Meta Agresif M2: AE Sudah Belajar, RRQ belum

Eri Muriyan. Kadang mengamati video game dan esport. Seringnya memberi makan kelinci pagi dan malam.
Tulisan dari Eri Muriyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Duel Alter Ego melawan RRQ sudah terjadi di pekan pertama MPL ID season 7. Memang bukan El Clasico bila mengacu gengsi tim antara RRQ dengan Evos yang sangat besar. Namun, semua pertandingan AE dengan RRQ setelah final MPL season 6, menjadi amat layak ditonton. Dua tim yang benar-benar sangat kuat, mengingat Evos yang belum dalam perfoma terbaik. Bukan El Clasico baru secam Louvre dan Onic season 3 pula. Tapi AE melawan RRQ merupakan pertandingan yang di dalam gamenya lebih seru dan menegangkan, ada ingatan dramatis menyelimuti di setiap pertemuan mereka.
Kedua tim ini sama-sama gagal membawa pulang piala M2 World Championship. Kegagalan yang sangat tidak diprediksi barangkali oleh semua komunitas Mobile Legend di Indonesia. Kenyataan memang berkata lain, semua streamer dan caster yang tampil di publik pada awalnya sebelum kekalahan terjadi, bermuka ceria dan antusias. Sebab semua optimis piala M2 akan dibawa pulang tim Indonesia. Keyakinannya barangkali 100%. Mengingat betapa kuatnya AE dan RRQ di final MPL season 6, final paling panjang, paling sengit, sekaligus amat sangat dramatis dalam sejarah Mobile Legend. Lalu AE balas dendam dan melibas semua lawan di MPLI One Esport Championship dengan kemenangan sempurna tanpa tekalahkan. Masuk akal.
Pada akhirnya semua penggemar bersedih, mungkin juga mengumpat. Banyak piala sudah didapat RRQ, namun piala kelas dunia belum, begitu juga AE. Burmese Ghoul ternyata lebih kuat dengan gameplay agresif dan kejelian meta rahasia Claude dan Digienya. Di M2, Burmese seolah berada satu level di atas permainan tim Indonesia. Harus diakui, pola farming tim Indonesia dilibas dengan meta agresif tim Myanmar. AE juga sama, setelah mengalahkan Bren Esport 3-0 di MPLI ternyata AE dibalas 2-0 dua kali di M2. Lagi-lagi karena gameplay agresif dan hero Claude. Indonesia seolah tidak menyadari gameplay agresif adalah meta terbaik saat itu dan betapa mengerikannya hero Claude bila didiamkan..
M2 berlalu. Hilangnya piala M2, harusnya membuat MPL season 7 semakin kompetitif dan menemukan meta baru dalam level yang lebih tinggi lagi. Pada kenyataannya di WSL, MDL, dan 4 game pertama MPL, nampaknya gameplay agesif tidak terlihat atau belum diterapkan tim Indonesia. Kita kerucutkan pada dua tim M2 ini: RRQ dan AE. RRQ seolah gagal belajar dari kekalahan di M2. RRQ hanya mengambil dan membawa hero Claude ke tier 1. Namun akhirnya meta gameplay agresif diambil dan berhasil ditunjukkan Alter Ego.
Saya akan mencoba menekankan apa dan bagaimana gameplay agersif ini memberi perbedaan dalam permainan. Pada awalnya tim Indonesia datang ke MPLI dan M2 dengan kuat sebab di atas kertas AE dan RRQ punya team fight yang kuat, chesmistry yang kuat. Namun ada satu kenyataan bahwa fokus permainan tim Indonesia masih pada farming mengandalkan hyper carry dan inisiasi serta rotasi tanknya. BG dan Bren dengan ketelitian menyadari celah itu dan berhasil mengalahkannya dengan strategi agresif (counter meta hyper carry yang menunggu farming) dan cukup menghukum Silvana hero tank andalan tim Indonesia dengan hero Digie dan Atlas.
Meta agesif ini berbeda dengan 'meta' bar-bar di season 4 dan 5. Dimana tank merusuh dan menguasai map serta hyper carry mengacak-acak semua lawan. Ada perkataan R7 yang saya ingat kira-kira begini, "Game Mobile Legend ini berbeda dengan Dota 2, di Dota 2 siapa yang bermain rapi dan disiplin menang, tapi di game Mobile Legend siapa yang bermain bar-bar akan menang". Maka tipe role core hyper carry bar-bar seperti Xinnn amat sangat menonjol di season itu.
Meta agresif yang ditunjukkan BG dan Bren lebih dari sekadar bar-bar. Sebab hyper carry sebagaimana ada di season sebelum adanya role jungler, nampaknya sudah mati. Sekarang yang ada hanya carry jungler yang memiliki keunggulan gold tidak terlampau jauh dengan support (juga tanpa item roam), dan dua sidelanernya (apalagi yang di gold lane). Tidak ada lagi satu hero yang bisa naik level dan kaya raya seenaknya sendiri. Maka bila teliti akhir-akhir ini, di early dan mid game lebih nampak sidelanernya yang memenangi team fight daripada jungler. Sidelaner mengangkat permainan game, jungler farming dan berguna di mid game menuju lategame. Hero Yi Sin Shin yang amat lekat dengan tim Indonesia adalah contoh nyata. MVP dan atau KDA lebih banyak diambil bukan oleh Yi Sun Shin.
Meta agesif ini mensyaratkan hero sidelane yang kuat, punya sustainability serta mobilitas tinggi, lalu tank yang punya crowd control dan tentu mobilitas tinggi, ditambah support mage yang juga punya mobilitas tinggi. Mobilitas tinggi akan menciptakan rotasi cepat hingga team fight yang solid dan kuat. Mobilitas rendah akan membatasi team fight dan rotasi sehingga pola permainan juga pasif dan harus berbeda.
Pada titik ini, meta agesif bukan hanya perkara menang hero early game. Tapi meta agresif adalah soal penciptaan team fight dari rotasi yang terencana. Mobile legend adalah game yang di early game saat tim mengalami keunggulan gold dan level akan mendapat keuntungan damage dan defend yang lebih kuat. Sesuatu yang tidak berguna di late game. Dari situ, meta agersif mendapatkan puncak kemenangan sebab pada akhirnya ia menguasai permainan. Puncak kemenangan dengan menguasi permainan terkristal pada kata kunci ini, yaitu penciptaan inisiasi untuk team fight yang menguntungkan.
Untuk menang team fight, kerapian, kesolidan, dan positioning adalah mutlak. Namun ada cara lebih mudah untuk memenangi team fight atau umumnya war, yaitu dengan mengisiasi team fight atau war saat lawan tidak benar-benar siap. Lebih mudah menculik lawan yang sendirian. Lebih membunuh lawan dengan mengeroyoknya. Lebih mudah menang saat jumlah hero lebih banyak. Lebih mudah menghukum lawan yang telat pulang ke areanya sendiri. Sederhananya lebih mudah membunuh lawan yang menghadap belakang dan tidak punya pilihan lari daripada membunuh lawan yang menghadap ke arah kita dalam kondisi siap menangkis. Persis seperti perkataan ahli perang dari China paling terkenal, Sun Tzu, "Mengetahui kemampuan lawan, menguasai medan perang, dan menyerang titik pertahan terlemah lawan dengan serangan mematikan".
Akhirnya, meta agresif adalah sebenar-benarnya permainan. Most Effective Tactic Available - Agresif. Taktik bermain terbaik dengan agresif. Meta agresif adalah meta menguasai permainan. Meta mendominasi permainan. Mengendalikan lawan, bukan dikendalikan lawan. Mengendalikan sayap kanan dan kiri side laner, memenangi jungle, memenangi rotasi, memenangi map, memanfaatkan keunggulan, puncaknya menginisiasi dan memegang kendali setiap war saat lawan tidak benar-benar siap war. Meta agresif terlihat cepat, menekan, dan mengagetkan. Perpaduan bermain bar-bar dan rapi. Bila dalam sepakbola ibarat perpaduan Tiki-taka Johan Cruyff dan Gegenpressing Jurgen Klopp. Bukan counter attack, pasif, parkir bus macam Jose Mourinho.
Sebelum pertandingan RRQ dan AE dimulai semua caster, streamer, dan penonton agaknya mengharapkan pertandingan sengit yang panjang dengan tiga match. Namum AE bersama Nasi Uduk sudah belajar dari M2. Meta agresif BG dan Bren yang mengalahkan RRQ dan mereka di M2, langsung diterapkan. Meta agresif digunakan AE untuk mengalahkan RRQ yang bermain pasif dan hanya mengambil hero tier 1 Claude dari M2. Sejujurnya saya tidak kaget. AE sudah berkembang sangat pesat sejak kedatangan Udil, final season 6, MPLI, M2, dan season sekarang tanpa pergantian roster.
Match pertama lihatlah bagaimana AE mengendalikan setiap war. Lima pemain AE seperti berlari dari sisi kanan, tengah, kiri, belakang, dan depan. Tepuk tangan saya berikan pada lima pemain AE dan Nasi Uduk utamanya semenit sebelum menit 17 dan semenit setelahnya. Bukan individu, melainkan tim, pergerakan mudur lima pemain setelah menekan area lawan, membiarkan lima pemain RRQ maju, lalu 4 orang menyerang maju dari depan sementara Ahmad berubah menjadi naga menusuk sisi belakang. Meski tidak berhasil, cara ini dicoba lagi, dan RRQ terjebak untuk untuk kedua kalinya. Berhasil sesuai rencana. Sungguh kombonasi pergerakan yang cantik. Pembelian item Winter Trunceon dan betapa bar-barnya Ahmad saat mengacak-acak bagian belakang RRQ hanya menjadi bukti bahwa mereka sangat percaya diri dengan rencana mereka.
Melihat Ahmad dengan Yu Zhongnya berkali-kali masuk ke belakang dan membunuh Vynnn, sudah biasa. Sekali lagi puncak agresifitas dengan inisiasi war yang terencana itu layak diberi tepuk tangan alih-alih hanya gimmick dan celetukan streamer yang tidak benar-benar sadar atas apa yang dilakuan Alter Ego. Lebih menohok, RRQ dikalahkan padahal sidelaner mereka adalah Esmeralda dan Benedetta setelah AE first pick Mathilda. "Ambil Esme dan Bene, kami Mathilda saja" barangkali kata Nasi Uduk. Berlanjut hero Paquito, Wan-wan, Harley dan Yu Zhong untuk AE. RRQ masih mendapat high ground mengerikan si burung Pharsa, lalu Akai, dan Granger setelah Hayabusa dan Yi Sun Shinnya diban. Line up hero hasil draft pick ini menggambarkan betapa matang rencana kemenangan Alter Ego sejak draft pick.
Setelah match pertama, match selanjutnya RRQ sudah hanyut dalam permainan AE, Acil sudah hanyut dalam draft pick pertama Nasi Uduk. Yu Zhong gantian diambil RRQ, Wan-wan dan Harley bahkan diban RRQ. Seolah fokus Acil hanya berdasar match pertama merespon permainan AE yang mendominasi mereka. Nasi Uduk dan kelima player Alter Ego nampaknya tetap tersenyum memainkan meta agresifnya, meski heronya tidak selincah line up hero match pertama namun Claude Albert berhasil dimatikan. AE siap melaju, sementara RRQ di bawah kendali coach Acil yang tidak membersamai di M2 belum sadar permainan apa yang sedang dilawannya. AE sudah belajar dari M2, RRQ belum. 2-0 tanpa perlawanan sengit, tanpa selebrasi cekek-cekek leher. []
