Konten dari Pengguna

Fenomena Penggunaan AI di Kalangan Mahasiswa

Erika Simamora

Erika Simamora

Teknik kimia mahasiswa universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Erika Simamora tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

siswa yang menggunakan Ai dalam mengerjakan tugas. 26/12/25. foto: erika Simamora
zoom-in-whitePerbesar
siswa yang menggunakan Ai dalam mengerjakan tugas. 26/12/25. foto: erika Simamora

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan besar di berbagai aspek terutama di dunia pendidikan saat ini. Di kalangan mahasiswa, AI bukan lagi sesuatu yang asing untuk mereka dengar. Justru dengan kehadiran AI yang sangat membantu dalam beberapa aspek penugasan mahasiswa, dalam membantu mencari referensi, menyelesaikan tugas-tugas harian, bahkan ada juga yang menggunakannya dalam merangkum jurnal. Fenomena ini menunjukkan bahwa AI telah menjadi bagian dari keseharian yang dilakukan oleh mahasiswa sekarang.

Sebagian dari mahasiswa, menganggap AI sebagai solusi praktis ditengah padatnya tuntutan akademik. Di tengah padatnya jadwal kuliah, tugas yang menumpuk, presentasi, sampai tekanan untuk selalu aktif dalam hal apapun. Sehingga AI dianggap hadir sebagai “ penolong yang instan”. Dengan sekali perintah, mahasiswa bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan seperti ringkasan materi, ide tulisan, bahkan jawaban sekalipun dapat diberikan tanpa proses yang lama. Tidak dapat di pungkirin, kemudahan ini memberikan kepraktisan yang dapat menghemat waktu dan energi.

Namun, dibalik kemudahan tersebut, penggunaan AI dikalangan mahasiswa juga muncul berbagai pertanyaan dan kekhawatiran. Apakah AI benar-benar membantu proses belajar, atau justru membuat mahasiswa semakin bergantung dan kehilangan kemampuan dalam berpikir kritis? Pertanyaan ini adalah hal yang penting untuk dibahas, karena mengingat mahasiswa adalah calon penerus yang diharuskan mampu dalam berpikir mandiri dan analitis.

Seharusnya ketika AI digunakan, pola belajar yang biasanya mahasiswa membuka buku, mencatat, dan berdiskusi secara langsung tidak boleh hilang. Akan tetapi mahasiswa sekarang lebih memilih bertanya pada AI yang dapat mempermudah dalam mengerjakan sesuatu. Proses mencari jawaban menjadi lebih cepat, tetapi sering kali mengabaikan proses dalam memahaminya. Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang menggunakan AI hanya untuk mendapatkan pekerjaan yang simple dan mendapatkan hasil akhir, bukan untuk memperdalam pemahaman materi.

Menurut saya, di sinilah letak kesalahan penggunaan AI dalam dunia perkuliahan. Di satu sisi, AI hanyalah alat bantu yang sangat potensial apabila digunakan dengan bijak. Di sisi lainnya, tanpa adanya kontrol dan kesadaran dalam penggunaan AI dapat menjadi jalan yang dapat merusak nilai kejujuran akademik. Terjadinya plagiarisme, tugas yang sama, hingga jawaban yang belum tentu “benar” menjadi tanda bahwa AI sering digunakan tanpa proses pemahaman yang dalam.

Selain itu, penggunaan AI juga dapat mempengaruhi kemampuan berfikir mahasiswa. Banyak mahasiswa yang tidak percaya diri dalam menuangkan ide dengan kata-katanya sendiri. Memilih untuk menggunakan hasil dari AI dan sedikit mengedit kata-kata yang ada pada AI. Jika kebiasaan ini terus-menerus, kemampuan dalam berpikir akan semakin berkurang dan melemah.

Namun, AI juga tidak sepenuhnya dapat disalahkan. Karena AI pada dasarnya adalah hanya alat. Cara penggunaanya terngantung pada pengguna itu sendiri. Mahasiswa yang bijak dapat memanfaatkan AI sebagai pembantu dalam belajar, bukan sebagai pengganti dalam proses berpikir. Contohnya: AI digunakan sebagai referensi awal, memahami konsep yang mungkin sulit, atau membantu dalam penyusunan kerangka penulisan. Akan tetapi, mahasiswa tetap melakukan pengembangan ide secara mandiri.

Fenomena ini, juga menuntut peran aktif terhadap pihak institusi pendidikan serta dosen. Bidang pendidikan tidak bisa melarang tentang perkembangan terhadap AI. Larangan yang keras bukanlah solusi yang tepat. Sebaliknya, dapat memberitahu serta memandu mahasiswa dalam etika penggunaan AI dalam kegiatan akademik. Dosen dapat mengarahkan mahasiswa untuk menggunakan AI dengan bijak dan bertanggung jawab, sekaligus mendorong metode dalam suatu pembelajaran yang mengharuskan proses bukan hanya hasil yang tidak dapat dipahami.

Menurut pendapat saya, bahwa pentingnya bagi mahasiswa untuk memiliki kesadaran diri dalam penggunaan AI. Mahasiswa perlu bertanya pada dirinya sendiri: apakah AI digunakan untuk membantu memahami materi, atau sebaliknya untuk menyelesaikan tugas secara instan? Kesadaran ini sangat penting agar mahasiswa tidak merugikan diri sendiri, melainkan dapat memahami penggunaan AI untuk hasil yang baik, tetapi bukan hasil yang merugikannya dimasa yang akan datang.

Selain itu, penggunaan AI juga dapat sebagai tantangan baru dalam dunia pendidikan. Kurikulum dan metode pembelajaran yang semakin meningkat memerlukan penyesuaian diri dengan perkembangan teknologi. Tugas-tugas yang semakin rumit mungkin menuntut mahasiswa dalam penggunaan AI, namun mahasiswa juga harus mendorong dirinya untuk tetap berpikir kritis meskipun AI tersedia.

Di sisi lain, AI juga memiliki peluang besar bagi mahasiswa untuk berkembang. Mahasiswa yang mampu mengunakan AI dengan bijak dapat belajar lebih efektif, memperluas wawasan dan juga dapat meningkatkan produktivitas. AI dapat menjadi teman belajar yang dapat membantu, bukan merusak. Namun, ketika mahasiswa memiliki integritas akademik yang kuat dan bertanggung jawab dalam penggunaannya.

Maka dari itu, penggunaan AI dikalangan mahasiswa pada akhirnya adalah cerminan yang harus kita perbaiki. Teknologi akan terus berkembang, dan dunia pendidikan harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan tanggung jawab. Mahasiswa sebagai generasi selanjutnya dituntut untuk tidak hanya mengikuti arus perkembangan teknologi, melainkan juga bijak dalam menggunakannya. Penggunaan AI dikalangan mahasiswa bukanlah sesuatu hal yang harus ditakuti, tetapi perlu di sikapi dengan kritis. Oleh karena itu, mahasiswa perlu memahami AI hanya sebagai pendukung, bukan penentu utama dalam perjalanan pendidikan akademiknya.