Kumparan Logo

3 Ribu Hektare Sawah di Aceh Masih Rusak Berat Imbas Banjir Bandang Akhir 2025

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto udara sawah terdampak bencana di Aceh. Foto: Dok. Satgas PRR/Pemprov Aceh
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara sawah terdampak bencana di Aceh. Foto: Dok. Satgas PRR/Pemprov Aceh

Hampir setahun setelah banjir bandang menerjang Aceh pada November 2025, sekitar 3.000 hektare sawah di provinsi itu masih belum pulih.

Di sebagian lokasi, lumpur setebal hingga 2 meter masih menimbun lahan, sehingga petani belum bisa kembali menanam padi. Penanganannya diperkirakan berlanjut hingga 2027.

Penanggung Jawab Swasembada Pangan Aceh, Agus Susanto, mengatakan sekitar 57 ribu hektare lahan pertanian terdampak bencana hidrometeorologi. Dari jumlah itu, kini tinggal sekitar 3.000 hektare yang rusak berat.

“Dari sekitar 57 ribu hektare, tinggal sekitar 3.000 hektare yang kerusakannya berat,” kata Agus saat meninjau pemulihan lahan pertanian di Desa Gampong Baro, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen, seperti dilansir dari Antara, Minggu (25/10).

Agus menyatakan, pemulihan sawah dilakukan lewat program optimalisasi lahan dan rehabilitasi. Sejumlah lahan yang sebelumnya tertimbun lumpur kini sudah dibersihkan dan kembali ditanami. Sebagian wilayah lain bahkan sudah memasuki masa panen.

Pekerja menggunakan alat berat saat membersihkan dan merehabilitasi lahan pertanian yang sempat tertimbun lumpur bencana banjir di Desa Mideun Jok, Samalanga, Bireuen, Aceh, Sabtu (2/5/2026). Foto: Irwansyah Putra/ANTARA FOTO

Namun kerusakan berat masih ditemukan di sejumlah daerah, termasuk Kabupaten Aceh Utara dan Bireuen. Di Bireuen, sekitar 250 hektare lahan masih rusak berat dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

Agus menyebut pemulihan lahan yang rusak berat membutuhkan waktu, tenaga, anggaran, serta dukungan alat dan mesin pertanian. Di beberapa lokasi, tebalnya lumpur membuat prosesnya lebih sulit.

“Pertanian ini sangat membutuhkan waktu, energi, sumber daya, dan sangat tergantung pula dengan kondisi cuaca,” ujarnya.

Penanganan sebagian lahan rusak berat telah dimulai di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya. Pemerintah mengerahkan alat berat untuk mengangkat lumpur dan material yang menimbun sawah, sebelum lahan diolah kembali.

Jagung Jadi Alternatif Sementara

Bagi petani yang lahannya belum bisa ditanami padi karena timbunan lumpur terlalu tebal atau bercampur material batuan, pemerintah menyiapkan alternatif berupa tanaman jagung. Bantuan benih jagung rencananya disalurkan mulai akhir Oktober 2026.

Agus menegaskan, penanaman jagung bersifat sementara dan tidak menggantikan fungsi sawah secara permanen. Pemerintah tetap berupaya mempertahankan luas sawah sekaligus menjaga keberlanjutan penghidupan petani.

Meski sebagian lahan belum pulih, Agus optimistis hasil panen musim tanam rendeng dapat meningkat dibandingkan 2025. Hal itu seiring pulihnya lahan dan membaiknya pertumbuhan tanaman.

Produktivitas padi dengan metode konvensional umumnya mencapai hasil 5-6 ton per hektare. Lewat penerapan sistem pertanian modern, kata Agus, pemerintah menargetkan hasil naik menjadi 10-11 ton per hektare.