Dari Sisa Bolu menjadi Produk Baru: Inovasi Pemanfaatan Limbah Mangga

Mahasiswa Universitas Diponegoro
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari M Iqtada Binnabi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pekalongan (02/08/2024) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro menyelenggarakan salah satu program unggulan KKN Tim II Universitas Diponegoro di Desa Pucung yaitu Pengembangan Potensi dan Pengolahan Buah Mangga di Desa Pucung.
Kabupaten Pekalongan merupakan kabupaten yang terkenal dengan penduduknya yang berprofesi sebagai petani. Termasuk yang ada dalam Kecamatan Tirto. Selain padi, Kecamatan Tirto juga banyak yang berprofesi sebagai petani buah mangga. Salah satu desa di Kecamatan Tirto sebagai penghasil buah mangga adalah Desa Pucung. Beberapa warga Desa Pucung memiliki usaha sebagai pengepul mangga. Permasalahan yang ada yaitu mayoritas mangga dijual dalam bentuk segar dan tidak diolah sama sekali oleh warga setempat yang didominasi oleh pelaku konveksi dan belum memiliki kesadaran untuk memanfaatkan mangga sebagai produk olahan.
Melihat potensi tersebut, mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro berinisiatif untuk mengembangkan potensi dan mengolah mangga di Desa Pucung menjadi produk olahan khas yang dapat dikenal masyarakat luas. Beberapa produk olahannya yaitu bolu kukus mangga pucung, puding mangga, dan mango sticky rice. Mahasiswa memberikan penyuluhan dengan memberikan modul yang berisi cara pengolahan, pemasaran, dan pengolahan limbah.
Mahasiswa KKN Tim II Universitas Diponegoro yang bernama M. Iqtada Binnabi memberikan ide pengolahan limbah buah mangga diantaranya kulit, biji, dan sisa daging buah yang tidak terpakai menjadi ecoenzyme.
Ecoenzyme merupakan larutan zat organik kompleks yang terbuat dari proses fermentasi residu organik, gula, air dengan perbandingan 3:1:10. Ecoenzyme bermanfaat sebagai pengusir serangga secara alami, mampu merangsang hormon pertumbuhan, meningkatkan kualitas buah dan sayuran, membersihkan air yang tercemar, dan dapat digunakan untuk membersihkan peralatan dapur. Cara pembuatan Ecoenzyme dibutuhkan bahan gula merah, sampah organik. dan air murni dengan perbandingan 1:3:10. Campurkan ketiga bahan tersebut dalam botol dan biarkan selama 3 bulan ditempat kering dan sejuk. Selama 2 minggu pertama, buka botol ecoenzyme setiap hari agar gas yang terbentuk dapat keluar dari botol bekas. Setelah difermentasi selama 3 bulan, saring ecoenzyme dengan menggunakan kasa atau saringan.
Pelaksanaan kegiatan ini disambut baik oleh ibu-ibu Fatayat dilihat dari keaktifan ketika sesi tanya jawab. Program unggulan ini diharapkan dapat menarik warga Desa Pucung khususnya ibu-ibu untuk memanfaatkan potensi mangga yang ada menjadi produk olahan khas. Selain itu, mampu untuk memasarkan produknya secara luas dan mampu mengolah limbah hasil olahan menjadi produk yang berguna.
