Pilihan itu kumparan

Perangkai Fakta dan Makna - Jurnalis Liputan Khusus kumparan
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Erandhi Hutomo Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Juli 2018 menjadi titik balik saya sebagai jurnalis. Senja kala media cetak -selain soal kesejahteraan dan jenjang karier tentunya- memang jadi salah satu pertimbangan saya memutuskan keluar dari koran tempat bekerja saya dulu, dan bergabung ke kumparan.
Di saat itu, pola pikir sebelumnya sebagai wartawan koran yang 'santai', mau tidak mau dipaksa berubah menjadi cepat, sekaligus tepat, khas media daring.
Drastisnya perubahan bekerja di kumparan yang menuntut kecepatan di awal memang tidak mudah. Tapi adaptasi jadi rumus mutlak yang harus dimiliki wartawan.
Memilih pindah ke kumparan setidaknya membuat saya lebih hidup, ketimbang berada di zona nyaman. Sesuai perkataan latin, Opto Ergo Sum, aku memilih maka aku ada. Dan pilihan itu kumparan.
Kerja di kumparan jelas meningkatkan kecepatan menulis saya. Di samping itu, kemampuan menyunting tulisan juga diasah tiap harinya. Mulai dari menentukan judul yang menarik sampai menghindari tipo.
Saya tidak terlalu ingat apa tulisan pertama yang saya edit di kumparan, tapi pasti itu tidak jauh dari isu politik, pemerintahan, atau hukum. Sekali-sekali mengedit berita internasional, apalagi kalau sedang jadi pemred dini hari (baca: piket malam).
Sampai akhirnya pandemi COVID-19 datang. Bersyukurnya, kumparan cepat mengambil sikap agar seluruh karyawannya bekerja dari rumah, di saat perusahaan lain masih berhitung untung rugi. Karena memang tak ada berita seharga nyawa.
Saat jurnalisnya positif COVID-19 pun -termasuk saya- kumparan sangat memperhatikan dengan menyuplai obat-obatan dan makanan.
Dampak COVID-19 bukan cuma soal kesehatan. Sektor yang paling parah terdampak, ya, justru ekonomi. Banyak perusahaan goyang, gaji bulanan pekerja yang jadi korban. Bersyukur itu tak terjadi di kumparan.
Memang, tak bisa dipungkiri, efisiensi membuat beberapa rekan kerja hengkang. Saat proses itu terjadi, saya berpikir akan menjadi salah satunya. Saya sudah berpikir alih profesi jadi saudagar. Tapi lagi-lagi bersyukurnya, saya masih diberi kesempatan hingga saat ini.
Setelah 3 tahun mengedit berita alias tim tak tek tak tek, saya ditugaskan masuk divisi kopassus kumparan. Awalnya hanya diproyeksi sementara, nyatanya terus sampai sekarang.
Di tim lipsus, naluri sebagai wartawan dan kreatifitas menulis kembali diasah layaknya reporter lapangan. Ilmu selama jadi wartawan koran berguna di desk ini. Saya bisa menulis secara komprehensif dan mendalam, sesuatu yang jarang dimiliki media daring kebanyakan.
Di lipsus pula saya bisa liputan lagi ke lapangan dan daerah -ke luar negeri belum- setelah dalam beberapa tahun hanya di kantor atau rumah untuk mengedit berita.
Bagi mayoritas wartawan, wawancara tokoh penting memang sesuatu yang didamba-dambakan. Tapi bagi saya, turun ke lapangan mewawancara para narasumber di daerah lebih menantang.
Masa kerja saya di kumparan juga sudah lebih panjang dari tempat pertama. Kini memasuki tahun keempat di kumparan dan tahun kedelapan sebagai jurnalis, saya harus menjalani ujian kompetensi wartawan (UKW). Alhamdulillah, saya lulus UKW dan menjadi sebenar-benarnya wartawan.
