Mengapa Eren Yeager Dibenci Seluruh Dunia? Ini Jawaban Sosiologinya

Mahasiswa Pendidikan Sosiologi Universitas Negeri Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ilyesa Zaharani Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertanyaan itu mungkin terdengar seperti sebuah dilema moral yang sulit dijawab oleh sebagian orang. Namun bagi jutaan penggemar Attack On Titan di seluruh dunia pernah berhadapan langsung dengan dilema tersebut dari perjalanan hidup Eren Yeager.
Pada musim pertama, penonton diposisikan untuk meyakini bahwa musuh utama dari segala penderitaan adalah para titan yang merupakan raksasa pemangsa manusia yang menghantui kehidupan di balik tembok. Namun di penghujung cerita, Eren justru memilih jalan yang dibenci oleh seluruh dunia demi memberikan kehidupan yang lebih baik bagi Bangsa Eldia di Pulau Paradis. Keputusan itu lahir dari kenyataan pahit bahwa dunia luar telah berabad-abad mengirimkan titan sebagai bentuk pembalasan atas dosa-dosa masa lalu Bangsa Eldia.
Sebagian orang memandang Eren sebagai pahlawan yang rela berkorban demi bangsanya. Sebagian lainnya melihat sebagai perwujudkan ekstrem dari fanatisme kelompok. Walaupun dalam kondisinya yaitu ingin memberikan kedamaian dan perlindugan bagi Bangsa Eldia dari Bangsa lain. Perdebatan itu benar adanya, tetapi dibalik kisah tersebut, kisah Eren menyimpan berbagai refleksi yang jauh lebih mendalam terutama dalam dunia pendidikan dan sosiologi.
Pertanyaan yang Tak Pernah Dijawab di Lingkungan Pendidikan
Di balik peperangan, konflik, dan intrik politik dalam cerita, terdapat pertanyaan-pertanyaan dasar yang sesungguhnya sangat relavan dengan kehidupan nyata. yaitu: apa yang membuat seseorang rela mengorbankan dirinya demi kelompok? Mengapa kepentingan kolektif (bersama) kerap dianggap lebih tinggi daripada kepentingan pribadi?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang menjadi perhatian utama salah satu tokoh Sosiologi Emile Durkheim asal Prancis. Durkheim menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya transfer pengetahuan, melainkan sarana untuk menanamkan nilai, norma, dan kesadaran kolektif kepada generasi selanjutnya. Nilai-nilai seperti solidaritas, kerja sama, kepedulian, dan pengorbanan demi kepentingan bersama merupakan inti dari proses itu sendiri.
Eren Yeager dan Pembentukan Identitas Kolektif
Melalui sudut pandang Durkheim, perjalanan Eren mudah dipahami bagaimana terbentuknya karakter dari latar belakang lingkungan keluarga dan masyarakat. Sejak kecil, ia tumbuh dalam situasi ketakutan, ancaman, dan kehilangan orang-orang yang dicintainya serta menyaksikan kehancuran kampung halamannya. Alasan ini perlahan membentuk identitas Eren sebagai bagian dari kelompok yang terancam dan harus memperjuangkan perdamaian.
Lambat laun, kepentingan Bangsa Eldia bukan lagi hanya prioritas dari kehidupan Eren, itu menjadi sebuah tujuan dari kerangka berpikir Eren dalam mengambil keputusan sampai pada akhirnya terjadi Rumbling. Batas antara "aku" dan "kami" tidak ada, hanya menyisakan beban yang harus ia selesaikan sendiri. Hasil dari pemikirannya sendiri, kemudian memunculkan konsep paling krusial dari pemikiran Durkheim dalam kasus ini, yaitu suicide altruistik.
Suicide Altruistik: Menanggung Solidaritas dan Beban Kelompok
Durkheim mendefinisikan suicide altruistik sebagai tindakan mengorbankan diri yang didorong oleh integrasi sosial yang berlebihan, yaitu kondisi di mana seseorang merasa bahwa kehadiran pribadi tidak lebih berharga dari keberlangsungan kelompoknya. Individu yang merasakan seperti ini umumnya juga tidak mati karena putus asa atau terasing, melainkan merasa bangga karena menyatu degan kelompoknya.
Eren sendiri tidak dapat disamakan secara harafiah dengan contoh yang dikemukakan oleh Durkheim, namun esensi tindakannya mencerminkan hal yang serupa. Eren menerima dengan sadar bahwa dirinya menjadi musuh dunia dan akhirnya akan kehilangan nyawanya sendiri. Namun ia tetap melangkah maju, ia percaya bahwa pengorbanan itu akan membuka masa depan bagi orang-orang yang ia cintai di Pulau Paradis.
Teori suicide altruistik relavan dengan loyalitas Eren kepada Bangsanya di Pulau Paradis, menghilangkan rasa kemanusiaannya kepada pihak lain dan melangkah maju menuju tindakan kejam demi perdamaian.
Dari Kaca Eren Menuju Kehidupan Sekarang
Fenomena semacam ini tidak hanya di dunia fiksi. Di era media sosial saat ini, generasi muda semakin sering membentuk dan mempertaruhkan diri mereka demi keanggotaan kelompok, baik itu komunitas kampus, politik, agama, maupun tren masa kini. Pesatnya perkembangan teknologi digital membuat batas-batas kelompok semakin tegas dan polarisasi semakin mudah tumbuh. Hal ini melahirkan perundungan dalam media sosial (bullying) dan sikap intoleran terhadap perbedaan.
Hal yang dialami Eren merupakan identitas yang tertelan habis oleh kelompok, merelakan dirinya dibenci oleh seluruh dunia demi kebebasan dan perdamaian Bangsa Eldia berujung pada tindakan ekstrem atas nama loyalitas bukan suatu kemustahilan di dunia nyata.
Tanggung Jawab Pendidikan
Inilah mengapa pendidikan tidak hanya berhenti pada penanaman solidaritas terhadap kelompok. Durkheim sendiri mengingatkan bahwa keterikatan sosial yang tidak disertai kesadaran kritis dapat menjadi kekuatan yang destruktif.
Peserta didik perlu belajar bahwa mencintai kelompok tidak mengharuskan untuk membenci kelompok lain. Berkorban adalah nilai yang mulia bukan lagi kemuliaan, melainkan kekerasan yang mengatasnamakan loyalitas. Pemahaman tentang loyalitas yang sehat inilah yang seharusnya menjadi pegangan bagi generasi muda dari jebakan fanatisme kelompok.
Pendidikan yang baik juga bukan hanya akan menghasilkan individu yang setia terhadap kelompoknya, tetapi juga individu yang mampu mempertanyakan apakah tindakannya sudah sejalan dengan nilai kemanusiaan bagi diri sendiri maupun orang lain.
Penutup
Kisah Eren Yeager adalah pengingat bahwa solidaritas memang penting, tetapi harus berjalan beriringan dengan kesadaran kritis dan menghormati sesama manusia. Melalui Perspektif Emile Durkheim, pengorbanan Eren dapat dipahami sebagai manifestasi suicide altruistik yang muncul dari keterikatan sosial yang terlalu kuat dengan Bangsa Eldia tanpa mengetahui batas-batasnya.
Dan itulah pelajaran terpenting yang seharusnya tidak pernah absen di lingkungan pendidikan.
