Na Willa: Dari Penasaran Menjadi Pengetahuan

Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Airlangga.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari NADYA SYAFIQOTUN NABILA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah rasa ingin tahu membuat kita melakukan sesuatu yang seharusnya tidak dilakukan? Seperti itulah Na Willa. Karena ingin mengetahui siapa yang bernyanyi dalam sebuah radio kecil, ia bahkan membongkar radio itu untuk menemukan jawabannya. Bagi orang dewasa, mungkin tindakan itu sering dianggap merepotkan. Namun, bagi Na Willa, setiap hal yang belum dipahaminya adalah sesuatu yang menarik untuk dicari tahu.
Dalam buku yang berjudul Na Willa, karya Reda Gaudiamo, pembaca diajak mengikuti kisah seorang anak kecil yang hidup di Surabaya pada tahun 1960-an. Buku yang diterbitkan oleh Post Press tahun 2018 dengan tebal 113 halaman ini mengisahkan kehidupan Na Willa bersama keluarganya. Setiap hari Na Willa terus berjelajah dalam dunia imajinasi dan rasa ingin tahunya. Buku ini ditulis dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan menggunakan sudut pandang anak kecil, sehingga membuat pembaca merasa bernostalgia dengan kehidupan masa kecil dulu.
Na Willa tinggal bersama Mak, Pak, dan Mbok di sebuah gang yang ada di Surabaya. Setiap hari ia tidak pernah berhenti bertanya untuk mencari jawaban dari segala hal yang mengusik pikirannya. Dari soal siapa yang bersembunyi di dalam sebuah radio, membayangkan ikan bandeng jika memiliki banyak mata, hingga bertanya-tanya mengapa dirinya dipanggil “Wong Cino.” Setiap pertanyaan-pertanyaan kecil itu menjadi jalan bagi Na Willa untuk mendapatkan serpihan-serpihan pengetahuan baru dalam memahami dunia di sekitarnya.
Ketika Pertanyaan Kecil Membuka Dunia
Keingintahuan menjadi salah satu hal yang menarik dalam cerita ini. Na Willa tidak sekadar bertanya, tetapi juga berusaha untuk menemukan jawabannya melalui apa yang ia lihat dan alami. Ketika jawaban belum didapatkan oleh Na Willa, ia menggunakan imajinasinya untuk memahami hal-hal yang belum ia mengerti. Cara berpikir Na Willa yang sederhana membuat pembaca melihat bahwa belajar tidak selalu dimulai dari buku atau pelajaran di sekolah. Terkadang, semuanya berawal dari satu pertanyaan kecil.
Hal-hal baru juga ditemukan Na Willa melalui berbagai pengalaman sehari-hari. Bermain bersama teman, ikut bernyanyi bersama Mak, memelihara anak ayam, dan berbagai kegiatan sederhana lainnya menjadi bagian dari proses Na Willa untuk mengenal dunia. Dari pengalaman itu, Na Willa mendapatkan pemahaman yang mungkin tidak akan ia dapatkan hanya dengan membaca buku. Kehidupan sehari-hari menjadi ruang belajar yang membuat Na Willa semakin mengenal dirinya dan lingkungan sekitarnya.
Namun, perjalanan dalam mencari sebuah jawaban tidak selalu berjalan dengan mulus. Keingintahuan Na Willa terkadang membuatnya melakukan kesalahan, mendapatkan hukuman, atau mengalami kejadian yang tidak menyenangkan. Salah satunya ketika Na Willa mendapat ejekan karena dipanggil “Wong Cino” oleh teman di sekolahnya. Na Willa merasa tidak terima dan membalas perlakuan itu. Namun, Mak justru mengajarinya bahwa membalas perkataan orang lain dengan kekerasan bukanlah cara yang tepat. Mak berkata, “Lain kali, kalau dia bilang begitu lagi, diam saja! Tidak usah didengar! Tidak usah dibalas.”
Dialog itu menunjukkan bahwa Na Willa tidak hanya belajar dari rasa ingin tahunya, tetapi juga dari nasihat dan pengalaman yang ia alami. Dari peristiwa ini, Na Willa memahami bahwa tidak semua perkataan harus dibalas dan setiap tindakan memiliki konsekuensi. Ia juga belajar untuk mengenali batasan, mengelola emosi pada dirinya, serta cara untuk menghadapi orang lain.
Hal menarik dari buku Na Willa adalah cara Reda Gaudiamo menyampaikan berbagai pelajaran tanpa rasa menggurui. Pembaca tidak dipaksa menerima sebuah pesan moral secara langsung. Sebaliknya, pembaca dibiarkan mengikuti cara berpikir Na Willa, mengetahui kesalahannya, merasakan keingintahuannya, kemudian menemukan sendiri makna dari setiap peristiwa yang dialami oleh Na Willa.
Na Willa bukan sekadar kisah nostalgia tentang masa kecil di sebuah gang di Surabaya. Ia menjadi gambaran bagaimana rasa ingin tahu seorang anak, sekecil apa pun mampu berubah menjadi pengetahuan yang membentuk cara pandangnya terhadap dunia. Dari sebuah pertanyaan sederhana, Na Willa mengajarkan bahwa proses mencari jawaban itu sendiri adalah bagian paling berharga dari belajar, meskipun dalam perjalanannya terkadang mengalami kesulitan dan kegagalan.
Buku ini cocok bagi pembaca yang menyukai cerita masa kecil, kisah sederhana yang hangat, serta cerita yang mampu mengajak pembaca melihat dunia dari sudut pandang anak-anak. Na Willa juga mengingatkan bahwa rasa ingin tahu tidak seharusnya padam begitu saja. Sebab, seperti yang ditunjukkan oleh Na Willa, keinginan untuk terus bertanya dan mencari tahu dapat menjadi langkah pertama untuk menemukan sesuatu yang baru.
