Konten dari Pengguna

Jangan Ragu Bila Menjagokan Alter Ego Juara MPL ID S7

Eri Muriyan

Eri Muriyan

Eri Muriyan. Kadang mengamati video game dan esport. Seringnya memberi makan kelinci pagi dan malam.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eri Muriyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jangan Ragu Bila Menjagokan Alter Ego Juara MPL ID S7
zoom-in-whitePerbesar

Pertandingan penutup pekan pertama MPL ID yang manis untuk Alter Ego. 2-0 mengalahkan Geek Fam, setelah hari sebelumnya 2-0 mengalahkan RRQ. Empat game, empat kemenagan. Satu-satunya tim yang meraih kemengan sempurna di pekan pertama. Menjadikan AE memuncaki klasemen sementara.

Empat game AE bertanding dengan roster utama. Celiboy, Udil, Leo Murphy, PAI, dan Ahmad. Roster yang sama saat final MPL season 6, roster yang sama saat menyapu bersih MPLI. AE nampaknya menginjak pedal gas di pekan pertama ini, bahkan bisa jadi akan terus menginjak gas hingga pekan-pekan selanjutnya demi mengamankan upper bracket babak play off nantinya. Bukan muluk-muluk, mengingat season sebelumnya juga memuncaki klasemen regular season.

Amatan ini bukan tanpa alasan, performa apik ditujukkan lagi roster utama AE dengan sebaik-baiknya di pekan pertama ini. Saya akan bilang begini: Alter Ego sedang berada di level yang berbeda dengan tim-tim MPL Indonesia lainnya. Mungkin berlebihan, sebab kita baru melihat semua tim tampil, tapi belum melihat semua tim mengeluarkan performa terbaiknya. Tapi mungkin juga tidak berlebihan, saya telah menulis Meta Agresif M2 yang diterapkan Alter Ego di pertandingan melawan RRQ. Dan di pertandingan melawan Geek Fam, saya menyadari ada yang lebih mengerikan dari meta agresif di dalam diri Alter Ego.

Saya akan jabarkan kenapa AE layak dijagokan dan kenapa AE berasa di level yang berbeda dengan tim lainnya. Pertama sebab Meta Agresif sebagaimana saya tulis di artikel saat menang menaklukkan RRQ. Meta Agresif berhasil diterapkan dengan gameplan serta gameplay yang berani juga rapi sejak dalam pikiran, draft pick, hingga eksekusi tim di dalam game. Hasilnya AE bisa menguasai permainan, menginisiasi setiap war, mendominisasi lawan, bukan sebaliknya. Dua game di menit pertama melawan Geek Fam AE melakukan movement dan rotasi menekan ke area jungle lawan. Sebuah gertakan sekaligus menunjukkan bagaimana mereka aktif bermain dan ingin menguasai permain sejak menit pertama. Catat.

Geek Fam meski kalah, tapi sebenarnya Geek Fam memberi perlawanan yang sengit di game pertama. Geek Fam menjukkan performa perlawanan apik di pekan pertama. Geek Fam sudah melawan dengan sebaik-baiknya. Sayangnya, lawan mereka di pekan pertama langsung dua tim terbaik Indonesia, finalis season lalu. Satu sinyal bahaya dari Geek Fam untuk lima tim lain yang akan menemui mereka di pekan-pekan selanjutnya.

Kedua, Alter Ego barangkali tidak berisikan pemain bertabur bintang atas gelar juara, kecuali Udil. Kedatangan Udil benar-benar melengkapi apa yang dibutuhkan AE, high skill, mental, nuansa baru, aura juara, kedewasaan, level tim, Bisa dibilang Udil Effect menjadi salah satu alasan di balik perkembangan pesat AE saat ini. Udil menyempurnakan AE sebagi tim. Tapi Udil bukan segala-galanya, sebab tim tetaplah tim. Justru Udil juga bahkan yang merasa mendapatkan keluarga sesungguhnya di AE setelah kepindahannya dari Onic.

Performa bagus roster utama AE ini hampir saja mengantarkan mereka juara andai tidak dijegal Alberttt si baby alien di final seaaon lalu. Pengandaian memang tidak mengubah apa-apa, tapi pengandaian jelas mempertajam perspektif memandang dan menghadapi tujuan. Dan di pekan pertama MPL season 7, AE memberi sinyal bahaya bagi siapa saja yang berani menghalangi tujuan mereka. AE benar-benar haus juara, bersama kesabaran management membersamai perjalanan panjang tim dan kendali coach Nasi Uduk.

Ketiga, kehausan akan juara AE saat ini, ditunjukkan dengan mantap tanpa adanya pergantian roster dari season 6. Sangat positif sebab chemistry dalam tim sudah tebentuk. Dibanding tim tim lain yang butuh membangun ulang dengan roster out-in mereka. Satu-satunya tim yang memasuki season tanpa pergantian roster. Catat lagi.

Keempat, sudah saatnya memandang Alter Ego dari segala sisi. Coach dari segi draft yang selalu menarik. Leo Murphy si penguasa area map land of dawn, tidak ada yang lebih berani dibanding Murphy untuk saat ini. Ia bukan tank murni, ia bukan tank inisiator, ia bukan bukan tank rusuh, tapi Leo Tas Tas Murphy merangkum semuanya. Celiboy the miracle boy, yang semakin matang dan sering menciptakan momen-momen ajaib. Ia bukan asasin, ia bukan marksman, ia bukan mage midlaner lagi, tapi Celliboy menjelma semuanya.

Udil agaknya tidak perlu dijabarkan. Lanjut Ahmad, perpindahannya dari core mage midlaner ke sidelaner tidak mematikannya, malahan menjadikannya semakin kaya akan penguasaan hero. Yu Zhong, Harith, Benedetta, dan sederet lainnya. Menjadi salah satu sidelaner yang ditakuti, R7 sudah harus waspada julukan sidelaner terbaiknya dicuri. Terakhir PAI. Sudah saatnya publik menyiapkan julukan untuk PAI, mungkin tak lama lagi dengan julukan PAI Si Petinju. Lihatlah bagaimana Paquito di tangan PAI menjadi ganas bila dibanding sidelaner lain yang menggunakannya. PAI juga ganas dengan Wanwan dan Chou di pekan pertama. Bahkan antara Chou dan Paquito bisa saling bertukar role hero antara PAI dengan Murphy. Menjadikan mereka terlihat tidak bisa ditebak.

Dengan kata lain, hero pool Alter Ego luas. Sebuah syarat meracik bermacam gameplay dari line up yang tersedia agar tidak dibaca lawan. Dan alasan kelima sebagai alasan terakhir adalah. Semua hero di tangan AE nampaknya berhasil dimaksimalkan pontensinya dengan sangat maksimal. Artinya beda hero beda potensi, beda pula cara bermain individu, beda pula cara bermain tim. Kita bisa melihat bagaimana PAI benar-benar memaksimalkan skill dan pasif Paquito secara aktif, keluar masuk seleluasa dia mau. Yu Zhong di tangan Ahmad jelas bukan sekadar Execute, namun dimainkan untuk merangsek masuk ke peetahanan lawan. Cukup mencolok perbedaannya dengan sidelaner lain yang malah akhir-akhir ini menggunakan spell Vengeance.

Saya teringat kata-kata Antimage saat Onic digdaya di season 3, "Saya bersama Udil sering melakukan custom berdua untuk mencoba skill dan item demi menemukan gameplay hero terbaik untuk momen-momen terbaik dan item yang tepat". Kira-kira begitu. Agaknya Onic kehilangan ketelitian memaksimalkan potensinya dahulu, sementara AE memaksimalkannya. Saya juga jadi penasaran dengan bagaimana pola latihan, bonding team, evaluasi, dan coaching yang dilakukan management AE, hingga AE menghasilkan tim seperti sekarang. Itupun kata Ahmad saat diwawancara baru 90%, 10%nya masih disimpan.

Sebagai penutup, pertandingan sengit game pertama melawan Geek Fam, Udil menciptakan penyelamatan. Siapa mengira Udil bisa mengganggu percobaan inisiasi lord Geek Fam. Menempel Babywww dan empat player Geek Fam sendirian dengan briliance order, lalu mendapatkan triple kill dan menggagalkan lord. Momen untuk membalikkan keadaan saat hampir tertekan dan mendapatkan kemenangan untuk AE. Next level mekanik hero dimiliki player-player AE. Pada puncaknya semua itu dimiliki Alter Ego sebagai tim. []