Pertandingan Pembuka MPL ID S7 yang Menggemaskan

Eri Muriyan. Kadang mengamati video game dan esport. Seringnya memberi makan kelinci pagi dan malam.
Tulisan dari Eri Muriyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Genflix Aerowolf melawan Bigetron adalah pertandingan pembuka Mobile Legend Profesional League Indonesia (MPL ID) Season 7. Pertandingan pertama dengan panggung offline di reguler season saat pandemi. Meski gangguan teknis sinyal terjadi cukup lama sebelum pertandingan dimulai, sorotan panggung beserta camera di depan masing-masing player yang menyala sedikit mengobati kekesalan menanti. Juga gangguan teknis yang tidak bisa menampilkan sesi draft pick cukup terbayar dengan tiga pertandingan sengit yang menggemaskan.
Saya hanya penikmat scene kompetitif Mobile Legend, bukan analis atau pun player profesional. Ini adalah tulisan pertama yang direncanakan rutin terus-menerus dari semua pertandingan. Semua pertandingan di MPL ID S7 kali ini bagi saya adalah besar, tidak ada pertandingan kecil. Banyak kejutan terjadi, terutama ingatan final match terakhir season lalu, juga hilangnya trophy M2 dari genggaman tim Indonesia menjadikan tim-tim Indonesia tidak bisa lengah. Jadi mari kita lihat lebih dalam, lebih dari sekadar siapa yang menang dan kalah.
Kita mulai dari match pertama. 33.07 menit, 26 vs 26 kill, 4 lord! Sangat late game untuk sebuah match pembuka. Penonton dipaksa membuka mata bahwa Genflix dan BTR siap memberikan perlawan sengit, seolah di match pertama memberi pesan bahwa mereka siap melawan siapa saja. Sekaligus penonton dipaksa bersabar untuk tidak buru-buru menyaksikan pertadingan selanjutnya yaitu tampilnya RRQ. "Santai dong, lihat kami dulu nih", mungkin kata mereka.
Most Effectif Tactic Available (Meta) season 7 kali ini barangkali benar adalah seperti yang katakan KB, sang analis, yaitu meta late game. Namun sebelum sampai ke sana, barangkali catatan penting harus diberikan pada keempat sidelaner kedua tim. Rinazmi dengan Lapu-lapu bertemu Matt dengan Chou. Lalu Marz dengan Benedetta bertemu Maxx dengan Hayabusa. Keempatnya bermain bagus bergantian memberi poin kill ke arah setiap war. Saya kira, tim-tim yang memiliki sidelaner kuat dan bertipe agresif akan menguasai pertandingan di early ataupun mid game. Mengingat hilangnya hyper carry atau jungler yang agresif sebab pengurangn exp dan gold di lane seperti saat ini membuat jungler menjadi cukup butuh waktu untuk farming. Sementara saat sudah level 4 sidelaner bisa langsung war bila ada inisiasi di mid lane atau ganking dari mid lane.
Tigreal, Luo Yi, dan Yi Sun Sin Jungler dimiliki Genflix. Jawhead, Silvana, dan Harley Jungler dimiliki BTR. YSS dan Harley tidak terlalu mendominasi. Tigreal dan Silvana, tidak menciptakan momen krusial. Namun malah Luo Yi dari Clay yang sering mengaktifkan ultimate untuk berteleportasi alih-alih pasif hanya untuk membuka map seperti player pada umumnya, malah akhirnya menciptakan momen yang membuka kemenangan di match pertama ini. Setelah mereka adu sidelane yang panjang. Setelah mereka adu combo culik dari hero-hero BTR dan adu combo skill area dari hero-hero Genflix.
Late game. Di atas kertas, Maxx dengan Hayabusa cenderung hanya bisa split push. Sekali dua kali berhasil. Tapi lawannya Marz dengan Benedetta. Di tengah-tengah lane atas, keduanya bertemu, sama-sama bermaksud untuk clear minion saja dan sama-sama menggunakan skill ultimatenya. Langsung Quad Shadow dipakai Maxx untuk kembali ke arah bush, dan di sini lah awal mula kekalahan untuk BTR. Saat Maxx sampai di bush, sampai jugalah Clay dengan Luo Yi berteleport di bush yang sama. Clay hanya berteleport sendirian, berpindah dari sisi mid lane ke atas disusul Tigreal yang membuka map ke arah bush buff merah lawan.
Barangkali Maxx panik, sekejap setelah ia melihat Luo Yi, ia langsung Quad Shadow ke arah sebaliknya yang ada Benedetta di sana. Maxx dengan Hayabusanya lari ke arah area lawan. Di kejar Benedetta dan Luo Yi, dihadang Yi Sun Sin. Ia mati terbunuh karena kehabisan skill untuk kabur. Menang jumlah, Genflix menginisiasi lord berlima lengkap. Saat darah lord tinggal sedikit, Kyy dengan Silvana dan Dreams dengan Jawhead masuk ke dalam area lord. Apa yang mereka berdua lakukan? Kyy dan Dreams mati. Barangkali sebuah ketidakdisplinan, dua teman yang lain tidak ada di dekat mereka, sementara Maxx masih cooldown respawn. Sebuah pilihan untuk war bila mereka berempat masihlah logis, saat tidak ada pilihan lain sebab kehilangan lord sama dengan kekalahan mengingat mereka hanya punya base turet. Kyy dan Dreams mati begitu saja. Lord milik Genflix, pertandingan pertama berakhir menjadi milik Genflix. Ketelitian Clay dengan Luo Yi membantu Benedetta ke arah atas, memaksa salah langkah untuk Maxx. Kedisplinan Genflix berlima di area lord memaksa Kyy dan Dreams salah langkah melakukan percobaan mencuri lord yang sia-sia.
Match kedua. Barangkali Genflix terlalu percaya diri setelah kemenangan di match pertama. Melepas Brody untuk BTR. Memang, mereka mendapat Paquito dan Mathilda, juga Harith yang dikenal sebagai salah satu hero yang bisa mengontes war melawan Brody. Barangkali itu skenario Genflix melepas Brody. Namun BTR memilih YSS sebagai jungler sementara Brody dijadikan support di mid lane. Catatan draft pick lainnya barangkali untuk BTR sebab mengambil Change sebagai high ground. Sebuah langkah berkebalikan untuk Genflix sebab tiga match mereka tidak memiliki hero support high ground dan mereka akan menyesal.
BTR punya Uranus di sisi atas, menit ke 17. Menit late game setelah mereka saling tukar menukar kill. Setelah sekian lama Uranus tidak digunakan di banyak tournament sebab bug, akhirnya gameplay Uranus late game split push dilakukan BTR. Lawannya Paquito Rinazmi. Clay dengan Mathilda datang membantu Rinazmi melakukan ganking ke Uranus. Tahu Uranus mereka melawan dua orang di atas, BTR menginisiasi lord. Berempat tanpa uranus, dengan change dan dua marksman, lord dengan mudah diambil BTR. Sebuah info terikan dari Matt dengan Uranus seperti direncanakan barangkali berbunyi, "Gue digank dua orang di atas, lord aja sekarang!", dan berhasil.
Match ketiga, match terakhir. Kadang-kadang respect ban juga perlu dilakukan. Tapi Genflix lupa setelah dua pertandingan berjalan, Branz tetaplah Branz, Branz dengan Claude seperti Rekt dengan Claude sebelum ia pindah role di Evos. Terjadilah BTR mengambil Claude untuk Branz di pick kedua dan lagi-lagi ditambah Change. Mungkin Genflix lupa lagi, mereka memilih Selena dan lagi-lagi bermain tanpa hero support high ground. Barangkali ingin bermain cepat.
Pada awalnya Genflix berhasil. Wajar sebab hero-hero mereka kuat di eraly game dan wajar BTR kalah di early game sebab mereka mengandalkan Claude yang butuh item. Hasilnya Genflix ungul 11 kill berbanding 3 kill milik BTR dengan selisih 4 ribu gold. Namun momen terjadi. Combo Claude, Change, ditambah Akai, Chou, dan Mathilda, kelimanya di mid lane, menghukum dua player Genflix yang terpisah dari tim. Dua player Genflix hilang.
Momen berlanjut, BTR menginisiasi lord berlima. Sementara Genflix hanya bertiga memaksa kontes lord sebab dua teman mereka baru saja hidup di base. Bencana terjadi untuk Genflix. Mereka bertiga mati, lebih mengenaskan lagi, dua player yang baru saja hidup, datang dan menyusul kematian teman-temannya. Wipeout. Di titik ini, nampaknya perjuangan mereka bermain rapi dan bagus hingga menyuguhkan pertandingan sengit di match pertama, match pembuka, seperti sia-sia. Lord dibawah menit 12 untuk apa harus mereka coba rebut saat kalah jumlah? Sampai di momen ini saya jadi lupa siapa saja nama pemain Genflix, mereka menyetorkan nyawa begitu saja kepada lima pemain BTR yang masih mempunyai resource skill lengkap. Awalnya tiga orang mati. Lalu dua orang yang baru hidup dari base mati juga.
Branz dengan Claude, juga Change, dan Mathilda, bersama Lord, pada akhirnya masuk ke base, meratakan Genflix. Akai dan Chou masih punya ultimate yang belum digukanan. Genflix rata. Wipeout kedua sekaligus mengakhiri pertandingan. BTR Win 2-1, pertandingan ketiga yang sangat cepet. Bila Brody diban, saya selalu menunggu Claude dipick di second pick sebelum diban. Sebab bosan juga paling Yi Sun Sin lagi, dia lagi. Saya menanti momen Claude full stack, full item, menari meratakan lawan di tengah war, itu menyenangkan, sekaligus membencinya, sebab ingatan Claude M2 yang memulangkan tim Indonesia masih belum sepenuhnya sirna.
Bottle bersama Genflix memang bukan Genflix saat era Rezim, namun kesalahan war semacam itu harusnya tidak perlu terjadi. Saya membuang kertas dan ballpoint yang saya gunakan untuk mencatat. Gemas melihat kekalahan yang disebabkan buruknya team fight semacam itu. Wajar mungkin mereka baru punya coach baru, sewajar melepas Brody di match kedua. Ya, setidaknya mereka harus berpikir ulang berkali-kali lagi dalam menyusun strategi dan melakukan serangan yang rapi dan terencana. Mengatakan akan optimis juara di season ini pada video profil sebelum pertandingan dimulai dengan menunjukkan war semacam itu, wahai Genflix, amatlah menggemaskan. []
