Plasebo Ternyata Bisa Menyembuhkan dan Cara Ia Bekerja

Pharmacy Major,State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Erika Dwi Noprilianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bayangkan dokter memberikan pil dan berkata terus terang "Ini hanya pil gula. Tidak ada kandungan aktif di dalamnya sama sekali." Logikanya, pil itu tidak akan bekerja. Tapi hasil penelitian ilmiah mengatakan sebaliknya dan inilah yang membuat efek plasebo menjadi salah satu fenomena paling membingungkan sekaligus paling menakjubkan dalam sejarah kedokteran modern.

Plasebo bukan sekadar soal "tertipu" atau sugesti murahan. Ia melibatkan perubahan kimia yang nyata dan terukur di dalam otak dan memahaminya membuka cara pandang baru tentang bagaimana proses penyembuhan sebenarnya bekerja.
Lebih dari Sekadar Imajinasi
Selama puluhan tahun, efek plasebo dianggap sebagai gangguan dalam penelitian klinis sesuatu yang harus dikontrol dan dieliminasi agar hasil penelitian bisa valid. Tapi perspektif itu mulai bergeser. Penelitian modern dengan teknologi pencitraan otak (fMRI) menunjukkan bahwa ketika seseorang mengonsumsi plasebo dan merasakan perbaikan, otak mereka tidak sekadar "berpikir" bahwa mereka membaik otak secara aktif melepaskan senyawa kimia penyembuh yang nyata.
Ketika pasien percaya bahwa mereka menerima pengobatan yang efektif, otak merespons dengan memicu pelepasan endorfin pereda nyeri alami tubuh yang secara struktural mirip dengan morfin serta dopamin dan serotonin yang mengatur suasana hati dan motivasi. Studi neuroimaging juga menemukan bahwa plasebo menurunkan aktivitas di area otak yang memproses rasa sakit, seperti talamus dan insula, secara objektif dan terukur.
Temuan yang Mengubah Segalanya (Open-Label Placebo)
Selama ini, asumsi dasar efek plasebo adalah bahwa ia hanya bekerja karena pasien tidak tahu bahwa yang diberikan adalah plasebo. Logika ini tampak masuk akal bagaimana bisa seseorang merasakan manfaat dari sesuatu yang ia tahu tidak memiliki kandungan aktif?
Ternyata, asumsi ini keliru. Penelitian dari Program Plasebo Harvard yang dipimpin oleh Professor Ted Kaptchuk di Beth Israel Deaconess Medical Center menemukan sesuatu yang mengejutkan bahwa plasebo tetap bekerja bahkan ketika pasien diberitahu secara jujur bahwa mereka sedang mengonsumsi pil plasebo. Pendekatan ini disebut open-label placebo plasebo terbuka tanpa penipuan.
Dalam studi terhadap pasien dengan sindrom iritasi usus besar (IBS), kelompok yang menerima open-label plasebo menunjukkan perbaikan gejala yang signifikan dibandingkan kelompok yang tidak mendapat pengobatan apapun. Para peneliti menyimpulkan bahwa ritual pengobatan itu sendiri tindakan pergi ke dokter, menerima pil, mengikuti instruksi sudah cukup untuk mengaktifkan respons penyembuhan biologis di dalam tubuh, terlepas dari apakah pasien tahu isi pilnya atau tidak.
Faktor yang Menentukan Seberapa Kuat Efek Plasebo
Tidak semua plasebo bekerja dengan intensitas yang sama. Penelitian menunjukkan beberapa faktor yang secara konsisten memengaruhi kekuatan efek plasebo.
Pertama, bentuk sediaan plasebo dalam bentuk suntikan menghasilkan efek yang lebih kuat dibandingkan pil, karena persepsi bahwa suntikan "lebih serius" dan "lebih kuat" sudah tertanam di benak banyak orang.
Kedua, warna dan ukuran pil dengan berwarna merah atau oranye cenderung menghasilkan efek stimulan yang lebih kuat, sementara pil biru lebih sering menghasilkan efek menenangkan. Studi bahkan menemukan bahwa pil plasebo yang lebih mahal menghasilkan efek yang lebih besar dibandingkan pil plasebo yang lebih murah meski kandungannya identik.
Ketiga, dan yang paling kuat cara dokter berkomunikasi. Nada suara, pilihan kata, kontak mata, dan seberapa yakin seorang dokter terdengar saat menjelaskan pengobatan semuanya secara langsung memengaruhi intensitas respons plasebo yang dialami pasien.
Batas yang Perlu Dipahami
Efek plasebo bekerja paling kuat pada kondisi yang dimodulasi oleh otak: nyeri, mual, kecemasan, insomnia, dan gejala depresi ringan hingga sedang. Ia bekerja pada persepsi gejala, bukan pada penyakit itu sendiri secara struktural.
Artinya, plasebo bisa membuat pasien kanker merasa lebih nyaman dan berkurang kelelahan akibat kemoterapi tetapi ia tidak menyusutkan tumor. Tinjauan besar dari lebih dari 150 uji klinis menegaskan bahwa plasebo tidak memiliki efek klinis utama terhadap perjalanan penyakit secara objektif. Perbedaan antara "merasa lebih baik" dan "benar-benar sembuh" adalah garis yang tidak boleh dikabur-kaburkan.
fakta bahwa efek ini bekerja bahkan saat pasien tahu bahwa ia sedang mengonsumsi plasebo adalah pengingat bahwa dalam pengobatan, konteks, kepercayaan, dan hubungan manusia antara dokter dan pasien adalah obat itu sendiri.
