Spekulasi: RRQ yang Melemah atau Onic yang Kuat?

Eri Muriyan. Kadang mengamati video game dan esport. Seringnya memberi makan kelinci pagi dan malam.
Tulisan dari Eri Muriyan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

RRQ. Satu kekalahan 2-0 RRQ Hoshi melawan Alter Ego di pekan pertama agaknya direspon management dan tim dengan serius. Mengingat di pekan pertama juga mereka hanya menang tipis 2-1 melawan Geek Fam. Satu kekalahan sempurna dan satu kemenangan tidak sempurna itu menunjukkan bahwa Alberttt dan timnya sedang tidak baik-baik saja di awal season.
Alhasil menjelang pekan kedua, RRQ menaikkan Skylar dari MDL ke MPL. Rehatnya Xinnn agaknya tidak cukup sekadar diisi Taka sebagai pemain baru mereka. Dan di pekan kedua hari kedua, Skylar diturunkan, mengantikan Alberttt. Melawan Onic, debut Skylar dan Taka tidak mulus. Langsung kekalahan 2-0 harus mereka terima. Pertanyaan muncul, dan bermacam spekulasi bisa dibuat.
Saya akan mencoba menarik benang merah posisi RRQ kali ini jauh-jauh hari. Kalah MPLI, LJ dilepas, Beli Psychoo, gagal M2, Jamesss keluar, Acil balik, Xinnn rehat, Lemon tidak main, Taka masuk, Skylar naik. RRQ di awal season ini harus terseok-seok seperti season lalu. Mengapa RRQ Hoshi bisa menjadi seperti ini? Apakah RRQ bisa kembali lebih kuat di pertengahan season?
Kita mulai. Alberttt pada awalnya adalah pemain pengganti bagi Xinnn yang minta rehat di awal reguler season lalu, season 6. Begitu seterusnya hingga Xinnn masuk lagi. Kenyataannya Alberttt tetap mengisi posisi core jungler, sementara Xinnn yang malah digeser menempati sidelane. Hanya sekali dua kali mereka bertukar role. Puncaknya saat game kelima final MPL season 6. Alberttt memegang Wanwan dan Xinnn memegang Yi Sun Shin. Meski menang, justru dari situlah kelemahan RRQ sudah terlihat. Justru setelah mereka back to back champions, mereka agaknya tidak semakin kuat.
Mengapa begitu? Sejak awal gaya bermain Xinnn utamanya di season 5 dan 6 adalah 'bar-bar'. Sebagai core ia sering kali bermain out play. Sering berhasil sebab kenyataannya saat itu puncaknya meta hyper carry. Dimana core yang dijadikan hyper carry memiliki gold dan level yang berbanding lurus dengan damage serta sustainable hero tinggi. Sementara saat patch jungler diupdate untuk kedua kalinya, posisi dan gaya bermain Xinnn yang 'bar-bar' menjadi tidak atau kurang cocok bagi tim. Patch baru yang memperlemah hyper carry, memaksa hyper carry harus bermain lebih disiplin dan rapi.
Kemenangan RRQ season lalu adalah kemenangan yang tidak disambut gegap gempita bagi Xinnn, tentu saja utamanya bagi Lemon. Lemon menganggap biasa saja atas kemenagan itu tentu dengan alasan. Xinnn tidak terlalu puas dibanding season 5, yang terlihat dari respon dia yang menunjukkan keinginan cepat-cepat rehat. Ada drama di balik RRQ. Tapi, Pak AP dan tim memang paling cepat meredam, lihat konten penjelasan Pak AP tentang rehatnya Xinnn saat diganti Alberttt di awal season 6. Cantik.
Pembacaan saya di atas mendapat dasar secara serampangan dari Lemon yang bilang dalam sebuah game bahwa "Xinnn mati saja, yang penting Alberttt hidup". Ada masalah di antara mereka. Kedua, kata-kata Tuturu dalam live Instagram setelah kemenangan final RRQ dari AE, katanya, "Game keempat kalian tadi seharusnya sudah bisa menang kalau pick Wanwan, Xinnn jangan dikasih sidelaner". Kira-kira begitu. Keduanya mengindikasikan bahwa Xinnn dalam performa yang kurang bagus, baik sebagai core atau pun sebagai sidelaner.
Indikasi ini nyatanya terbukti di MPLI dan sialnya bagi RRQ sampai ke M2. Sebab sulit menilai dan membuat keputusan siapa yang harus dibuang atau siapa yang harus dipilih agar mereka benar-benar menemukan line up yang kuat. Ditambah lagi Bren dan Burmese Ghoul yang secara mengejutkan kuat, membuat RRQ harus menyesali kesalahannya dalam mempersiapan strategi terbaik. "Kitanya saja yang bodoh", kata Lemon atas kegagalan mereka di M2. Pada akhirnya Xinnn istirahat. Dalam wawancaranya bersama Oura, ia menyadari bahwa performanya sudah turun dan mengakui ganti-ganti player menjadikan mereka kurang solid.
Baiklah. Sekarang spekulasi lanjutan akan kita buat.
Pertama, season ini, di atas kertas, pemain yang benar-benar berpengalaman bermain kompetitif bersama RRQ menjuarai MPL hanya ada dua orang. Pertama Vynnn dan kedua R7. Lainnya belum benar-benar solid dan menyatu. Sebab Lemon belum dimainkan. Alberttt bagaimana pun, baru satu season. Wizzking lebih terkenal sebagai cadangan. Psychoo baru masuk saat M2. Taka? Jadilah Skylar menjadi pilihan untuk menambah amunisi MPL.
Kedua. Alberttt dan Skylar pernah bermain bersama di RRQ Sena. Alberttt Jungler dan Skylar sidelaner. Mengapa di pertandingan melawan Onic formasi semacam itu tidak diterapkan? Keberadaan Taka jelas tidak bisa dihiraukan begitu saja. Tak direkrut bukan untuk dijadikan cadangan. Harus dimainkan, dicoba mumpung awal season. Saat mereka nantinya menemukan formasi terbaik, kenyataannya akan dan harus ada tiga pemain RRQ yang duduk sebagai cadangan. Lemon? Taka? Alberttt? Sebuah kenyataan yang sulit diterima dan pahit rasanya.
Ketiga, RRQ di season lalu juga mengalami kesulitan di awal season. Mereka mengalami lose streak hingga pertengahan reguler season. Butuh adaptasi bagi Alberttt untuk bisa menyatu bersama tim. Kedatangan Skylar dan kekalahan dari Onic hari ini membawa mereka pada ingatan season lalu. RRQ pernah terseok-seok di awal season, tapi akhirnya bangkit dan bisa juara. Apakah itu akan terjadi lagi? Kenyataannya pernah terjadi season lalu. Tapi kenyataannya pula kekuatan tim-tim lawan yang sekarang tidak sama dengan season lalu. Tidak mudah. Apalagi mereka memiliki coach baru yang juga harus beradaptasi. Dua pekerjaan jadi satu.
Keempat, klasemen tim di dua pekan pertama menunjukkan siapa mereka dan bagaimana mereka berebut bukan hanya posisi lolos play off melainkan berebut posisi upper bracket di play off. AE memimpin, BTR konsisten pelan tapi pasti. Onic menempel ketat. Geek Fam menunjukkan kekuatan dan permainan mereka. Sementara di bawah, ada RRQ, Evos yang tersungkur, Genflix Aerowolf, dan Aura. Kembali dalam performa terbaik bukan hanya persoalan memenangi sekian pertandingan di pertengah reguler season. Sebab empat tim lain juga dalam performa yang bagus. Bila RRQ kehilangan upper bracket, itu artinya hanya ada satu nyawa di babak play off. Hanya memiki satu nyawa di play off, berarti apapun bisa terjadi. Bayangan terburuk, gugur di lower bracket. Terlalu mahal bila RRQ terlambat menemukan perfoma dan meta terbaik sementara tim lain tetap selangkah di depan mereka.
Kelima, barangkali bisa dilihat dari hasil melawan Onic. RRQ melemah adalah kenyataan. Namun mengatakan Onic menang karena RRQ yang lemah adalah kesalah besar. Onic jelas-jelas sudah mengantisipasi draft pick atas Claude yang suka sekali diambil RRQ. Kesalahan yang sama dialami RRQ lagi. Claude di line up RRQ sudah berlangsung empat kali game: tiga kali saat melawan Geek Fam dan sekali saat melawan Alter Ego. Dua menang, dua kalah. Satu kemenangan RRQ saat melawan Geek Fam dalam tulisan saya pekan lalu bahkan disebabkan rentetan blunder yang dibuat Geek Fam sendiri.
Onic kuat. Onic jelas sekali sudah mengantisipasi Claude RRQ. Onic juga jelas sudah mengantisipasi Wanwan yang diambil RRQ dengan menempatkan Kagura di sidelane dan Lapu-lapu di mid lane dari early game sampai mid game. Kesimpulannya Onic tidak begitu saja memang karena RRQ yang melemah. Onic solid dan mempersiapkan kemengan mereka dengan matang.
Kemenangan mutlak dan cepat Onic yang membuat para streamer terkat-kaget agaknya berkat Mars yang jeli mengendali draft pick. Kekalahan RRQ agaknya tidak diantisipasi Acil dengan jeli. Kemenagan 2-0 AE dan Onic sama-sama disebab oleh permaianan yang agresif: begitulah meta sekarang. Acil harus berpikir 21 kali lipat dibanding tujuh coach tim lain bila ingin RRQ treble winner di season ini. Spekulasi yang berat. []
