Konten dari Pengguna

TEP Unpad Gelar Workshop Agrokompleks, Libatkan 90 Peserta di Bomberay

Erfransdo

Erfransdo

Asisten Peneliti di Kementerian Transmigrasi

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Erfransdo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tim Ekspedisi Patriot Unpad gelar workshop berbasis agrokompleks. Foto: dokumentasi penulis
zoom-in-whitePerbesar
Tim Ekspedisi Patriot Unpad gelar workshop berbasis agrokompleks. Foto: dokumentasi penulis

Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Padjadjaran (Unpad) menggelar Workshop Kolaborasi Agrokompleks di Balai Kampung Onim Jaya, Distrik Bomberay, Kabupaten Fakfak, Papua Barat, pada 6–7 Oktober 2026. Kegiatan ini melibatkan 90 peserta dari tujuh kampung untuk memperkuat pengetahuan masyarakat di bidang pertanian, peternakan, dan kelembagaan ekonomi kampung.

Workshop tersebut merupakan kolaborasi TEP Unpad Kelompok 3, Kelompok 5, dan Kelompok 9. Kegiatan dirancang melalui penyampaian materi, praktik pengolahan bahan pertanian dan peternakan, serta simulasi penguatan kelembagaan yang disesuaikan dengan kondisi masyarakat setempat.

Sejumlah pihak turut menghadiri kegiatan ini, di antaranya Kepala Distrik Bomberay M. Haremba, S.AP., Kapolsek Bomberay IPTU Aldin La Adi, serta Ketua Tim Kerja (KATIMKER) Penyuluh Pertanian Kabupaten Fakfak, Benyamin Unwakoly, S.P., M.Si. Kegiatan ini juga dihadiri para ketua kelompok TEP Unpad yang terlibat dalam kolaborasi.

Bahas Pertanian Berkelanjutan hingga Pengembangan BUMKam

Pada hari pertama, Selasa (6/10), workshop diisi dengan talkshow dan tiga sesi pematerian. Materi pertama, “Probiotik Pertanian untuk Pertanian Berkelanjutan”, disampaikan Apri Larastio dari Yayasan Agatho Organic Farm.

Materi berikutnya membahas manajemen produksi, pakan, dan reproduksi sapi potong yang dipelihara secara semiintensif dan ekstensif. Sesi ini disampaikan Imran Rasyadi Rumata, S.Pt., M.Pt., Pengawas Tingkat Madia Kesmavet, Pengolahan, dan Pemasaran, bersama Arkhiadi Benauli, S.P., dari Badan Karantina Indonesia.

Sementara itu, materi mengenai “Pengembangan BUMKam Berbasis Inovasi Sosial” disampaikan Dr. Yulistyne Kusumaningrum, S.Sos., M.MKMT., Direktur PT Inovasi Strategi Nusantara sekaligus anggota Asosiasi Pendamping Koperasi Modern.

Rangkaian materi tersebut mempertemukan isu produksi pertanian dan peternakan dengan penguatan kelembagaan ekonomi di tingkat kampung. Dengan demikian, pengembangan potensi lokal tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga membutuhkan pengelolaan dan kelembagaan yang mendukung keberlanjutannya.

Peserta Praktik Membuat Probiotik, Silase, dan Kompos

Pada hari kedua, Rabu (7/10), peserta mendapatkan materi mengenai peraturan di bidang karantina hewan dan penerapan biosecurity pada peternakan sapi potong semiintensif dan ekstensif. Materi disampaikan oleh drh. Dwi Gita Ananda dan Andriani Datu, S.Pi.

Praktik pembuatan kompos yang diikuti oleh petani Bomberay. Foto: dokumentasi penulis

Peserta kemudian mengikuti praktik pembuatan probiotik, silase, dan kompos. Melalui sesi ini, petani dan peternak berkesempatan mempelajari tahapan pengolahan bahan yang dapat dimanfaatkan dalam kegiatan pertanian dan peternakan.

TEP Unpad juga membagikan buku saku kepada peserta. Buku tersebut memuat panduan pembuatan probiotik, silase, dan kompos sehingga dapat digunakan sebagai referensi praktis setelah kegiatan berakhir.

Pembagian buku saku menjadi salah satu upaya agar pengetahuan yang diperoleh selama workshop dapat dipelajari kembali dan diterapkan secara mandiri oleh masyarakat dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.

Simulasi Kelembagaan Jadi Dasar Pendampingan Berikutnya

Selain penguatan teknis pertanian dan peternakan, workshop juga mengangkat persoalan kelembagaan melalui sesi Roleplay Kelembagaan yang dipandu Dr. Yulistyne Kusumaningrum.

Simulasi kelembagaan untuk memetakan potensi dan kendala di Distrik Bomberay. Foto: dokumentasi penulis

Dalam sesi tersebut, peserta melakukan simulasi untuk mengidentifikasi potensi, kendala, serta rencana realisasi kelembagaan berdasarkan kondisi kampung masing-masing. Hasil simulasi ini akan menjadi dasar penyusunan pelatihan kelembagaan berikutnya.

Pendampingan lanjutan direncanakan dengan mempertimbangkan kebutuhan dan persoalan yang telah diidentifikasi peserta. Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu pengurus Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) dan kelembagaan masyarakat menyusun langkah pengembangan yang lebih terarah.

Salah satu peserta, Royali, perwakilan pengurus BUMKam dari Kampung Pinang Agung, menilai kegiatan tersebut membuka peluang bagi pengurus untuk mengembangkan kolaborasi di kampungnya.

“Manfaatnya sangat luar biasa. Yang tadinya kami pengurus BUMKam itu buntu jalan, dengan adanya kegiatan ini, kami merasa terbuka jalan sehingga dapat memperluas lagi kolaborasi dengan masyarakat yang ada di Kampung Pinang Agung,” ujar Royali.

Ia berharap kegiatan serupa dapat lebih sering dilaksanakan agar masyarakat memperoleh tambahan pengetahuan. Royali juga berharap ada pelatihan khusus bagi pengurus BUMKam, terutama untuk menyiapkan generasi muda yang akan datang.

Kolaborasi Tiga Kelompok TEP Unpad

Workshop Kolaborasi Agrokompleks merupakan bagian dari kegiatan TEP Unpad di kawasan Bomberay–Tomage. Melalui kolaborasi Kelompok 3, Kelompok 5, dan Kelompok 9, kegiatan ini menggabungkan penguatan pertanian, peternakan, dan kelembagaan masyarakat dalam satu rangkaian.

Kapolsek Bomberay IPTU Aldin La Adi menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan workshop tersebut. Ia berharap kegiatan ini membawa manfaat bagi masyarakat setempat.

“Saya berharap kegiatan ini membawa sesuatu yang baru demi terwujudnya masyarakat Bomberay yang lebih sejahtera, makmur, dan sehat,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, TEP Unpad mendorong penguatan kapasitas masyarakat dengan menggabungkan pengetahuan teknis dan pengembangan kelembagaan. Hasil identifikasi potensi serta kendala dalam workshop akan menjadi pijakan untuk menyusun pendampingan lanjutan sesuai kebutuhan masing-masing kampung.