Korelasi Sunat dengan Pantangan Makan Daging?!

Saya Erico Hilmar, mahasiswa Kesehatan Universitas islam As-syafi'iyah dengan latar belakang pendidikan SMK Farmasi. Fenomena seperti pembodohan di dunia kesehatan adalah trigger saya untuk menjadi kontributor Kumparan.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Erico Hilmar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masih teringat momen masa kecil setelah disunat, ibu langsung memberi daftar pantangan makanan yang katanya dapat menyebabkan luka sulit sembuh, gatal, atau bahkan memperparah luka. Konsumsi daging ayam, ikan, dan telur distop dulu karena dianggap jadi penyebab luka terasa gatal dan juga membengkak. Lucunya, hampir semua teman sebaya saya saat itu mengalami hal yang sama. Rasanya seperti aturan tak tertulis yang diwariskan turun-temurun dari orang tua ke anak. Jadi, larangan makan daging setelah sunat mungkin berangkat dari kebiasaan turun-temurun. Tapi, apakah benar larangan ini punya dasar medis? atau hanya kepercayaan tanpa bukti ilmiah?
Apa sih itu sunat?
sunat atau khitan atau dalam istilah medisnya sirkumsisi adalah prosedur pemotongan kulit ujung penis (kulup) yang dilakukan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan organ reproduksi laki-laki.
Bagaimana proses penyembuhan pada luka sunat?
Setelah menjalani sunat, tubuh akan mengalami proses penyembuhan luka yang secara alami melibatkan pembentukan jaringan baru. Dalam tahap ini, tubuh membutuhkan berbagai nutrisi penting terutama protein sebagai bahan dasar pembentukan jaringan, vitamin C untuk pembentukan kolagen, serta mineral seperti seng (zinc) yang membantu mempercepat regenerasi sel.
Menariknya, sebagian besar nutrisi tersebut justru banyak ditemukan dalam makanan seperti ayam, ikan, telur, dan daging sapi jenis makanan yang sering kali malah dianggap pantangan oleh sebagian orang setelah sunat.
Sumber protein hewani seperti sapi ikan dan ayam tadi punya peran vital dalam mempercepat proses pemulihan luka setelah sunat. Secara sederhana, saat tubuh mengalami luka, terjadi proses pembentukan jaringan baru untuk menutup area yang terluka. Nah, bahan utama pembentuk jaringan baru ini adalah asam amino, yang berasal dari protein.
Protein hewani unggul karena mengandung asam amino lengkap, termasuk leusin, lisin, arginin, dan glutamin, yang berperan dalam:
Merangsang pembentukan kolagen, yaitu protein penyusun jaringan kulit baru agar luka tertutup rapat dan kuat.
Mempercepat regenerasi sel, sehingga luka cepat kering dan tidak mudah infeksi.
Menunjang sistem imun, supaya area luka terlindungi dari bakteri.
Tanpa asupan protein hewani yang cukup, proses penyembuhan bisa melambat, luka lebih lama kering, dan hasilnya kadang meninggalkan jaringan parut yang tidak optimal.
Jadi, justru menghindari daging setelah sunat bisa menghambat proses penyembuhan, bukan mempercepatnya.
Dalam jurnal Wound Healing: A Comprehensive Review (Almadani et al., 2021), disebutkan proses penyembuhan luka membutuhkan kecukupan protein dan asam amino untuk membentuk jaringan kulit baru. Protein berperan penting dalam pembentukan kolagen dan regenerasi jaringan.
Secara umum, sumber protein hewani (ayam, ikan, atau telur) mengandung asam amino lengkap yang dibutuhkan tubuh dalam proses ini. (penjabaran umum dari aspek gizi, bukan pernyataan langsung dari jurnal tersebut)
Kenapa Mitos Ini Bisa Muncul?
Banyak orang percaya bahwa makan ayam, ikan, atau telur bisa bikin luka sunat jadi gatal, bernanah, atau lama kering. secara medis, tidak ada bukti langsung yang menunjukkan makanan tersebut memperburuk luka.
Mitos ini mungkin muncul karena sebagian orang merasa luka sunatnya jadi terasa gatal, kemerahan, atau tampak lebih basah setelah makan ayam atau ikan. Menariknya, tidak semua rasa gatal pada luka berarti hal buruk. Justru sebaliknya, gatal merupakan tanda alami bahwa tubuh sedang memperbaiki jaringan yang rusak.
Saat proses penyembuhan memasuki fase proliferasi, sel-sel kulit baru mulai tumbuh dan saraf di sekitar luka menjadi lebih sensitif. Nah, di fase inilah muncul sensasi gatal yang sebenarnya adalah tanda bahwa sistem imun dan proses regenerasi kulit sedang bekerja.
Tapi…
Tapi, memang ada kalanya gatal disertai tanda lain seperti luka tampak basah, merah menyebar, berbau, atau keluar cairan kuning perlu diwaspadai, kondisi seperti ini bisa menandakan luka mengalami infeksi ringan atau perawatan yang kurang tepat.
Jadi, bukan daging atau sumber protein lainnya yang jadi penyebab luka menjadi memburuk, melainkan karena cara merawat luka yang belum benar. Misalnya, luka terlalu lembap, tidak dibersihkan dengan baik, atau tertutup balutan terlalu rapat. Semua faktor itu bisa membuat luka sulit kering dan akhirnya tampak meradang.
Kesimpulan
Di tahun 2025 ini, kita hidup di zaman di mana informasi kesehatan bisa diakses siapa pun, kapan pun, dan dimana pun. Dengan begitu sudah tidak ada alasan untuk percaya mitos-mitos yang tidak berdasar.
Daripada sibuk menghindari makanan bergizi, lebih baik kita mulai menghindari informasi yang menyesatkan.
