Konten dari Pengguna

Namaku Na Willa, Ini Batas-Batas Penerimaanku

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ni Luh Ayu Sukmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Prolog

Saya begitu excited untuk menonton Film Na Willa bersama anak perempuan saya. Rasanya menyenangkan membayangkan kami mengikuti keseharian seorang anak perempuan yang rasa ingin tahunya membuncah, senang bermain, dan punya keinginan yang berubah-ubah. Hari ini ingin menjadi pengantin, esok ingin sekolah.

Namun saya tergelitik ketika mengikuti Willa dan para tokoh yang mengitarinya, jangan-jangan syarat orang dewasa justru menjadi persoalannya? bagaimana jika ternyata selama ini Mak meminta Willa berkata jujur, tetapi orang lain belum tentu percaya ketika ia berbicara. Ataukah, para orang dewasa mengajari anak berteman, tapi membiarkan nama dan asal-usul menjadi bahan tertawaan?

Di sini, Na Willa menarik untuk dibicarakan. Tata artistik, wardrobe, tata rias, sampai ke color grading begitu nampak menyenangkan, penuh dengan dunia anak-anak. Begitu pula persahabatan yang tumbuh di Gang Krembangan. Tetapi, kalau kita berhenti pada kesimpulan bahwa film ini mengajarkan toleransi, rasanya ada sejumlah pengalaman Willa yang terlalu cepat kita bereskan.

Masuk ke Gang Krembangan

Warna-warna Na Willa membuat saya betah melihat detil kecil seperti baju merah bermotif putih yang dikenakan Willa, pakaian kuning Mak, tiang rumah kebiruan, sampai bungkusan berpita di atas meja. Ada banyak benda yang ingin diperhatikan sebelum cerita bergerak. Visualisasi Gang Krembangan, dengan latar Surabaya 1960-an, terasa seperti lingkungan yang mengundang penonton untuk mampir. Namun, apakah tempat yang menyenangkan dilihat juga selalu menyenangkan untuk ditinggali?

Dalam Film Art oleh Bordwell, Thompson, dan Smith tertuang, “Many of our most vivid memories of movies stem from mise-en-scene” (2020:112). Ingatan tentang film memang dapat melekat pada pakaian, pencahayaan, dekor, atau bagaimana tubuh ditempatkan dalam ruang. Pada Film Na Willa, unsur-unsur itu bekerja bersama secara estetik untuk mendekatkan penonton kepada pengalaman anak. Rumah terasa hidup karena menyediakan banyak kemungkinan untuk dibayangkan dari POV Willa. Misal pada scene ketika Willa membaca surat Pak. Mak duduk bersamanya, sementara bagian belakang rumah menjadi panggung pelabuhan, lengkap dengan papan nama dan awan gantung. Pak hadir di sana. Tentu kita tahu pelabuhan itu tidak sungguh-sungguh berpindah ke rumah. Tetapi, justru form yang terang-terangan dibuat tersebut memungkinkan kita mengikuti bagaimana sebuah surat memperoleh tubuh, tempat, dan suasana dalam bayangan Willa. Membaca surat dalam film ini menjadi cara menghadirkan seseorang jauh.

Untuk memahami scene, saya meminjam konsep studium dan punctum dari Camera Lucida karya Roland Barthes (1981), penggunaannya di sini diarahkan pada visual, dengan menyadari bahwa pengalaman menatapnya berbeda dari mengikuti gambar bergerak. Studium erat kaitannya dengan ketertarikan penonton yang dimediasi pengetahuan budaya. Penonton akan mengenali rumah, pakaian, dan properti sebagai penanda kehidupan pada masa tertentu. Warna cerah dan dekor panggung pun dapat dibaca sebagai tawaran dunia kanak-kanak yang akrab dengan permainan. Di tingkat ini, saya menikmati bagaimana film menyusun ruang dan mengajak penonton memahami pengalaman Willa.

Punctum bekerja lebih personal. Barthes menyebutnya, “A photograph’s punctum is that accident which pricks me (but also bruises me, is poignant to me)” (1981:27). Ada sesuatu yang menusuk perhatian, mengganggu kenyamanan kita ketika melihat. Bagi saya, kemungkinan tusukan itu muncul pada lembar surat di tangan Willa. Pak terlihat begitu dekat di belakangnya, tetapi Willa masih harus menjumpainya melalui tulisan. Kedekatan dalam gambar ternyata menyimpan jarak. Respons ini tentu tidak harus dialami setiap penonton dengan cara yang sama.

Pembacaan tersebut membuat kehangatan rumah terasa penting ketika Willa kemudian memasuki ruang di luar Gang Krembangan, yaitu sekolah. Di rumah, kegiatan membaca memungkinkan Willa berimajinasi se-bebas-bebasnya. Tak sama saat di sekolah, pengakuan bahwa ia mampu membaca justru tidak dipercaya. Namanya ditertawakan, sementara penghinaan rasial menempatkannya sebagai anak yang boleh direndahkan. Penolakan itu mengusik kesan ramah yang sebelumnya dibangun film.

Karena itu, saya tidak segera menganggap warna-warna cerah Na Willa sebagai bukti dunia yang menerima perbedaan. Keindahan visualnya perlu dibaca dengan kepekaan atas perlakuan yang diterima tokohnya. Rumah dapat menampung pelabuhan dalam imajinasi, tetapi ruang kelas bahkan kesulitan menerima seorang anak sebagaimana ia memperkenalkan diri. Kita boleh terpikat oleh tata artistik dan warnanya, sambil tetap bertanya mengapa kehangatan yang begitu mudah dibangun dalam gambar tidak selalu hadir dalam hubungan antarmanusia itu. Kemampuan mise en scene dalam film Na Willa menyisipkan ilusi yang harus di bongkar dengan pemikiran kritis tentang kebersamaan, seberapa luas tempat yang disediakan sebuah dunia untuk anak yang dianggap liyan?

Na Willa Cuma Ingin Ikut

Mendengarkan Willa bercerita membuat saya berpikir bahwa mengikuti pengalaman seorang anak ternyata tidak selalu berarti memahami dunia persis seperti dirinya. Kita melihat apa yang menarik perhatiannya, mendengar pertanyaannya, lalu sesekali merasa ada sesuatu yang belum selesai ketika ia sudah menemukan jawaban. Jarak ini terasa dalam cerita tentang tangis Mbak Martini menjelang pernikahan. Willa penasaran, sementara penonton dewasa mungkin mulai gelisah.

“Narration, then, is the process by which the plot presents story information to the spectator” (Bordwell et. al., 2020:94). Pengertian ini membantu kita memperhatikan bagaimana informasi disampaikan melalui keseluruhan film, termasuk gambar, suara, dan tindakan tokohnya. Suara Willa menjadi pintu masuk, tetapi penonton tetap dapat menafsirkan pengalaman yang diceritakannya melalui pengetahuan mereka sendiri.

Bagi Willa, menjadi pengantin tampak menyenangkan, dia bisa memakai baju besar mengilap, mahkota, dan lipstik. Tapi, tangis Mbak Martini mengganggu bayangan itu. Mengapa seseorang menangis ketika akan mengalami sesuatu yang kelihatannya begitu menyenangkan? Mak menduga Mbak Martini mungkin belum ingin menikah. Dugaan ini membuka persoalan tentang keinginan perempuan, meskipun kita belum memperoleh cukup penjelasan untuk memastikan penyebab tangisnya.

Perhatian kita diarahkan pada hubungan antara yang dikatakan sebuah karya dan batas pengungkapannya. Dalam rangkaian scene ini, penjelasan Mbak Martini sendiri tentang tangisnya belum kita dengar. Willa bertanya, Mak menafsirkan, sementara keinginan perempuan yang dibicarakan masih menjadi pertanyaan. Ketidakhadiran penjelasan itu terasa berarti karena pernikahannya justru menjadi pusat perhatian.

Percakapan kemudian bergeser, Mak menjelaskan bahwa menikah bagi perempuan membawa pula tanggung jawab mengurus rumah dan keluarga. Willa segera menanyakan perkara yang paling penting baginya, “apakah masih bisa bermain?” Jawaban Mak membuatnya mengurungkan keinginan menikah. Percakapan sehari-hari ini mempertemukan kesenangan seorang anak dengan gambaran kehidupan perempuan dewasa yang sudah dipenuhi kewajiban.

“The Subject and Power”, Foucault menyebut bentuk kuasa yang menjadikan individu sebagai subjek: “This form of power applies itself to immediate everyday life” (1982:781). Penjelasan Mak ikut membentuk apa yang dapat dibayangkan Willa tentang perkawinan. Melalui jawaban yang terdengar biasa, suatu pengertian tentang menjadi istri, mengurus keluarga, dan meninggalkan waktu bermain diteruskan kepada seorang anak perempuan.

Namun, Willa juga menimbangnya. “Kalau begitu, Willa tidak mau kawin, Mak.” Jawaban ini memperlihatkan kemampuannya mengubah keputusan ketika sesuatu tidak sesuai dengan keinginannya. Ia memiliki ukuran sendiri, sekalipun bahan pertimbangannya masih bergantung pada penjelasan orang dewasa.

Hal serupa menggerakkan keinginannya bersekolah dan mengikuti Farida mengaji. Bersama Farida, Bud, dan Dul, Willa menemukan kegiatan yang ingin dicobanya karena kebersamaan terasa menyenangkan. Ia belum tentu memahami seluruh kategori agama, usia, atau kepantasan yang mengatur kegiatan tersebut. Keinginannya untuk ikut bersama kemudian mempertemukannya dengan batas-batas yang sebelumnya tidak ia perhitungkan.

Di sini keluguan Willa membuat persoalan sosial terasa dekat. Ia bertanya kepada Mak tentang pengantin, sekolah, dan kesempatan bermain, kemudian kita mulai mempertanyakan aturan yang mengelilinginya. Lantas seberapa jauh seorang anak boleh menyampaikan keinginannya sebelum orang dewasa memutuskan apa yang paling pantas bagi dirinya?

Na Willa Tidak Berbohong

“Aku betul-betul bisa menulis dan membaca, Bu.” Willa mengatakan sesuatu yang seharusnya mudah diperiksa. Bu Tini cukup memberinya kesempatan membaca. Namun, jawabannya justru menutup kesempatan itu: “Tidak ada anak yang bisa menulis dan membaca sebelum masuk sekolah. Mengerti?” Saya merasa persoalan dimulai ketika guru menjadikan pengetahuannya tentang anak-anak sebagai ukuran yang tidak boleh dibantah oleh seorang anak.

Lacan (2006:31) menyatakan, “the signifier, as distinct from the sign, is what represents a subject for another signifier.” Penanda menempatkan subjek dalam hubungan dengan penanda lain, ia tidak menghadirkan keseluruhan dirinya. Gagasan ini membantu membaca rangkaian penilaian terhadap Willa ketika anak baru dianggap belum bisa membaca. Ketika mengaku bisa, ia disebut berbohong. Ketika membantah, ia dianggap melawan. Setiap sebutan menyediakan alasan bagi sebutan berikutnya. Pengalaman Willa belajar membaca bersama Mak tersisih dalam rangkaian tersebut.

Digambar ulang dari Jacques Lacan, The Seminar of Jacques Lacan, Book XVII: The Other Side of Psychoanalysis, terjemahan Russell Grigg (W. W. Norton, 2007), bab “The master and the hysteric”.

Hubungan semacam ini dapat dibaca melalui empat diskursus Lacan, yakni empat pola hubungan yang mengatur siapa berbicara, siapa didengar, dan bagaimana pengetahuan digunakan. Dalam diskursus tuan (M), otoritas memberi perintah dan menuntut agar orang lain mengikutinya. Dalam diskursus universitas (U), pengetahuan menjadi dasar untuk mengatur orang lain, seolah aturan yang dipakai sudah pasti benar. Dalam diskursus histerik (H), seseorang menggugat kepastian pihak yang dianggap tahu dan mendesaknya menghasilkan penjelasan. Sementara dalam diskursus analis (A), pihak yang mendengarkan menggerakkan seseorang untuk berbicara, sehingga kata-kata yang selama ini menentukan cara ia memahami dirinya dapat muncul dan diperiksa. Keempatnya merupakan pola hubungan, sehingga satu tokoh dapat terlibat dalam pola berbeda pada kesempatan berbeda. Untuk membaca Willa, kita perlu memperhatikan bagaimana pengakuannya ditanggapi, apakah membuka kesempatan untuk memahami dirinya, atau justru menjadi alasan untuk menyuruhnya patuh.

Karena itu, pembohong dapat dibaca menjalankan fungsi penanda tuan (Master signifier), S₁. Kata tersebut menetapkan cara perkataan Willa selanjutnya harus diterima. Pengetahuan (knowledge), S₂, tentang kapan seorang anak dianggap mampu membaca kemudian dipakai untuk mempertahankan penetapan itu. Ini mendekati logika diskursus tuan (Master Discourse) otoritas mengatur bagaimana pengetahuan bekerja. Ketika Willa bersikeras, “Aku bilang yang betul! Aku tidak berbohong! Sungguh!” Bu Tini menjawab, “Kau melawan!” Pembelaan diri Willa justru dijadikan bukti bahwa ia perlu ditertibkan.

Lacan menggambarkan orientasi tuan dengan ungkapan, “he desires that things work” (2007:24). Dalam adegan ini, saya membaca ketertiban kelas sebagai sesuatu yang hendak dipertahankan Bu Tini. Pengakuan terhadap kemampuan Willa akan mengharuskannya memperbaiki pernyataan sendiri. Perintah untuk duduk menghindarkan guru dari keharusan tersebut. Bahkan ketika Mak membela anaknya, Bu Tini masih mempertanyakan apakah tulisan yang ditunjukkan benar-benar dibuat Willa. Bukti terus diminta, sementara kesempatan membuktikan diri terus dipersempit.

“What I seek in speech is a response from the other” (Lacan,2006:247). Tuturan Willa mengharapkan tanggapan yang memberinya tempat sebagai seseorang yang layak dipercaya. Ia sudah belajar bersama Mak bahwa berbohong itu salah. Di sekolah, mengatakan yang benar justru membuatnya dituduh berbohong. Dua tuntutan orang dewasa bertabrakan antara anak harus jujur, sekaligus harus menerima penilaian guru. Kepada Mak, ia akhirnya bertanya, “Aku bisa kan, Mak?” Kemampuan yang sudah dimilikinya kini harus dimintakan pengakuan kembali.

Pengalaman ini diperkeras oleh tawa ketika namanya diperkenalkan dan penghinaan “Asu Cino”. Dalam narasinya, Willa bertanya, “Apa yang lucu? Apanya? Itu namaku.” Nama yang menghubungkannya dengan keluarga berubah fungsi ketika memasuki kelas. Sebutan rasial kemudian menempatkannya sebagai sasaran penghinaan. Bahasa yang dipakainya untuk memperkenalkan diri juga menyediakan kata-kata bagi orang lain untuk merendahkannya. Film memperdengarkan suara keberatan Willa kepada penonton, meskipun keberatan itu tidak memperoleh tempat yang sama di sekolah.

Bantahannya dapat didekatkan pada diskursus histerik, subjek menggugat otoritas agar menjelaskan sesuatu yang tidak cocok dengan pengetahuan yang diklaimnya. Willa menghadapkan Bu Tini pada pertanyaan yang tidak nyaman, bagaimana guru mengetahui bahwa ia berbohong jika kemampuannya belum diperiksa? Pertanyaan ini tersirat dalam pertentangan mereka. Gugatan tersebut mendesak lahirnya pengetahuan tentang Willa yang sebelumnya ditutup oleh kepastian guru.

Namun, Willa tetap berkata, “Aku mau sekolah, Mak!” Keinginan untuk diakui sebagai murid bertahan bersama penolakannya terhadap Bu Tini. Willa masih mencari tempat dalam hubungan dengan orang lain. Ia menghendaki agar hubungan itu dapat menerima pengalamannya, termasuk ketika pengalamannya menggoyahkan keyakinan orang dewasa.

Ketika narasinya menegaskan, “Aku anak Mak dan Pak. Aku bisa baca. Aku tidak bohong,” Willa kembali menyebut hubungan keluarga, kemampuan, dan kejujurannya. Sebutan dari sekolah belum berhasil menutup seluruh ceritanya. Bagi saya, di situlah agensi Willa terasa, bahwa ia terus berbicara ketika orang lain merasa sudah selesai mendefinisikan dirinya.

Mak dan Pak ikut membentuk cara Willa mengenali dunia. Kasih sayang mereka datang bersama kekhawatiran, larangan, dan harapan tentang bagaimana seorang anak seharusnya bersikap. Mereka pun perlu belajar menghadapi dunia yang tidak selalu melihat Willa sebagaimana mereka mengenalnya.

Proses itu paling terasa pada Mak. Ia bisa mengatur, tetapi juga meminta maaf dan membela Willa. Bagi saya, kesediaan mengoreksi diri ini penting. Orang dewasa bisa keliru, lalu belajar mendengarkan. Perubahan Mak menunjukkan bahwa kedudukan sebagai orang tua tidak membuat pemahamannya selesai; ia masih perlu memberi kesempatan kepada Willa untuk menerangkan apa yang dialaminya.

Sikap ini membantu kita melihat persoalan Bu Tini. Melalui diskursus universitas, Lacan menjelaskan bagaimana pengetahuan dapat menjalankan kuasa. Dalam pembacaan saya, Bu Tini memakai anggapan tentang kemampuan anak sebelum bersekolah untuk menolak pengakuan Willa. Ketika pembelaan Willa dianggap melawan, diskursus tuan tampak bekerja, anak dituntut patuh pada otoritas guru. Persoalan bergeser dari apakah Willa bisa membaca menjadi apakah ia boleh membantah.

Di sisi lain pengalaman Willa dalam scene mengaji memperlihatkan kemungkinan lain. Farida mengajak Willa, Mak meminta izin, dan guru mengaji memperbolehkannya hadir. Perbedaan agama tetap ada, tetapi mereka bisa berbagi tempat. Penerimaan itu terjadi melalui tindakan sederhana yang melibatkan anak dan orang dewasa.

Bandingkan dengan sekolah. Willa datang membawa kemampuan, tetapi perkataannya diragukan. Anak yang sama bisa disambut di satu tempat dan dipersoalkan di tempat lain. Artinya, kedekatan sehari-hari belum menjamin penerimaan di semua ruang. Seseorang dapat dibuat menjadi orang asing melalui cara lingkungan mengenali dan memperlakukannya. Disini persoalannya juga terletak pada siapa yang diberi tempat dan siapa yang harus terus menjelaskan dirinya.

Ruang bermain pun membawa aturan dan kebiasaan. Kebersamaan terwujud ketika orang-orang bersedia berbagi dan bernegosiasi. Ilusi yang layak digugat adalah anggapan bahwa bermain bersama otomatis membuat seseorang diterima di mana saja.

Sekolah Baru Na Willa

Ada kelegaan ketika Willa akhirnya menemukan sekolah baru. Namun, kelegaan itu datang bersama pertanyaan kecil yang menyakitkan. Sebelum menyebut namanya, ia berbisik, “Ibu Guru akan tidak tertawa?” Pengalaman sebelumnya ikut terbawa ke ruang baru. Ketika Bu Djuwita menjawab, “Nama yang bagus sekali,” Willa sampai tidak lagi mendengar percakapan lainnya. Nama yang sama mendapat tanggapan berbeda. Pada hari pertamanya, perkenalan Willa bahkan disambut tepuk tangan. Ia tidak perlu mengganti dirinya untuk diterima, ia perlu menemukan orang yang bersedia menerimanya.

Di sekolah sebelumnya, Bu Tini menyatakan bahwa anak belum bisa membaca dan menulis sebelum bersekolah. Anggapan itu dapat dibaca melalui diskursus universitas pengetahuan ditempatkan sebagai dasar untuk menentukan kemampuan seseorang. Ketika Willa membantah, jawabannya justru, “Kau melawan!” Di sini diskursus tuan tampak lebih terang. Kebenaran perkataan Willa tersisih oleh tuntutan kepatuhan. Lacan menyebut bahwa tuan menginginkan agar segala sesuatu berjalan, “he desires that things work” (2007:24). Kelas harus berjalan menurut kewenangan guru.

Mak kemudian membawa persoalan itu kembali kepada Bu Tini. Namun, pembelaannya dibalas dengan permintaan bukti, disusul keraguan apakah tulisan yang diperlihatkan memang tulisan Willa. Bu Tini lalu kembali menyebut aturan kelas. Bukti tentang kemampuan anak belum membuka percakapan yang setara. Sekolah tetap memegang wewenang untuk menentukan bukti mana yang dipercaya, sementara keluarga harus terus menjelaskan anak mereka. Suara Bu Tini kemudian terdengar teredam. Film membawa perhatian kita kembali kepada Willa, sementara penjelasan sekolah ditinggalkan.

Karena itu, yang dapat saya tegaskan ialah bertahannya kuasa diskursus tuan di lingkungan yang menolak Willa. Empat diskursus Lacan bukan tangga kedewasaan yang harus dinaikinya. Dalam diskursus histerik subjek menggugat penanda tuan dan menggerakkan produksi pengetahuan, S₂. Bantahan Willa memang membuka kemungkinan pembacaan ini. Akan tetapi, keberaniannya melawan belum cukup untuk membuktikan seluruh hubungan tersebut. Kita perlu menunjukkan pengetahuan apa yang dihasilkan melalui gugatannya. Kegagalan mengubah Bu Tini sendiri juga tidak otomatis membatalkan kemungkinan Histerik.

Begitu pula dengan diskursus analis. Hasil dalam skemanya adalah S₁, penanda tuan, mendapat guru yang ramah belum cukup untuk menunjukkan susunan ini. Kita perlu melihat bagaimana tuturan subjek digerakkan sehingga penanda yang mengatur dirinya muncul untuk diperiksa. Pujian Bu Djuwita memberi Willa pengalaman penerimaan, scene itu belum dengan sendirinya membuktikan berlangsungnya diskursus analis.

Tentu, pindah sekolah merupakan keputusan berarti. Mak mendengarkan keberatan Willa, dan Willa ikut memilih tempat belajarnya. Ia mengatakan, “Willa mau pilih sekolahnya ya, Mak!” Karena itu, akhir cerita tetap memberi tempat bagi kemampuannya menentukan keinginan. Keluarga juga bekerja mencari jalan keluar. Namun, keberhasilan menemukan tempat aman menyisakan persoalan yang berbeda, lingkungan yang melukainya tidak diperlihatkan memeriksa kembali perlakuannya.

Di sinilah akhir yang hangat itu membuat saya terus bertanya. Mengapa anak yang ditolak harus berkeliling mencari sekolah, sementara tempat yang menolaknya boleh tertinggal begitu saja dalam cerita? Film memang tidak wajib menyelesaikan seluruh persoalan pendidikan. Namun, pilihan penyelesaiannya membuat penerimaan hadir melalui pertemuan dengan guru yang tepat. Kelegaan Willa terasa nyata, tetapi jaminan bagi anak lain belum terlihat.

Pada akhirnya tiba pada kritik yang terletak pada jarak antara keduanya. Kita boleh bahagia karena Willa menemukan sekolah yang menerimanya, sambil bertanya tentang anak yang belum seberuntung dirinya. Apakah ia harus terus berpindah sampai menemukan seseorang yang percaya? Dunia yang menerima perbedaan semestinya tidak membuat seorang anak mencari pintu lain setiap kali namanya, kemampuannya, atau keberadaannya dianggap tidak cocok.

Epilog

Saya ingin anak perempuan saya, juga anak-anak perempuan lainnya, memiliki keberanian seperti Willa untuk bertanya dan berani mencoba hal baru. Saya berharap mereka tidak harus terus-menerus membuktikan diri hanya untuk memperoleh perlakuan yang layak. Ada orang dewasa yang bersedia mendengarkan, bahkan ketika cerita mereka tidak sesuai dengan apa yang kita yakini.

Menonton Na Willa lantas membuat saya kembali memikirkan kebiasaan kita meminta anak-anak menjadi jujur, baik, dan menghargai perbedaan. Tuntutan itu terdengar wajar, sampai kita bertanya apakah kita bersedia menjalankan hal yang sama? Termasuk jujur mengakui kekeliruan sendiri, meminta maaf, dan menerima bahwa anak yang sedang kita nasihati mungkin mengetahui sesuatu yang belum kita pahami.

Willa akhirnya menemukan tempat yang mau menerima namanya. Saya ikut lega. Namun, pertanyaan tentang anak-anak yang masih ditertawakan di tempat lain tidak ikut selesai. Mereka mungkin memiliki keberanian sebesar Willa, tetapi belum tentu memiliki kesempatan yang sama untuk mencari sekolah lain. Di situlah kelegaan saya jadi tertahan, mengapa perlakuan yang layak masih harus bergantung pada keberuntungan menemukan orang dan tempat yang tepat?

Referensi

Adriandhy, R. (Dir.). (2026). Na Willa. Visinema Studios.

Barthes, R. (1981). Camera lucida: Reflections on photography (R. Howard, Trans.). Hill and Wang.

Bordwell, D., Thompson, K., & Smith, J. (2020). Film art: An introduction (Edisi ke-12). McGraw-Hill Education.

Foucault, M. (1982). The subject and power. Critical Inquiry, 8(4), 777–795. https://doi.org/10.1086/448181

Lacan, J. (2006). Écrits: The first complete edition in English (B. Fink, Trans.). W. W. Norton & Company.

Lacan, J. (2007). The seminar of Jacques Lacan, book XVII: The other side of psychoanalysis (J.-A. Miller, Ed.; R. Grigg, Trans.). W. W. Norton & Company.