Limbah Sawit Jadi Alternatif, Tim Ekspedisi Patriot Unpad Tinggalkan Sagu

Asisten Peneliti di Kementerian Transmigrasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Erfransdo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) merupakan program yang melibatkan 10 perguruan tinggi negeri untuk mendukung pengembangan kawasan transmigrasi melalui pendampingan dan penguatan potensi ekonomi masyarakat, termasuk pemanfaatan limbah pertanian yang tersedia di lokus riset.
Salah satu tim yang ditempatkan di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, adalah TEP 5 Universitas Padjadjaran (Unpad). Tim ini menjalankan kegiatan di Distrik Bomberay dan Tomage dengan salah satu fokus pada pemanfaatan limbah pertanian untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Namun, kondisi di lapangan membuat rencana tersebut harus mengalami penyesuaian.
Rencana Awal
Sebelum turun ke lapangan, TEP 5 Unpad berencana memanfaatkan limbah sagu sebagai salah satu bahan utama pengolahan pupuk organik atau kompos. Sagu dipilih karena menjadi salah satu komoditas yang ditemukan di sejumlah kampung di Distrik Bomberay.
Setelah melakukan survey serta peninjauan dan berdiskusi dengan masyarakat, tim menemukan persoalan yang tidak diperkirakan sebelumnya.
Produksi sagu sedang terhenti akibat musim kemarau yang berlangsung sudah hampir lima bulan. Kondisi tersebut membuat limbah sagu yang diharapkan tersedia juga sulit diperoleh.
Bagi tim, kondisi ini membuat rencana awal tidak bisa diterapkan begitu saja sehingga harus mencari alternatif limbah lainnya yang tersedia.
Limbah Kelapa Sawit jadi Alternatif
Bersama penyuluh pertanian lapangan (PPL) Distrik Bomberay, TEP 5 Unpad kemudian mencari alternatif bahan yang lebih mudah ditemukan di sekitar Distrik Bomberay-Tomage.
Perhatian kemudian diarahkan pada limbah kelapa sawit, terutama tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dan pelepah sawit.
TKKS dan pelepah sawit mulai diuji sebagai bahan pelengkap pakan ternak melalui proses fermentasi. Dalam uji awal, TKKS dicampur dengan daun gamal, tepung sagu, gula merah, EM4, dan air.
Uji tersebut masih berada pada tahap awal. Tim masih menunggu hasil fermentasi dan pengujian lebih lanjut sebelum menentukan potensi pemanfaatannya sebagai pakan ternak.
Tak Hanya Mengolah Limbah Kelapa Sawit
Selain menguji limbah sawit untuk pakan ternak, TEP 5 Unpad juga mengembangkan pengolahan kompos bersama petani di Kampung Onim Jaya.
Sejumlah bahan yang digunakan antara lain kotoran ternak, pelepah dan batang pisang, serta daun gamal. Pengolahan dilakukan dalam skala uji untuk melihat formula yang dapat menghasilkan kompos sesuai kebutuhan.
Kegiatan tersebut juga diarahkan agar petani tidak hanya mampu memproduksi kompos, tetapi memahami perhitungan biaya produksinya. Tim turut mendampingi penghitungan harga pokok produksi sebagai bagian dari pengembangan usaha.
Menyesuaikan Program dengan Kondisi Lapangan
Perubahan dari limbah sagu ke limbah kelapa sawit menjadi bagian dari proses adaptasi TEP 5 Unpad selama berada di Bomberay.
Kondisi alam dan ketersediaan bahan di lapangan ternyata tidak selalu sesuai dengan rencana yang disusun sebelum program dimulai. Karena itu, pemanfaatan limbah pertanian harus disesuaikan dengan sumber daya yang benar-benar tersedia di lokasi penelitian.
Bagi tim, perubahan tersebut bukan berarti meninggalkan tujuan awal program. Sebaliknya, penyesuaian dilakukan agar kegiatan tetap relevan dengan kondisi masyarakat dan potensi yang ada di Distrik Bomberay-Tomage.
