Konten dari Pengguna

Mengapa Banyak Fresh Graduate Sulit Mendapatkan Pekerjaan?

Epan avanja

Epan avanja

saya adalah seorang mahasiswa universitas pamulang

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Epan avanja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi fresh graduate https://www.pexels.com/id-id/foto/hitam-dan-putih-hitam-putih-hitam-putih-hitam-putih-15490406/
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi fresh graduate https://www.pexels.com/id-id/foto/hitam-dan-putih-hitam-putih-hitam-putih-hitam-putih-15490406/

Setiap tahun, banyak masyarakat Indonesia yang menyelesaikan pendidikan dan mulai mencari pekerjaan. Bagi fresh graduate, mendapatkan pekerjaan tidak selalu mudah karena mereka harus bersaing dengan banyak pencari kerja lainnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada Agustus 2025 jumlah angkatan kerja di Indonesia mencapai 154 juta orang. Dari jumlah tersebut, 146,54 juta orang sudah bekerja, sedangkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) mencapai 4,85 persen atau sekitar 7,46 juta orang. Data tersebut memang bukan khusus untuk fresh graduate, tetapi menunjukkan bahwa persaingan dalam mencari pekerjaan di Indonesia cukup besar. Bagi lulusan baru yang belum memiliki banyak pengalaman kerja, kondisi ini dapat menjadi salah satu tantangan.

Salah satu penyebab fresh graduate sulit mendapatkan pekerjaan adalah adanya perbedaan antara kemampuan yang dimiliki dengan keterampilan yang dibutuhkan perusahaan. Saat ini, perusahaan tidak hanya melihat ijazah, tetapi juga mencari calon karyawan yang mampu berkomunikasi, bekerja sama dalam tim, menggunakan teknologi, menyelesaikan masalah, dan beradaptasi dengan perubahan. Hal ini didukung oleh survei International Labour Organization (ILO) terhadap 2.442 pemuda berusia 15-24 tahun di 10 kota di Indonesia. Hasil survei menunjukkan bahwa 47,3 persen responden merasa pendidikan yang mereka terima belum memberikan keterampilan dan pengetahuan yang cukup untuk memasuki dunia kerja. Artinya, pendidikan formal saja belum tentu membuat seseorang langsung siap bekerja. Pengalaman dan keterampilan tambahan juga penting untuk menghadapi kebutuhan dunia kerja.

Masalah ini juga berhubungan dengan perencanaan sumber daya manusia (SDM). Perusahaan perlu mengetahui berapa banyak karyawan yang dibutuhkan dan kemampuan apa yang harus dimiliki oleh karyawan tersebut. Kebutuhan tersebut dapat berubah karena perkembangan bisnis dan teknologi. Oleh karena itu, perusahaan perlu menyesuaikan perencanaan SDM dengan perubahan yang terjadi. Di sisi lain, perguruan tinggi juga perlu mengetahui keterampilan apa yang dibutuhkan oleh dunia kerja agar mahasiswa mendapatkan pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Dengan begitu, masalah fresh graduate yang sulit mendapatkan pekerjaan tidak hanya menjadi tanggung jawab lulusan, tetapi juga menjadi perhatian perusahaan dan dunia pendidikan.

Menurut penulis, fresh graduate juga perlu mempersiapkan diri sebelum masuk ke dunia kerja. Memiliki ijazah memang penting, tetapi kemampuan lain juga perlu dikembangkan. Mahasiswa dapat menambah pengalaman melalui magang, organisasi, pelatihan, sertifikasi, proyek, atau kegiatan lainnya. Kemampuan menggunakan teknologi dan berkomunikasi juga perlu diperhatikan. Perusahaan pun dapat membantu dengan memberikan kesempatan kepada lulusan baru melalui program magang, pelatihan, management trainee, atau pekerjaan tingkat awal. Berdasarkan survei ILO, 89 persen pemuda yang merasa yakin dapat memperoleh pekerjaan yang layak pernah mengikuti kegiatan yang menghubungkan pendidikan dengan dunia kerja, seperti magang, kunjungan ke perusahaan, atau kegiatan bersama praktisi industri. Hal ini menunjukkan bahwa pengalaman kerja sejak masa pendidikan dapat membantu mempersiapkan seseorang memasuki dunia kerja.

Pada akhirnya, sulitnya sebagian fresh graduate mendapatkan pekerjaan di Indonesia bukan hanya karena mereka belum memiliki pengalaman. Masalah ini juga berkaitan dengan apakah kemampuan yang dimiliki lulusan sudah sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Karena itu, perencanaan SDM perlu menjadi perhatian bersama antara pemerintah, perguruan tinggi, perusahaan, dan masyarakat. Perguruan tinggi perlu membantu mahasiswa memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, perusahaan perlu memberikan kesempatan bagi lulusan baru untuk belajar dan berkembang, sedangkan fresh graduate perlu terus meningkatkan kemampuan mereka. Dengan adanya kerja sama dari berbagai pihak, diharapkan jarak antara kemampuan lulusan dan kebutuhan dunia kerja di Indonesia dapat semakin berkurang.