Mengapa Masa Depan Siswa Sudah Ditentukan sebelum Mereka Memilih?

Sociology Education Students at Jakarta State University
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Chelsea Octavina tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejak kecil, banyak anak sudah akrab dengan pertanyaan tentang cita-cita. Ingin menjadi dokter, pengacara, insinyur, atau profesi lain yang dianggap menjanjikan. Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi di baliknya ada hal yang jarang disadari: apakah cita-cita tersebut benar-benar lahir dari keinginan anak, atau justru terbentuk dari harapan orang-orang di sekitarnya?
Persoalan ini tergambar dalam film Dead Poets Society (1989), terutama melalui kisah Neil Perry, seorang siswa di Welton Academy yang memiliki ketertarikan besar terhadap dunia teater. Di tengah lingkungan sekolah yang menjunjung tinggi tradisi, kedisiplinan, dan prestasi akademik, Neil justru menemukan sesuatu yang membuatnya merasa hidup, yaitu panggung teater.
Sayangnya, keinginannya tidak sejalan dengan harapan sang ayah. Neil diharapkan menempuh jalan hidup yang telah direncanakan untuknya, sementara keinginannya sendiri tidak mendapatkan ruang yang cukup. Konflik ini memperlihatkan bahwa menentukan masa depan tidak selalu sesederhana memilih apa yang kita sukai. Terkadang, pilihan seseorang sudah lebih dahulu dibatasi oleh harapan keluarga dan standar kesuksesan yang berlaku di lingkungannya.
Melalui kisah Neil Perry, Dead Poets Society mengajak kita mempertanyakan kembali peran pendidikan, apakah sekolah benar-benar membantu siswa menemukan arah hidupnya, atau justru ikut mengarahkan mereka menuju masa depan yang dianggap paling ideal oleh masyarakat?
Masa Depan yang Katanya Paling Menjanjikan
Dalam kehidupan sehari-hari, keberhasilan pendidikan sering kali diukur melalui nilai akademik, prestasi, universitas tujuan, hingga pekerjaan yang dianggap memiliki masa depan cerah. Tidak ada yang salah dengan memiliki target dan menginginkan kehidupan yang baik. Namun, persoalan muncul ketika ukuran keberhasilan tersebut menjadi satu-satunya standar yang digunakan untuk menentukan masa depan seseorang.
Hal ini terlihat dalam kehidupan Neil Perry. Ia bersekolah di Welton Academy, institusi yang dikenal melalui prinsip tradisi, kehormatan, disiplin, dan keunggulan. Lingkungan tersebut menekankan pentingnya prestasi dan kepatuhan terhadap aturan. Di sisi lain, Neil memiliki keinginan untuk mengembangkan bakatnya dalam bidang teater, tetapi keinginannya bertentangan dengan rencana sang ayah yang menginginkan masa depan berbeda baginya.
Konflik Neil menunjukkan bahwa pendidikan tidak pernah sepenuhnya terlepas dari nilai-nilai sosial yang hidup di masyarakat. Sekolah dan keluarga dapat memiliki gambaran tersendiri mengenai siswa yang berhasil. Ketika gambaran tersebut menjadi terlalu dominan, minat dan potensi siswa berisiko dianggap kurang penting hanya karena tidak sesuai dengan harapan yang sudah ditentukan.
Pertanyaannya, jika semua siswa diarahkan menuju definisi kesuksesan yang sama, masihkah pendidikan memberikan ruang bagi mereka untuk menemukan jalan hidupnya sendiri?
Cita-Cita Kita, atau Harapan Orang Lain?
Untuk memahami persoalan tersebut, pemikiran sosiolog Pierre Bourdieu dapat digunakan sebagai salah satu sudut pandang. Bourdieu memperkenalkan konsep habitus, yaitu kecenderungan berpikir, merasa, dan bertindak yang terbentuk melalui pengalaman hidup serta lingkungan sosial seseorang.
Secara sederhana, cara seseorang memandang masa depan tidak terbentuk begitu saja. Keluarga, lingkungan pergaulan, kondisi sosial, dan pengalaman pendidikan ikut memengaruhi apa yang dianggap penting, mungkin dicapai, atau layak diperjuangkan.
Dalam kisah Neil, harapan sang ayah terhadap masa depannya memperlihatkan bagaimana nilai dan ekspektasi keluarga dapat memengaruhi pilihan seorang anak. Neil tidak hanya berhadapan dengan perbedaan pendapat di rumah, tetapi juga dengan gambaran mengenai kehidupan yang dianggap berhasil oleh keluarganya. Sementara itu, teater menjadi ruang bagi Neil untuk mengenali keinginan dan potensi dirinya sendiri.
Melalui perspektif habitus, kita dapat melihat bahwa cita-cita tidak selalu lahir dari pilihan yang sepenuhnya bebas. Seseorang mungkin menginginkan suatu pekerjaan karena memang menyukainya, tetapi bisa juga karena sejak kecil ia dibiasakan untuk menganggap pekerjaan tersebut sebagai pilihan terbaik. Sebaliknya, seseorang dapat mengurungkan cita-citanya karena merasa keinginannya tidak sesuai dengan harapan keluarga atau lingkungan.
Meski demikian, habitus bukan berarti manusia tidak memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan. Pengalaman sosial memang memengaruhi cara seseorang berpikir, tetapi bukan berarti masa depannya sepenuhnya ditentukan oleh lingkungan. Justru, pengalaman baru dan kesempatan untuk mengeksplorasi diri dapat membuka kemungkinan bagi seseorang untuk mempertanyakan kembali nilai-nilai yang selama ini dianggap wajar.
Sekolah Ikut Menentukan Arti Sukses
Persoalan ini tidak berhenti pada hubungan antara Neil dan ayahnya. Lingkungan pendidikan dalam Dead Poets Society juga memperlihatkan bagaimana institusi dapat mempertahankan nilai-nilai tertentu melalui aturan, budaya, dan kebiasaan yang dijalankan sehari-hari.
Di Welton Academy, tradisi dan kedisiplinan menjadi bagian penting dari kehidupan siswa. Nilai-nilai tersebut dapat membantu membentuk tanggung jawab, tetapi juga berpotensi membatasi ruang bagi siswa untuk menyampaikan pandangan yang berbeda apabila kepatuhan lebih diutamakan daripada pemahaman terhadap kebutuhan mereka.
Dalam pemikiran Bourdieu, pendidikan dapat dikaitkan dengan konsep reproduksi sosial, yaitu proses ketika ketimpangan dan nilai-nilai dominan dalam masyarakat cenderung dipertahankan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pendidikan tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga dapat memperkuat cara pandang tertentu mengenai prestasi, kecerdasan, perilaku, dan keberhasilan.
Ketika sekolah hanya mengakui bentuk kemampuan tertentu sebagai ukuran keberhasilan, siswa yang memiliki minat atau potensi berbeda bisa merasa bahwa dirinya tidak cukup baik. Padahal, kemampuan akademik bukan satu-satunya bentuk kemampuan yang dimiliki seseorang. Seni, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, dan berbagai potensi lainnya juga dapat menjadi bagian penting dari perkembangan siswa.
Hal ini bukan berarti sekolah harus meninggalkan aturan atau standar akademik. Persoalannya terletak pada bagaimana aturan tersebut diterapkan dan apakah sekolah memberikan ruang yang cukup bagi keberagaman potensi siswa.
Kisah Neil mengingatkan kita bahwa pendidikan yang hanya berorientasi pada satu ukuran keberhasilan berisiko membuat siswa sibuk memenuhi harapan orang lain, tetapi kurang memiliki kesempatan untuk memahami dirinya sendiri.
Bebas Memilih, tetapi Benarkah Punya Pilihan?
Sering kali, siswa dianggap bebas menentukan masa depannya selama mereka masih memiliki beberapa pilihan. Namun, kebebasan memilih tidak sesederhana itu. Seseorang mungkin memiliki banyak pilihan secara formal, tetapi tetap merasa tidak mampu mengambilnya karena tekanan keluarga, kondisi sosial, atau ketakutan mengecewakan orang-orang terdekat.
Neil memiliki ketertarikan terhadap teater, tetapi keinginannya berbenturan dengan tuntutan sang ayah. Konflik tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pilihan tidak hanya berkaitan dengan apa yang diinginkan seseorang, tetapi juga dengan seberapa besar ruang yang tersedia baginya untuk mewujudkan keinginan itu.
Dalam konteks ini, penting untuk membedakan antara membimbing dan menentukan. Orang tua tentu memiliki pengalaman yang dapat membantu anak mempertimbangkan masa depannya. Sekolah juga memiliki tanggung jawab untuk memberikan arahan dan mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan setelah lulus. Namun, bimbingan dapat berubah menjadi tekanan ketika pendapat anak tidak lagi dipertimbangkan.
Tidak semua harapan orang tua merupakan bentuk pembatasan. Ada harapan yang muncul dari kepedulian dan keinginan agar anak memiliki kehidupan yang lebih baik. Namun, niat baik tetap perlu disertai kesediaan untuk mendengarkan. Masa depan yang dianggap aman oleh orang tua belum tentu menjadi masa depan yang paling sesuai bagi anak.
Di sinilah pendidikan perlu mengambil peran. Siswa tidak cukup hanya diberikan informasi mengenai pilihan masa depan, tetapi juga perlu dibantu mengenali minat, mempertimbangkan konsekuensi, dan membangun keberanian untuk mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
Pendidikan Seharusnya Membuka Jalan, Bukan Memilihkannya
Pada akhirnya, Dead Poets Society bukan sekadar cerita tentang seorang siswa yang ingin mengejar minatnya di bidang teater. Film ini juga memperlihatkan ketegangan antara keinginan individu dan harapan sosial yang membentuk kehidupannya.
Melalui pemikiran Pierre Bourdieu, kita dapat memahami bahwa pilihan pendidikan dan masa depan seseorang berkaitan erat dengan lingkungan sosial tempat ia tumbuh. Apa yang dianggap ideal sering kali dipengaruhi oleh nilai-nilai yang diwariskan keluarga dan diperkuat oleh institusi pendidikan. Karena itu, penting untuk mempertanyakan apakah standar keberhasilan yang selama ini kita pegang benar-benar memberi ruang bagi setiap siswa untuk berkembang.
Pendidikan tentu tetap membutuhkan aturan, kedisiplinan, dan arahan. Namun, keberhasilan pendidikan seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa baik siswa memenuhi harapan orang tua atau institusi. Pendidikan juga perlu dinilai dari kemampuannya membantu siswa mengenali potensi, memahami dirinya sendiri, dan menentukan pilihan secara sadar.
Kisah Neil Perry mengingatkan kita bahwa tidak semua siswa memiliki impian yang sama, dan tidak semua masa depan harus mengikuti jalan yang seragam. Sekolah dan keluarga memang dapat membantu menunjukkan arah, tetapi bukan berarti keduanya harus menentukan seluruh perjalanan.
Sebab, pendidikan seharusnya tidak hanya mempersiapkan siswa untuk menghadapi masa depan, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk menentukan masa depan seperti apa yang ingin dijalani.
