dapat membangun reputasi, pengikut dapat memperkuat atau melemahkan sebuah pesan. Selebihnya, warganet dapat mengangkat sebuah isu hingga menjadi pembicaraan nasional.
Dengan demikian, audiens bukan lagi sekadar penonton. Mereka telah menjadi aktor yang ikut menentukan nilai, reputasi, dan batas perilaku figur publik.
Namun, kekuasaan tersebut juga perlu dipertanyakan. Ketika audiens merasa memiliki hak untuk menentukan bagaimana seorang figur publik harus berbicara, berpakaian, berpikir, dan menjalani kehidupannya, kritik dapat berubah menjadi bentuk baru pengawasan moral.
Oleh karena itu, cancel culture bukan hanya tentang "publik menghukum selebritas". Ia juga merupakan bentuk perebutan kekuasaan atas makna dan representasi di ruang digital.
Pada akhirnya, fenomena cancel culture terhadap Maudy Ayunda menunjukkan bahwa budaya fandom telah berkembang jauh melampaui aktivitas mengagumi seorang idola. Namun perlu diingat bahwa publik memiliki hak untuk mengkritik. Figur publik juga memiliki tanggung jawab untuk mendengarkan. Namun, kritik tidak seharusnya menghilangkan kemungkinan dialog, sementara permintaan maaf tidak semestinya otomatis dianggap sebagai akhir dari persoalan.
