Konten dari Pengguna

Pendidikan di Indonesia, Proses Belajar dengan Tuntutan Akademik

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anindya Zulfa Sasikirana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pendidikan sering kali dipandang sebagai jalan untuk meraih masa depan yang lebih baik. Siswa sering kali didorong untuk belajar dengan rajin, mendapatkan nilai tinggi, dan meraih prestasi agar dapat membanggakan orang tua serta memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, di balik tuntutan akademik tersebut, terdapat persoalan yang sering luput dari perhatian, yaitu tekanan akademik yang membuat siswa merasa harus selalu berhasil.

https://images.pexels.com/photos/1822387/pexels-photo-1822387.jpeg (gambar siswa belajar di sekolah)
zoom-in-whitePerbesar
https://images.pexels.com/photos/1822387/pexels-photo-1822387.jpeg (gambar siswa belajar di sekolah)

Bagi sebagian siswa, nilai bukan hanya sekadar hasil belajar, tetapi juga menjadi ukuran keberhasilan di mata orang tua, guru, dan teman sebaya nya. Siswa yang memperoleh nilai tinggi sering dianggap lebih pintar dan memiliki masa depan yang cerah. Sebaliknya, siswa yang mendapatkan nilai rendah terkadang dianggap kurang mampu atau kurang berusaha. Padahal, setiap siswa memiliki kemampuan, kondisi, dan cara belajar yang berbeda.

Tekanan akademik juga dapat muncul dari lingkungan keluarga. Terkadang harapan orang tua agar anak memperoleh nilai bagus sebenarnya merupakan bentuk perhatian terhadap pendidikan. Namun, ketika harapan tersebut berubah menjadi tuntutan yang berlebihan, siswa dapat merasa takut mengecewakan orang tuanya, takut gagal terhadap masa depan nya. Akibatnya, belajar tidak lagi sepenuhnya menjadi proses untuk memahami pengetahuan, tetapi juga menjadi usaha untuk memenuhi harapan orang lain.

Selain keluarga, lingkungan pertemanan turut memengaruhi tekanan yang dialami oleh siswa. Persaingan untuk mendapatkan peringkat kelas dapat membuat siswa terbiasa membandingkan pencapaiannya dirinya dengan teman sebaya nya. Keberhasilan orang lain terkadang dianggap sebagai ancaman, bukan sebagai motivasi untuk berkembang bersama. Dalam kondisi seperti ini, hubungan pertemanan yang seharusnya menjadi sumber dukungan justru dapat berubah menjadi persaingan yang melelahkan.

Dalam perspektif Sosiologi Pendidikan, fenomena tersebut dapat dikaitkan dengan teori pelabelan (labeling theory). Teori ini menjelaskan bagaimana pemberian label kepada seseorang dapat memengaruhi cara orang lain memperlakukannya dan bagaimana individu memandang dirinya sendiri. Misalnya, siswa yang selalu dianggap pintar mungkin merasa harus terus mendapatkan nilai tinggi agar tetap memperoleh pengakuan. Sebaliknya, siswa yang sering mendapatkan nilai rendah dapat kehilangan kepercayaan diri karena merasa dirinya tidak sepintar teman-temannya.

Padahal, pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan siswa dengan nilai tinggi. Sekolah juga memiliki peran dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, keterampilan sosial, dan karakter. Seorang siswa mungkin mengalami kesulitan dalam pelajaran tertentu, tetapi memiliki kemampuan komunikasi, kepemimpinan, atau kerja sama yang baik. Kemampuan seperti ini juga penting untuk kehidupan bermasyarakat, meskipun tidak selalu tercermin dalam hasil ujian.

Oleh karena itu, tekanan akademik perlu menjadi perhatian bersama. Guru dapat membantu dengan memberikan penilaian yang tidak hanya berfokus pada angka, tetapi juga pada perkembangan dan proses belajar siswa. Orang tua pun perlu memberikan dukungan dengan menghargai usaha anak, mendengarkan kesulitannya, dan tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran keberhasilan anak sendiri.