Ke Mana Bahasa Ibu?

Mahasiswa Universitas Pamulang, Program Studi Sastra Indonesia.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Erina Puspita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teknologi digital membawa perubahan yang sangat besar di kalangan Generasi Z. Generasi ini tumbuh di tengah lingkungan yang penuh dengan ragam bahasa yang tersebar luas melalui media sosial. Kondisi ini membuat Generasi Z semakin jarang menggunakan bahasa ibu, bahkan ada yang tidak bisa menuturkannya sama sekali, padahal bahasa ibu memiliki nilai budaya dan identitas lokal yang penting.
Berbagai bahasa di media sosial, seperti bahasa slang, bahasa gaul, dan bahasa asing seperti healing, gabut, dan FOMO, kini menjadi bagian dari identitas sosial anak muda. Bahasa-bahasa tersebut membuat Generasi Z lebih mudah beradaptasi dengan gaya hidup digital dan mengikuti perkembangan tren yang terus berubah. Penggunaan bahasa populer ini juga dianggap lebih praktis dan relevan dalam pergaulan sehari-hari di dunia digital.
Namun, di sisi lain, bahasa ibu yang berasal dari berbagai bahasa daerah di Indonesia mulai jarang digunakan. Banyak Generasi Z yang hanya memahami bahasa ibu secara pasif, tetapi tidak mampu menuturkannya dengan baik. Padahal, bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari identitas, nilai budaya, dan cara pandang masyarakat lokal. Kosakata dan gaya bahasa yang khas dalam bahasa ibu tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh bahasa populer. Jika bahasa ibu terus dilupakan, identitas budaya generasi mendatang pun berisiko ikut memudar.
Oleh karena itu, upaya menjaga bahasa ibu di era yang serba cepat ini perlu melibatkan berbagai pihak. Keluarga memiliki peran penting karena pembiasaan bahasa di rumah menjadi dasar utama kemampuan berbahasa anak. Selain itu, lembaga pendidikan dapat membuat pembelajaran bahasa daerah dengan metode yang lebih menarik dan relevan. Di dunia digital seperti musisi dan kreator konten juga dapat berkontribusi dengan membuat karya menggunakan bahasa ibu, sehingga membuktikan bahwa bahasa daerah tetap bisa hidup dan relevan di ruang digital.
