Bagaimana Menjalani Hidup Sebagai Seorang Ryziphobia?

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Kimia.
Tulisan dari Eri Sahriah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mendengar kata fobia atau takut akan sesuatu, kebanyakan orang mengenalnya seperti fobia pada ketinggian, fobia ular, maupun fobia pada ruangan sempit. Namun, di luar itu fobia sendiri disebutkan hadir dalam berbagai bentuk. Salah satunya rasa takut terhadap sesuatu yang dianggap normal dan begitu dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari, yakni fobia makanan.
Rasa takut yang berlebihan terhadap sesuatu dan biasanya dipengaruhi oleh pengalaman yang tidak menyenangkan dari masa lalu. Terlepas dari yang tersimpan di alam bawah sadar atau tidak, namun biasanya beberapa peristiwa traumatis tersimpan di alam bawah sadar dan mempengaruhi perilaku seseorang.
Menjadi seorang yang mengidap Ryziphobia atau fobia terhadap nasi di Indonesia tentu tidak mudah, karena makanan ini sudah dipastikan ada di mana-mana. Sulit untuk dihindari, ditambah lagi dengan adanya kepercayaan bahwa belum makan nasi artinya belum dianggap makan, sehingga mau atau tidak mau hidangan ini akan selalu tersedia di setiap meja makan. Nasi juga merupakan makanan pokok bagi sebagian masyarakat Indonesia, dan sebagai karbohidrat akan kebutuhan tubuh manusia sehari-hari.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Karimatus Saidah (2016), mengatakan fobia terhadap nasi dikategorikan menjadi salah satu jenis fobia spesifik. Sejauh ini tidak ada definisi istilah yang tepat untuk fobia terhadap nasi, karena kasus ini jarang terjadi. Gejala yang muncul dari jenis fobia ini tidak hanya takut untuk memakan nasi saja, akan tetapi takut menyentuh bahkan menghindari ketika ada nasi di sekitarnya (Saidah, 2016).
Pernah gak sih kalian bertanya, kenapa ada orang takut makan nasi? Apalagi tinggal di Indonesia?
Tetapi nyatanya ada loh. Salah satunya dalam channel Youtube @Rusyadi Mie yang berjudul "17 tahun GAK MAKAN NASI | phobia nasi (Ryzhipobia)", Ia membagikan cerita pengalamannya selama 17 tahun tidak bisa memakan nasi. Menurutnya jangankan makan nasi, ada nasi yang menempel di tangan saja ia bisa langsung merinding hingga geli, dan saat ia melihat nasi hingga menghirup baunya saja sudah mual sampai merasa eneg.
Sebagaimana dikutip dari klikdokter.com, ada beberapa ciri orang fobia nasi antara lain:
1. Takut mengkonsumsi nasi.
2. Mual saat melihat dan menghirup aroma nasi.
3. Jantungnya berdegup kencang dan gemetaran.
4. Panik, histeris, hingga sesak napas jika berhadapan dengan nasi.
5. Badan terlalu kurus atau berat badan di bawah rata-rata.
6. Badan lemas berkepanjangan (fatigue kronis).
7. Kekurangan gizi (malnutrisi).
8. Perilaku yang sangat sensitif alias mudah tersinggung, sehingga hubungannya dengan orang lain tidak baik.
Ada hal yang menjadi problematik bagi pengidap ryziphobia. Saat pergi ke acara dengan jamuan makan seperti makan bersama keluarga, hangout bersama teman di sebuah tempat makan, hingga buka puasa bersama, ia tidak bisa menikmati acara-acara itu sepenuh hati. Bagi pengidap ryziphobia ini, ia sampai harus menjauh dengan teman-temannya yang sedang memakan nasi.
Namun, rasa takut makan nasi yang irasional ini bisa diobati. Fobia ini berakhir ketika penderitanya bisa melawan perasaan takutnya, karena rasa takut itu bisa dilawan, terobati karena keadaan, dan diberikan sugesti-sugesti positif. Intinya sesuatu yang menakutkan menjadi biasa saja, kuncinya diri sendiri bisa atau tidak melawan rasa takut itu.
Bisa juga disembuhkan dengan mendapat penanganan yang tepat dari psikiater atau psikolog. Dirangkum dari laman hallodoc.com, berikut penanganan fobia makanan yaitu:
1. Terapi Perilaku Kognitif (CBT)
Perawatan ini melibatkan pembicaraan dengan ahli kesehatan mental tentang perasaan dan pengalaman seseorang dengan makanan. Melalui sesi terapi ini, penderita dapat bekerja sama dengan terapis untuk menemukan cara mengurangi pikiran dan ketakutan negatif.
2. Paparan
Praktik pemaparan ini menyebabkan penderitanya berhubungan dengan makanan yang menimbulkan rasa takut. Dengan terapi ini, Anda dapat belajar menghadapi perasaan dan reaksi Anda terhadap makanan dalam lingkungan yang mendukung.
3. Obat
Antidepresan, dalam kasus yang jarang terjadi, obat anti kecemasan dapat digunakan untuk mengobati orang dengan fobia makanan. Namun, obat ini umumnya tidak digunakan karena risiko kecanduannya yang tinggi. Beta blocker juga dapat digunakan untuk mengurangi reaksi emosional dan kecemasan dalam jangka pendek.
4. Hipnosis
Dalam keadaan sangat rileks ini, otak mungkin terbuka untuk pelatihan ulang. Seorang hipnoterapis dapat memberikan saran atau memberikan petunjuk verbal yang dapat membantu mengurangi reaksi negatif terhadap makanan.
DAFTAR PUSTAKA
1. Fadli Rizal. 2019. Takut Makan Nasi, Kenalan dengan Ryziphobia. Diakses pada 30 November dari https://www.halodoc.com/artikel/takut-makan-nasi-kenalan-dengan-ryziphobia
2. Ramadhan M. I. 2022. Mengenal Ryziphobia, Rasa Takut Berlebih Terhadap Nasi. Diakses pada 30 November dari https://www.klikdokter.com/info-sehat/kesehatan-umum/mengenal-ryziphobia-rasa-takut-berlebih-terhadap-nasi
3. Saidah, K. (2016). Perkembangan Fisik dan Sosio-Emosi Pada Siswa Dengan Gejala Fobia Spesifik: Studi Kasus Pada Siswa Dengan Gejala Fobia Nasi, XIII (2). Diakses pada 30 November 2022 dari http://ejournal.iaiibrahimy.ac.id/index.php/arrisalah/article/download/1057/721
4. Unggahan YouTube akun Rusyadi Mie, Tautan https://youtu.be/p4DYV6qz8vo
