Seni Menertawakan Luka: Mengapa Kita Butuh Kebohongan demi Bertahan Hidup?

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Najwa Khaerunnisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda merasa bahwa realitas kehidupan sehari-hari berjalan begitu melelahkan, hingga rasanya kita butuh ruang alternatif untuk sekadar bernapas? Di dalam masyarakat urban modern, tekanan hidup sering kali memaksa kita mengenakan topeng tebal. Kita dituntut untuk selalu baik-baik saja, sukses, dan tanpa celah. Namun, di balik topeng yang tampak sempurna itu, tersimpan luka-luka emosional yang berdentang senyap. Menariknya, cara manusia mengemas luka tersebut agar bisa diterima oleh dunia sering kali jatuh pada sebuah mekanisme yang unik, yaitu fiksi atau “kebohongan” yang disepakati bersama.
Fenomena psikologis dan sosial inilah yang ditangkap dengan sangat apik oleh MZ Billal dalam cerpennya yang bertajuk "Sebuah Meja dan Empat Pembohong yang Sedang Bercerita" (Kompas, 2026). Cerpen ini mengisahkan tentang empat orang sahabat yang tergabung dalam sebuah perkumpulan eksentrik bernama "Klub Pembohong Garis Keras". Di sebuah meja kafe terbuka, mereka berkumpul untuk saling membagikan “kebohongan baru”. Ironisnya, di dalam klub ini, kata “kebohongan” memiliki arti yang berkebalikan. Kebohongan berarti cerita sebenarnya, sebuah kode rahasia untuk mengatakan bahwa mereka sedang tidak baik-baik saja.
Membaca kisah keempat tokoh tanpa nama ini membawa kita pada pemahaman mendalam tentang bagaimana sastra merefleksikan kehidupan manusia. Burhan Nurgiyantoro dalam Teori Pengkajian Fiksi (2018) menjelaskan bahwa tokoh dan penokohan merupakan unsur penting yang membantu pembaca memahami berbagai persoalan kehidupan melalui karakter-karakter dalam cerita. Dalam cerpen karya MZ Billal ini, para tokohnya hadir bukan sekadar sebagai tokoh rekaan, melainkan sebagai representasi orang-orang yang sedang berjuang menghadapi luka dan tekanan hidup dengan caranya masing-masing.
Melalui percakapan yang mereka bagikan di meja kafe, pembaca perlahan mengenal beban yang dipikul setiap tokoh. Tidak ada penjelasan panjang tentang siapa mereka, tetapi justru dari cerita dan respons mereka terhadap masalah, karakter masing-masing tokoh terasa hidup dan dekat dengan realitas sehari-hari.
Cara penggambaran tokoh seperti ini membuat cerpen terasa relevan dengan pengalaman banyak orang. Sebab, di balik candaan dan "kebohongan" yang mereka ceritakan, tersimpan kenyataan bahwa setiap orang memiliki luka yang tidak selalu bisa diungkapkan secara terbuka.
Kita diperkenalkan pada Pembohong Pertama, seorang pria lajang yang memikul beban berat sebagai tulang punggung keluarga sekaligus merawat ibunya yang lansia. Ia menghadapi konflik eksternal berupa pemaksaan perjodohan oleh keluarga besarnya. Melalui dialog yang sinis namun diselingi tawa, kita melihat bagaimana ia menolak realitas tersebut demi melindungi dirinya sendiri dan orang lain. Hal ini tercermin jelas saat ia mengeluhkan intervensi keluarganya:
“Aku benar-benar tidak tahu. Kakak iparku menawari perkenalan dengan seorang gadis melalui foto. Aku tidak tertarik. Aku bilang tidak mau. Tapi sialnya, dia mengirimkan foto dan nomor ponselku pada pihak keluarga gadis itu. Mereka bilang setuju atas perjodohan kami. Padahal aku tidak pernah bilang mau. Rasanya aku benar-benar ingin marah!"
Konflik yang tak kalah getir dialami oleh Pembohong Kedua dan Pembohong Keempat. Pembohong Kedua adalah seorang wanita yang telah menikah selama tujuh tahun namun belum dikaruniai keturunan. Di masyarakat kita, status ini sering kali menjadi sasaran empuk stigmatisasi, hingga ia harus menelan pil pahit dicaci "mandul" oleh rekan kerjanya. Dalam cerpen, luka batin ini digambarkan secara emosional melalui pengakuannya:
"Aku berselisih paham dengan rekan kerjaku di kantor. Lalu dia keceplosan mengataiku mandul. Aku langsung tak bisa berkata-kata, menyepi dan menangis sendirian. Meski beberapa memberikanku pelukan hangat agar sabar. Tapi aku tak ingin selemah itu pada takdirku."
Sementara itu, Pembohong Keempat berjuang merawat anaknya yang mengidap Cerebral Palsy di tengah jepitan ekonomi dan tuduhan miring dari ibu mertuanya sendiri. Narasi cerpen memperlihatkan betapa perih tuduhan yang diterimanya melalui kutipan berikut:
"Kalian tahu, ibu mertuaku mengumpatku di belakang. Dia bilang aku menghamburkan uang suamiku untuk keperluan tidak penting. Padahal kalian tahu faktanya kan? Jangankan menghamburkan, aku bahkan kekurangan untuk biaya perobatan anakku."
Melalui karakter-karakter inilah, kita bisa melihat betapa dalamnya sisi emosional dan personal seorang manusia, di mana setiap tindakan dan ucapan mereka sebenarnya lahir dari tumpukan luka yang selama ini dipendam sendiri.
Lantas, mengapa mereka harus menyebut kebenaran yang menyakitkan itu sebagai sebuah kebohongan? Di sinilah letak ironi terbesar dari eksistensi manusia. Mengakui bahwa kita gagal, terluka, atau tidak berdaya di hadapan orang lain sering kali terasa terlalu mengintimidasi. Kebenaran terkadang terlalu telanjang dan menyakitkan untuk diucapkan secara langsung. Oleh karena itu, manusia menciptakan metafora, humor hitam, dan jargon rahasia seperti yang dilakukan oleh para tokoh di Klub Pembohong Garis Keras.
Ketika para tokoh menumpahkan keluh kesah mereka di atas meja, mereka sebenarnya sedang melakukan katarsis. Kehadiran meja kafe dan lingkaran persahabatan tersebut berfungsi sebagai ruang aman atau safe space. Di meja itulah, luka yang tadinya tabu dan memalukan di luar sana, berubah menjadi humor segar yang bisa ditertawakan bersama. Menertawakan luka bukanlah bentuk kepasrahan yang cengeng, melainkan sebuah cara elegan untuk berdamai dengan takdir yang tak bisa dikendalikan.
Pada akhir cerita, cerpen MZ Billal ini mengingatkan kita semua yang hidup di tengah riuh dan tuntutan zaman modern bahwa kita tidak harus selalu terlihat kuat di depan semua orang. Kita semua membutuhkan meja kita masing-masing, sebuah tempat di mana kita bisa menumpahkan segala keluh kesah tanpa takut dihakimi. Dan jika realitas terlalu kejam untuk dihadapi dengan kata-kata yang jujur, maka membungkusnya dalam fiksi, humor, atau bahkan "kebohongan" yang elegan bersama sahabat tercinta, barangkali adalah seni tertinggi untuk tetap waras dan bertahan hidup.
