Munafik: Melawan Iblis, Membaca Horor sebagai Komunikasi Spiritual
Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Film dalam perspektif ilmu komunikasi, tidak pernah hadir sebagai ruang kosong. Ia merupakan teks budaya yang membawa nilai, ideologi, dan cara pandang tertentu dalam memahami realitas. Setiap gambar, dialog, simbol, maupun suara yang hadir dalam film sesungguhnya merupakan bentuk komunikasi yang bermakna. Karena itu, film tidak hanya dinilai berdasarkan kemampuannya menghibur, tetapi juga bagaimana ia membangun pemahaman penonton terhadap suatu persoalan kehidupan. Dalam konteks tersebut, Munafik: Melawan Iblis yang disutradarai oleh Guntur Soeharjanto menjadi menarik karena menghadirkan genre horor religi dengan pendekatan yang tidak berhenti pada upaya menciptakan rasa takut.

Film Munafik: Melawan Iblis menjadikan horor sebagai ruang refleksi spiritual tentang manusia, iman, dosa, trauma, dan pencarian kembali hubungan manusia dengan Allah SWT. Ketakutan dalam film bukan hanya perkara ketakutan terhadap sesuatu yang bersifat gaib, tetapi juga ketakutan manusia ketika berhadapan dengan sisi gelap dalam dirinya sendiri.
Tokoh utama, Ustadz Adam yang diperankan oleh Arya Saloka, menjadi pusat konflik sekaligus representasi manusia yang memiliki dimensi kompleks. Sebagai seseorang yang memiliki kemampuan melakukan ruqyah, Adam berada pada posisi sebagai pembimbing spiritual bagi orang lain. Namun, menariknya, film tidak membangun karakter Adam sebagai figur agama yang sepenuhnya sempurna. Ia tetap memiliki kelemahan, luka emosional, dan pengalaman masa lalu yang membentuk pergulatan batinnya.
Pada titik inilah karakter Adam menjadi lebih manusiawi. Ia tidak hanya menghadapi gangguan yang berasal dari luar dirinya, tetapi juga harus berhadapan dengan konflik psikologis yang ada dalam dirinya sendiri. Rasa bersalah, kehilangan, dan pertanyaan mengenai keteguhan iman menjadi bagian dari perjalanan spiritualnya. Film ini seakan ingin menyampaikan bahwa seseorang yang membantu orang lain menghadapi kegelapan pun tetap memiliki perjuangan pribadi untuk menemukan cahaya dalam dirinya.
Sementara itu, karakter Fitri yang diperankan oleh Acha Septriasa menghadirkan gambaran manusia yang berada dalam kondisi rentan. Gangguan spiritual yang dialaminya tidak semata-mata diposisikan sebagai fenomena supranatural, melainkan juga sebagai representasi dari penderitaan manusia yang tidak selalu terlihat secara kasatmata. Melalui Fitri, film mengangkat persoalan bahwa luka manusia sering kali tersembunyi dalam ingatan, pengalaman masa lalu, dan konflik batin yang tidak tersampaikan.
Karakter pendukung seperti Mansur (ayah Fitri) yang diperankan Donny Damara, dan sosok ibu sambung (Nova Eliza) turut memperluas pesan moral cerita. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa sumber kehancuran manusia tidak selalu datang dari sesuatu yang asing atau menakutkan. Terkadang, ancaman terbesar justru muncul dari sifat manusia itu sendiri, seperti kesombongan, kebencian, manipulasi, dan ketidakmampuan mengendalikan hawa nafsu.
Dari sudut pandang komunikasi visual, film ini memiliki kekuatan dalam membangun atmosfer melalui bahasa sinema. Penggunaan pencahayaan redup, ruang yang terbatas, permainan bayangan, serta komposisi gambar yang menempatkan tokoh dalam posisi terisolasi menjadi bagian dari strategi penyampaian pesan. Unsur visual tersebut bukan hanya berfungsi sebagai dekorasi horor, tetapi juga bekerja sebagai simbol psikologis. Kegelapan dalam film dapat dibaca sebagai representasi kondisi spiritual manusia ketika jauh dari nilai kebenaran. Sementara, cahaya menjadi simbol harapan, petunjuk, dan kehadiran Tuhan dalam kehidupan manusia. Sinematografi film ini tidak hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga menyampaikan pesan melalui tanda-tanda visual yang memiliki makna religius. Selain aspek visual, tata suara menjadi elemen komunikasi yang memiliki pengaruh besar terhadap pengalaman penonton. Suara bisikan, langkah kaki, gema ruangan, perubahan intonasi saat proses ruqyah, hingga penggunaan jeda hening menciptakan ketegangan emosional. Dalam film horor, suara memiliki kekuatan untuk menghadirkan sesuatu yang tidak terlihat menjadi terasa dekat. Penonton tidak hanya melihat ancaman, tetapi juga membangun imajinasi melalui pengalaman auditori.
Pesan utama film ini terletak pada hubungan manusia dengan Allah SWT. Proses ruqyah, doa, dan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an tidak hanya menjadi bagian dari ritual penyembuhan, tetapi juga menjadi simbol komunikasi spiritual antara manusia dengan Sang Pencipta. Film ini memperlihatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan dan membutuhkan sandaran spiritual ketika menghadapi persoalan hidup. Namun, film ini tidak menggambarkan iman sebagai sesuatu yang pasif. Keimanan dalam film hadir melalui proses perjuangan, kesabaran, dan keberanian menghadapi kelemahan diri. Manusia tidak menjadi kuat karena tidak pernah mengalami masalah, tetapi karena mampu kembali kepada Allah SWT setelah melewati berbagai ujian.
Melalui kekuatan cerita, sinematografi, simbol, dan pesan keagamaan, film Munafik: Melawan Iblis ini menghadirkan pemahaman bahwa perjuangan terbesar manusia bukan sekadar mengalahkan ancaman dari luar, tetapi menjaga hati agar tetap berada dalam cahaya iman.

