Sunyi yang Utuh, Bukan Sunyi yang Sendiri

Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Syari'ah dan Hukum Prodi Ilmu Hukum.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ghiyats Azzumar Ghuffron tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesunyian bukanlah tujuan, melainkan cermin. Ketika kebisingan, validasi, dan reaksi dari dunia menghilang, yang tersisa hanyalah diri sendiri. Pada saat itulah seseorang mulai melihat apakah identitasnya benar-benar berasal dari dalam, atau hanya dibangun dari penilaian orang lain.
Kesunyian, dalam pengertian ini, bukan sekadar tidak berbicara. Ia adalah berhentinya kebutuhan untuk mengendalikan bagaimana diri dipersepsikan orang lain. Selama seseorang masih sibuk menata citra dirinya di mata orang lain, ia belum benar-benar sunyi, sekalipun sedang duduk sendirian di ruangan yang kosong.
Justru di titik itulah pendengaran sejati mulai terbuka. Selama pikiran masih penuh oleh suara luar, seseorang hanya mendengar pantulan dari dunia tentang dirinya sendiri. Baru ketika suara suara itu mereda, ia bisa mendengar sesuatu yang lebih jujur: dorongan hatinya yang sesungguhnya, batas-batas yang selama ini ia langgar demi diterima, dan kebenaran-kebenaran kecil yang selama ini tenggelam oleh kebisingan. Jalaluddin Rumi pernah mengatakan hal ini dengan sangat sederhana:
"Semakin sunyi dirimu, semakin mampu engkau mendengar."
Namun kebebasan batin semacam itu hanyalah permulaan, bukan tujuan akhir. Banyak orang mengira bahwa ketika seseorang tidak lagi membutuhkan validasi, ia juga tidak lagi membutuhkan manusia. Ini kekeliruan yang mudah terjadi, sebab yang sesungguhnya diputus oleh kesunyian bukanlah hubungan, melainkan ketergantungan.
Kehidupan sejak awal memang bersifat saling terhubung. Mata melihat karena ada cahaya, telinga mendengar karena ada suara, dan manusia bertumbuh karena hidup bersama sesamanya. Hubungan bukanlah sumber keberadaan, tetapi bagian dari keberadaan itu sendiri, dan menolak hubungan demi kebebasan justru menghasilkan kebebasan yang kosong.
Di sinilah muncul dua lapisan yang berbeda dan sering tertukar satu sama lain. Lapisan pertama adalah kemerdekaan batin: seseorang tidak lagi menggantungkan harga diri, makna hidup, ataupun arah langkahnya pada penerimaan orang lain. Ia mampu berdiri tanpa harus disangga oleh pujian, dan tidak runtuh hanya karena penolakan.
Lapisan kedua adalah arah kehidupan setelahnya. Ketika seseorang menemukan keutuhan dalam dirinya, ia tidak lagi mendekati orang lain untuk mengisi kekosongan, melainkan untuk berbagi keberlimpahan. Kepedulian tidak lagi lahir dari rasa membutuhkan, tetapi dari kesadaran bahwa kehidupan memang saling terhubung sejak semula.
Karena itu, tujuan akhir manusia bukanlah menjadi pribadi yang sepenuhnya sendiri, ataupun pribadi yang sepenuhnya bergantung pada orang lain. Tujuannya adalah menjadi utuh. Orang yang utuh tidak membutuhkan dunia untuk melengkapi dirinya, tetapi justru karena ia telah utuh, ia mampu menjadi penopang bagi dunia di sekitarnya.
Keutuhan ini yang membedakan dua jalan yang tampak mirip dari luar namun berlawanan arah di dalam. Kesunyian tanpa kepedulian, cepat atau lambat, berubah menjadi isolasi. Kepedulian tanpa keutuhan, sebaliknya, berubah menjadi ketergantungan yang menyamar sebagai cinta.
Kebijaksanaan lahir tepat di titik pertemuan keduanya: bebas dari kebutuhan untuk dimiliki, tetapi tetap memilih bertanggung jawab terhadap kehidupan. Kebebasan tanpa tanggung jawab hanyalah pelarian, dan tanggung jawab tanpa kebebasan hanyalah beban.
Pendengaran yang tumbuh dari kesunyian itulah yang akhirnya membedakan kepedulian sejati dari sekadar reaksi. Orang yang sudah belajar mendengar dirinya sendiri dengan jujur, biasanya juga menjadi orang yang mampu mendengar orang lain tanpa buru buru menilai, membela diri, atau mencari pengakuan dari percakapan itu. Kepeduliannya lahir dari ketenangan, bukan dari kegelisahan yang mencari sesuatu untuk dipegang.
Maka perjalanan manusia bukanlah memilih antara "sendiri" atau "bersama", seolah keduanya harus saling meniadakan. Perjalanan itu adalah menjadi begitu utuh saat sendiri, sehingga ketika bersama orang lain, ia tidak lagi mengambil untuk melengkapi dirinya, melainkan ikut membangun dan menghidupkan mereka.
Pada titik itu, kehadiran seseorang tidak sekadar kuat, tetapi juga menjadi tempat bertumbuh bagi banyak kehidupan lain di sekitarnya. Ia telah selesai dengan dirinya sendiri, dan justru karena itu, ia bisa hadir sepenuhnya untuk orang lain.
