Silaturahmi ala Gen Z : Bukan Rumah ke Rumah tapi Lewat Love Instagram

Saya adalah seorang mahasiswa Program Studi Ilmu Al-Qur'an danTafsir Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto. Mulai aktif menulis semenjak tahu bahwa dunia tidak baik-baik saja bagi orang bodoh
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Tubagus Naufal Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah menyukai Story Instagram seseorang dengan menekan tombol love? Kalau gak pernah berarti kamu kurang update.
Sebelum melangkah lebih jauh, sepertinya kita harus memahami dengan benar apa itu silaturahmi. Dalam kebiasaan masyarakat, silaturahmi akrab dengan kegiatan mengunjungi seseorang, kerabat atau siapa pun entitas tersebut untuk disambung ikatan pertemanan atau kekerabatannya.
Jika ditelisik lebih dalam, silaturahmi merupakan kata serapan yang asalnya dari bahasa Arab, kata Shilat (صلة) dan juga rahim (رحيم) yang artinya secara hakikat adalah kegiatan menyambung ikatan sedarah dan secara luas adalah kegiatan menyambung ikatan baik sedaarah ataupun tidak. Ketika kita berkunjung ke rumah seseorang dengan niat silaturahmi, maka yang kita maksud harusnya adalah menjadikan orang tersebut dekat dengan kita sehingga kita mau menjalin ikatan tersebut secara berkala. Terlepas dari apakah seseorang tersebut merupakan saudara sekandung/sedarah atau hanya sesama manusia.
Love story yang bikin hidup
Love di Story Instagram itu istimewa, ia bukan hanya gambar belaka. Ia memiliki arti yang lebih luas, bukan hanya sekadar memberikan rasa cinta tapi juga dukungan dan beberapa pesan tersirat lainnya. Kenapa saya bilang love di instagram termasuk ke dalam rangkaian silaturahmi padahal di dalamnya tidak ada kegiatan berkunjung. Saya akan jelaskan bagaimana hubungannya.
Ketika silaturahmi terjadi, hubungan hati kedua belah pihak – Pelaku silaturahmi dan pihak yang disilaturahmikan – memiliki keterhubungan yang intens. Terdapat rasa senang yang timbul dalam hati ketika dua wajah yang saling mengenal bertemu, dua bibir yang saling mengisyaratkan senyum menyapa, dua mata yang saling berbagi tawa bersua. Tanpa disadari, inilah yang terjadi ketika silaturahmi.
Lebih lanjut, ketika membuka Instagram langsung saja saya melihat konten tentang “Orang yang mendukung kita bukan dari orang yang kita kenal” dengan menunjukkan reaksi love di story Instagram. Konten seperti ini mengindikasikan bahwa bentuk dukungan bisa diimplementasikan salah satunya dengan Love Instagram. Bentuk dukungan ini terlihat ketika terjalin hubungan dari orang yang tidak kita kenal. Tetapi bagaimana jika interaksi tersebut terjadi di antara orang yang sudah mengenal dan dipisahkan oleh jarak?
Saya sendiri sering mengalami interaksi ini, banyak sekali dukungan yang timbul ketika saya memuat story di Instagram dari orang yang saya kenal dan tidak saya kenal. Lebih lagi jika dukungan tersebut hadir dari kenalan nan jauh di sana. Love yang muncul bukan sekadar gambar merah hati, yang saya rasakan adalah bentuk dukungan dan bentuk silaturahmi seakan-akan jika love itu muncul dari orang yang jauh ia berkata “Woi lihat, saya masih hidup. Kapan-kapan kita berjumpa ya!” menjadikan suasana antara saya dengan orang nan jauh di sana menjadi langgeng dan selalu terjalin meskipun tanpa melakukan chat.
Ini yang bikin saya mulai merenung, Silaturahmi ala gen Z bukan hanya Love Story
Fenomena ini sebenarnya bukan hanya terjadi di pencetan love Instagram, tapi juga di bagian share reels pada Direct Message. Kedekatan yang terjalin dengan saling share reels menjadi sebuah keintiman ala gen z. Tidak perlu rasanya berbagi tawa secara langsung jika bisa lewat Instagram. Dengan kesadaran yang layak dan kontekstualisasi konten, sebenernya hal-hal yang hadir di tengah peradaban ini juga sudah mulai bergeser.
Tergantung pintarnya kita memanfaatkan hal tersebut. Sebab terkadang jika sesuatu terlalu berlebihan juga tidak bagus dan terkesan mengganggu. Lagi-lagi, ini adalah curahan pikiran saya menghadapi fenomena hari ini, terlalu subjektif tapi bisa jadi kalian juga merasakan hal yang sama.
Sebenarnya, setelah saya pahami lebih dalam melalui perenungan dahsyat – melalui beberapa seduhan kopi – saya mulai memahami bahwa silaturahmi ala gen z ini bukan hanya terjadi di Instagram. Ketika kamu membuka WhatsApp dan menyukai cerita teman lebih sering, itu tandanya kamu sedang silaturahmi. Ketika kamu membuka X atau Facebook, kamu menyukai cerita atau postingan temanmu itu sendiri sudah menjadi silaturahmi. Maksud saya, silaturahmi ala gen z di era teknologi ini bisa terjadi di media digital apa pun secara tidak langsung.
Kekurangan dari Silaturahmi yang saya beri nama “Ala Gen Z”
Sebenarnya silaturahmi model kaya gini itu bagus ya, selain menghemat uang transportasi juga meminimalkan energi yang dikeluarkan. Tapi silaturahmi ini juga memiliki beberapa kekurangan yang saya rasa perlu dipertimbangkan jika ingin diterapkan.
Kekurangan yang pertama, konsep silaturahmi ini tidak bisa diterapkan ke sembarang orang. Bayangin kalau kamu belum kenal, atau kamu belum dekat dengan seseorang di dunia nyata dan kamu secara tiba-tiba memberi love di tiap ceritanya. Sangat mengganggu sekali kan. Belum lagi kalau orang yang kamu sukai ceritanya sangat moody-an atau lawan jenis, kamu bakalan disangka naksir sama dia.
Kekurangan yang kedua, tidak semua orang paham alasan kamu menyukai cerita mereka. Sebelum menulis ini, saya sudah melakukan survei dan gak semua orang sepaham dengan konsep ini, kalau tiba-tiba kamu bom love cerita orang lain, kamu bakalan keliatan aneh dan poin pentingnya tidak semua orang mau menerima bom love dari kamu, kecuali kamu setampan artis korea atau minimal seperti Jefri Nichol.
Dampak Silaturahmi Ala Gen Z
Saya benar-benar merasakannya setelah menerapkan konsep ini dengan kurun waktu yang tidak sebentar. Awalnya target yang saya like mungkin akan mengira bahwa saya hanya sekadar like saja, tapi setelah saya terapkan secara konsisten di cerita mereka yang telah saya filter – tidak semua cerita saya like, biasanya cerita yang saya like mengandung unsur emosional pembuat, dugaan saya ketika saya like membuat mereka senang. Jujur saja, saya mendapatkan timbal balik dari apa yang saya tabur, kehangatan di antara orang yang saya kenal mulai terjalin, mulai dari yang dekat sampai yang jauh. Lebih intens dan terjaga daripada sebelumnya.
Untuk membuktikan perasaan ini, saya coba bikin status yang menegaskan konsep silaturahmi ala gen z ini. Kamu tahu respons mereka apa? Banyak yang memberikan love kepada saya dan beberapa ada yang menjawab status ini dengan reaksi yang positif, bahkan mereka bersyukur jika ada yang memberikan love. Sebab menurut mereka, ini adalah salah satu bentuk dukungan.
Ketika membahas dukungan – support system – saya jadi teringat kaum yang termarginalkan dari hangatnya rasa kekeluargaan, pertemanan dan relasi sosial kemasyarakatan yang lain. Dengan konsep silaturahmi ala gen z, mereka tidak perlu merasa kesepian dan khawatir tidak ada yang mendukung. Misal saja, kita menyukai cerita atau konten yang mengandung emosi dari pembuat – seperti bangkit dari masalah, perjuangan melawan penyakit ganas – hal ini saya rasa akan memiliki dampak yang signifikan.
