Pergeseran Bahasa Nasional Hingga Hilangnya Fondasi Budaya

Mahasiswa Universitas Pamulang, Program Studi Sastra Indonesia.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Erina Puspita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak muda kerap memakai bahasa campuran seperti "bro" dan "lol" dalam obrolan online harian tanpa kesadaran penuh akan dampaknya. Gen Z mengalami penurunan signifikan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang benar pada percakapan sehari-hari. Bahasa nasional kini terbatas untuk tugas sekolah dibanding obrolan masyarakat umum. Kebiasaan ini perlahan menggeser identitas budaya melalui campuran kata yang merusak makna asli. Generasi sekarang mengabaikan kosa kata warisan yang patut dijaga bersama di ruang publik. Proses tersebut menghilangkan dasar budaya sehari-hari secara bertahap di media sosial yang selalu terhubung.
Pelajaran bahasa di sekolah berubah menjadi hafalan aturan kaku tanpa ruang untuk berkreasi. Guru menyuruh siswa menghafal ejaan tanpa contoh nyata dari kehidupan sekitar, sehingga banyak siswa enggan menggunakan bahasa Indonesia asli di luar sekolah karena terasa kaku. Siswa lebih memilih bahasa Inggris agar tampak pintar di lingkup pertemanan. Kekayaan makna bahasa nasional terpinggirkan tanpa bimbingan guru yang tepat, sehingga berdampak pada gagalnya pendidikan menanamkan cinta bahasa sejak dini yang krusial untuk identitas.
Media sosial dengan cepat menyebarkan kata-kata baru dari luar sebagai pemicu utama hilangnya bahasa daerah melalui dorongan algoritma. Data Badan Pusat Statistik dalam long form sensus penduduk tahun 2020 menunjukkan 73,87% bahasa daerah digunakan di lingkungan keluarga tanpa perluasan ke publik. Balai Bahasa Jawa Tengah menemukan warga Semarang yang pindah kota malu berbicara dialek Jawa karena pandangan sosial. Kemendikdasmen merencanakan program Revitalisasi Bahasa Daerah 2025-2029 untuk 38 provinsi dan 114 jenis bahasa dengan dana khusus. Teknologi AI memperburuk situasi lewat terjemahan otomatis yang menyederhanakan budaya menjadi kata biasa.
Langkah yang diperlukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan memasukkan literasi bahasa ke kurikulum TK dengan menggabungkan cerita lisan dan konten digital untuk cegah penurunan generasi mendatang. Komunitas lokal bentuk pusat bahasa daerah di setiap kecamatan melalui workshop mingguan. Semua pihak satukan rencana nasional bahasa tahun 2030 targetkan 90% penggunaan asli di medsos. Pelestarian bahasa nasional menjadi prioritas membangun identitas budaya abadi tanpa kompromi globalisasi.
