Konten dari Pengguna

Mahasiswa IIK Kediri Eksplorasi Keperawatan Spiritual Lansia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari pkmlansia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumetasi anggota tim dengan lansia di panti UPT PSTW Blitar Asrama Tulungagung (Sumber: Dokumentasi Tim)
zoom-in-whitePerbesar
Dokumetasi anggota tim dengan lansia di panti UPT PSTW Blitar Asrama Tulungagung (Sumber: Dokumentasi Tim)

Kediri – Menjadi lansia bukan hanya tentang perubahan kondisi fisik. Bertambahnya usia juga dapat membawa berbagai pengalaman emosional, seperti rasa kehilangan, kesepian, kekhawatiran, hingga keinginan untuk menemukan ketenangan dan makna dari perjalanan hidup yang telah dilalui.

Hal tersebut menjadi perhatian sekelompok mahasiswa Institut Ilmu Kesehatan (IIK) Bhakti Wiyata Kediri. Melalui sebuah penelitian yang berlangsung pada Juni hingga Agustus 2026, mereka mencoba memahami lebih jauh pengalaman spiritual lansia dan kaitannya dengan penerimaan diri serta kesiapan menghadapi akhir hayat.

Penelitian tersebut berjudul “Eksplorasi Kebermaknaan Keperawatan Spiritual terhadap Penerimaan dan Kesiapan Lansia Menjelang Akhir Hayat di Panti Werdha”. Penelitian diketuai oleh Erika Andiani Ivada, mahasiswa Program Studi S1 Keperawatan, bersama tim mahasiswa dari berbagai program studi.

Penelitian dilaksanakan secara hibrida dengan melibatkan mahasiswa dalam berbagai tahapan kegiatan. Bagi tim, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk melihat kehidupan lansia secara lebih utuh, bukan hanya dari kondisi kesehatan fisik, tetapi juga dari sisi emosional dan spiritual.

“Melalui penelitian ini, kami ingin mengeksplorasi bagaimana lansia memaknai keperawatan spiritual serta bagaimana pengalaman spiritual tersebut hadir dalam proses penerimaan diri dan kesiapan mereka menghadapi akhir hayat,” ujar Erika.

Ketika Lansia Membutuhkan Lebih dari Sekadar Perawatan Fisik

Kehidupan di usia lanjut dapat menghadirkan berbagai perubahan. Kondisi tubuh yang semakin menurun, perubahan peran dalam keluarga, kehilangan orang terdekat, serta kesadaran bahwa kehidupan terus berjalan menuju fase akhir merupakan pengalaman yang tidak selalu mudah.

Dalam situasi tersebut, perawatan lansia tidak cukup hanya berfokus pada kondisi fisik. Lansia juga membutuhkan ruang untuk bercerita, didengarkan, mendapatkan dukungan emosional, dan menjalani aktivitas yang dapat memberikan ketenangan.

Salah satu bagian yang menjadi perhatian adalah kebutuhan spiritual.

Keperawatan spiritual tidak hanya berkaitan dengan aktivitas keagamaan. Lebih luas dari itu, spiritualitas dapat berkaitan dengan bagaimana seseorang menemukan makna dalam kehidupan, menerima keadaan dirinya, membangun harapan, serta menghadapi berbagai perubahan yang terjadi dalam kehidupannya.

Hal inilah yang ingin digali oleh Erika dan tim melalui penelitian mereka.

Bagi mereka, memahami lansia berarti juga memahami cerita di balik setiap perubahan yang dialami. Di balik kondisi fisik yang semakin menua, terdapat pengalaman hidup, kenangan, harapan, dan kebutuhan untuk tetap merasa dihargai serta ditemani.

Dokumetasi Kegiatan Intervensi dengan lansia di panti UPT PSTW Blitar Asrama Tulungagung (Sumber: Dokumentasi Tim)

Belajar Memahami Lansia dari Dekat

Kegiatan penelitian memberikan pengalaman tersendiri bagi mahasiswa. Mereka belajar bahwa menjadi tenaga kesehatan tidak hanya membutuhkan kemampuan dalam melakukan tindakan keperawatan, tetapi juga kemampuan untuk berkomunikasi dan membangun hubungan yang penuh empati.

Berinteraksi dengan lansia membuat mahasiswa melihat bahwa setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Ada yang memiliki cerita tentang keluarga, kehilangan, perjuangan hidup, hingga harapan yang masih ingin diwujudkan.

Dari proses tersebut, mahasiswa belajar bahwa terkadang hal sederhana seperti mendengarkan cerita dan memberikan kesempatan kepada lansia untuk mengungkapkan perasaannya dapat menjadi bagian penting dalam proses pendampingan.

“Menurut kami, kebutuhan lansia perlu dilihat secara menyeluruh. Tidak hanya kondisi fisiknya, tetapi juga bagaimana perasaan, pengalaman, dan kebutuhan spiritual mereka,” kata Erika.

Dari Penelitian Menjadi Cerita yang Bisa Dipahami

Pengalaman mahasiswa tidak berhenti pada proses penelitian. Mereka juga mendapatkan pendampingan dalam mengolah pengalaman dan informasi yang diperoleh menjadi tulisan populer.

Bagi tim, menyampaikan informasi penelitian kepada masyarakat merupakan tantangan tersendiri. Bahasa akademik perlu disederhanakan agar lebih mudah dipahami tanpa menghilangkan makna utama dari penelitian.

Proses tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar berkomunikasi dengan cara yang lebih luas. Penelitian tidak hanya berhenti pada data dan laporan, tetapi juga dapat menjadi cerita yang membantu masyarakat memahami persoalan yang ada di sekitar mereka.

Penelitian mengenai kebermaknaan keperawatan spiritual ini masih berlangsung hingga Agustus 2026. Hasil penelitian nantinya diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai pengalaman spiritual lansia serta pentingnya memperhatikan kebutuhan emosional dan spiritual dalam pendampingan lansia.

Pada akhirnya, mendampingi seseorang di usia lanjut bukan hanya tentang menjaga kesehatan tubuh. Ada kebutuhan untuk didengarkan, dihargai, dipahami, dan ditemani.

Karena di balik bertambahnya usia, setiap lansia memiliki perjalanan hidup yang panjang dan cerita yang layak untuk didengarkan.