Konten dari Pengguna

Curhat ke Pasangan, Malah Makin Kesepian: Ini Namanya 'Emotional Misattunement'

Erika Nurlita
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Prodi Pendidikan Matematika
6 Januari 2026 7:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tulisan dari Erika Nurlita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saat Hubungan Mengalami Emotional Misattunement. (Ilustrasi dihasilkan oleh AI)
zoom-in-whitePerbesar
Saat Hubungan Mengalami Emotional Misattunement. (Ilustrasi dihasilkan oleh AI)
ADVERTISEMENT
Pernah tidak, kita curhat ke pasangan dengan jujur—tentang isi kepala, tentang hati yang lagi penuh—tapi bukannya lega, malah pulang dengan perasaan makin sepi? Harusnya curhat jadi ruang aman, tapi yang kita rasakan justru capek secara emosional.
ADVERTISEMENT
Saya pernah berada di situ.
Dalam satu hubungan, setiap kali saya bercerita atau mencoba terbuka, saya tidak pernah benar-benar merasa didengar. Tidak ada rasa dipahami. Tidak ada kehangatan. Yang ada justru perasaan sendirian—padahal secara status, saya punya pasangan.
Awalnya, tentu saja saya menyalahkan diri sendiri. Mungkin cara saya bercerita kurang jelas. Mungkin saya terlalu sensitif. Atau mungkin ekspektasi saya memang terlalu tinggi. Sampai akhirnya saya menemukan satu istilah yang rasanya pas menggambarkan apa yang saya alami: emotional misattunement.
Sederhananya, emotional misattunement adalah kondisi ketika dua orang gagal “nyambung” secara emosional. Bukan karena tidak peduli, tapi karena respons yang diberikan tidak sesuai dengan kebutuhan emosional lawan bicara. Kita bicara A, yang ditangkap B. Kita butuh dipeluk, yang datang justru ceramah.
ADVERTISEMENT
Ada beberapa bentuk emotional misattunement yang saya alami.
Pertama, perasaan yang terus disalahartikan.
Saat saya sedih, ia mengira saya marah. Ketika saya cemas, saya dibilang lebay. Padahal saya sudah berusaha menjelaskan apa yang saya rasakan. Tapi anehnya, versinya tentang perasaan saya selalu dianggap lebih benar daripada apa yang saya alami sendiri. Rasanya seperti sedang berdebat soal emosi yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan.
Kedua, respons emosional yang tidak sejalan.
Ada momen ketika saya bilang butuh waktu untuk menenangkan diri. Bukan menghindar, hanya ingin merapikan emosi. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: saya dicecar pertanyaan, didesak untuk langsung menjelaskan, bahkan dipaksa menyelesaikan semuanya saat itu juga. Atas nama “komunikasi”, batas emosional saya dilanggar.
ADVERTISEMENT
Ketiga, kelelahan karena harus menjelaskan hal yang sama berulang kali.
Pola ini tidak terjadi sekali. Setiap konflik, setiap obrolan emosional, skenarionya hampir selalu sama. Saya menjelaskan, ia salah paham. Saya luruskan, lalu di lain waktu kesalahpahaman itu terulang lagi. Lama-lama, curhat terasa seperti pekerjaan rumah—bukan lagi tempat pulang.
Emotional misattunement bisa terjadi karena banyak hal. Bisa karena kemampuan mengelola emosi yang belum matang, perbedaan pola keterikatan (attachment style), atau luka emosional yang belum selesai dari masa lalu. Dalam banyak kasus, pasangan sebenarnya tidak berniat menyakiti. Mereka hanya tidak punya kapasitas untuk hadir secara emosional.
Tapi di titik ini, satu hal menjadi jelas: niat baik saja tidak cukup.
Hubungan yang sehat bukan hanya soal bertahan atau peduli, tapi juga soal kemampuan mendengar tanpa menghakimi, memahami tanpa merasa paling benar, dan merespons emosi dengan empati.
ADVERTISEMENT
Karena pada akhirnya, merasa sendirian saat sendiri itu biasa. Tapi merasa sendirian ketika punya pasangan—itu kesepian yang sunyinya berbeda.