Konten dari Pengguna

Mengapa Harus Menulis?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Pandu Wijaya Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dok. Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Dok. Ilustrasi AI

Dalam hidup, kita seringkali pusing mencari uang, bekerja, atau sekadar menjalankan kewajiban. Kita lupa bahwa hidup tidak melulu tentang mengejar sesuatu. Ia juga merupakan proses memperkaya pengalaman.

Pengalaman yang diendapkan akan menghasilkan pemahaman. Pemahaman akan menjadi kualitas diri kita. Masalahnya, pengalaman harus diproses terlebih dahulu sebelum berbuah pemahaman. Proses itu menuntut kemampuan untuk melihat/ membaca, menghubungkan dengan pengetahuan yang kita miliki, serta mengolahnya.

Proses itulah yang bagi saya disebut sebagai kemampuan literasi. Ia merupakan respons seluruh panca indra kita terhadap segala sesuatu yang hadir di sekeliling kita, pada momen dan tempat tertentu lalu kita mengendapkannya, biasanya melalui pertanyaan-pertanyaan yang dalam.

Sayangnya, seringkali segala yang kita lakukan, lihat, dengar, dan tangkap hanya kita alami sambil lalu. Kita hadir secara fisik, tetapi belum tentu benar-benar memperhatikan.

Ketika melihat orang-orang di kafe misalnya, sepintas kita mungkin menganggap mereka hanya sedang nongkrong atau bekerja. Tapi jika kita memperhatikan seseorang yang duduk sendiri di depan laptop, kita bisa menangkap sesuatu yang lebih jauh, bahwa hari ini seseorang bisa membangun karirnya dari sebuah kafe. Tidak lagi harus dari kantor, gedung bertingkat, atau ruang-ruang rapat formal. Atau mungkin Ia justru menemukan gairah untuk bekerja gila-gilaan di tengah orang-orang yang sedang bercakap-cakap, tertawa, dan menikmati kopi. Keramaian justru menjadi semacam cambuk yang membuatnya merasa hidup.

Ketika kita melihat begitu banyak penjual makanan dan jajanan di pinggir jalan, kita mungkin hanya melihat pemandangan yang menggugah selera dan mengundang kita untuk membeli, atau tanda bahwa ekonomi kecil sedang bergerak, bahwa UMKM tumbuh.

Tetapi kita juga bisa curiga. Mengapa begitu banyak orang memilih menjadi penjual makanan? Apakah karena peluangnya memang begitu besar, atau justru karena tidak ada peluang lain?

Di sebuah lingkungan dengan daya beli yang rendah, banyak orang akhirnya melakukan hal yang sama: berjualan. Mereka menjadi penjual sekaligus konsumen bagi penjual lainnya.

Di sini kita mulai membaca.

Menguji gagasan

Tahap literasi selanjutnya jauh lebih menantang, jika tidak disebut lebih sulit. Kita mulai menguji apa yang telah kita kumpulkan, serap, pertanyakan, bahkan mungkin kita simpulkan di dalam kepala. Pengujian itu membutuhkan alat yang lebih teknis dan rigid: bangunan gagasan. Atau, lebih sederhana, logika berpikir.

Di sinilah kita dipaksa untuk tidak hanya memiliki kesan, tetapi juga memeriksa apakah kesan itu benar. Tidak hanya memiliki pendapat, tetapi juga bertanya dari mana pendapat itu berasal. Tidak hanya membuat kesimpulan, tetapi juga menguji apakah kesimpulan tersebut benar-benar ditopang oleh alasan yang cukup.

Dan salah satu cara terbaik untuk melakukan pengujian itu adalah menulis.

Ketika masih berada di dalam kepala, sebuah gagasan sering terasa masuk akal. Semuanya tampak tersambung. Tetapi ketika dituangkan ke dalam tulisan, kita dipaksa menyusun hubungan antargagasan, menjelaskan alasan, mencari bukti, melihat kontradiksi, dan menyadari bagian-bagian yang ternyata belum kita pahami.

Jernih di tengah kerumitan

Karenanya dalam hemat saya, kemampuan menulis menjadi syarat utama dalam segala profesi. Dan ia menjadi sangat penting bagi mereka yang bekerja di birokrasi pemerintah. Sebab, para Aparatur Sipil Negara (ASN) memiliki fungsi yang krusial. Mereka berada pada posisi pengambil maupun pelaksana kebijakan yang berdampak luas serta mempengaruhi nasib dan hidup banyak orang.

Kepekaan melihat/ membaca keadaan masyarakat dapat menjadi bahan yang penting bagi para ASN untuk memahami realitas secara mendalam. Apa yang terjadi dalam masyarakat? Apa yang dibutuhkan? Kenapa mereka lebih suka ini daripada yang lain? Siapa yang mereka dengar? Apa yang sebenarnya mereka harapkan?

Pemahaman itu, jika kemudian diuji dan dirumuskan dalam sebuah tulisan, menjadi sebuah gagasan yang utuh dan runut yang telah melalui pergulatan hebat dalam kepala penulisnya.

Gagasan yang solid ini, pada tahap lebih jauh, bisa menjadi sebuah basis kebijakan. Kalaupun tidak, maka bisa jadi bahan evaluasi, rekomendasi, atau cukup menjadi perspektif baru dalam melihat persoalan. Dan itu pun cukup.

Kadang sebuah tulisan memancing orang untuk melihat dari perspektif berbeda. Dan dari perubahan cara melihat, perubahan yang lebih besar sering dimulai. Dalam birokrasi, hal ini menjadi penting. Sebab kebijakan yang baik tidak hanya lahir dari aturan dan data, tetapi juga dari kemampuan membaca kenyataan dan berbagai dimensi yang ada di tengah masyarakat.

Namun, meski tidak berdampak pada orang lain pun, menulis tetap memberi manfaat besar bagi ASN penulisnya, yaitu kemampuan untuk berpikir jelas dan jernih. Hal ini penting di tengah sistem birokrasi yang sangat kompleks, rumit, dan penuh dengan rutinitas berulang.

Pada akhirnya, menulis bukan sekadar kemampuan merangkai kata. Ia adalah bagian dari kemampuan seorang ASN untuk berpikir, mempertanggungjawabkan pikirannya, dan mengubah pengalaman menjadi pengetahuan yang berguna: bisa bagi orang lain, tapi yang terpenting bagi dirinya sendiri.

#Lomba ASN Menulis 2026 #ASNation #ASN Menulis #ASN