Konten dari Pengguna

Di Tengah Hidup Stress, Mengapa Musik Jedag-Jedug Bisa Jadi 'Vitamin' Gen Z

Erinda Rusnaeni

Erinda Rusnaeni

Halo! Saya Erinda seorang mahasiwi S1 Universitas Islam Negeri Jurusan Psikologi yang mencoba memenuhi tugas menjadi penulis, tertarik membahas isu kesehatan mental, budaya populer, dan fenomena sosial yang dekat dengan kehidupan generasi muda.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Erinda Rusnaeni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi generasi z dengan teknologi (sumber: https://www.freepik.com/free-photo/neighborhood-life-enjoyed-by-group-friends_26316036.htm#fromView=search&page=1&position=1&uuid=e504d754-60ca-4af9-b014-bf1829bd7297&query=gen+z)
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi generasi z dengan teknologi (sumber: https://www.freepik.com/free-photo/neighborhood-life-enjoyed-by-group-friends_26316036.htm#fromView=search&page=1&position=1&uuid=e504d754-60ca-4af9-b014-bf1829bd7297&query=gen+z)

Sekelompok orang yang lahir antara 1997 hingga 2012 adalah Generasi Z umumnya disebut dengan Gen Z, lahirnya Gen Z sejalan dengan berkembangnya teknologi. Jadi, tidak dapat dipungkiri bahwa Gen Z dekat sekali dengan teknologi. Seiring dengan berkembangnya waktu, sosial media bukan hanya alat untuk berkomunikasi tetapi juga untuk mendapatkan informasi, mengembangkan diri, serta membangun identitas.

Musik dalam kehidupan Gen Z bukan hanya pelengkap namun elemen yang tak terpisahkan, musik juga merupakan salah satu bentuk media penyampaian ekspresi. Saat ini dengan menggunakan ponsel saja, kita dapat dapat menjangkau platform seperti Spotify, YouTube, dan TikTok . Berbagai jenis musik dari belahan dunia dapat diakses dengan mudah seperti Pop, K-pop, EDM, Hip-Hop, Rap, R&B, Blues, Jazz, Rock, Metal, Country, Ballad, Reggae hingga Dangdut. Keberagaman musik memberi kebebasan dalam menentukan pilihan musik terbaik mereka.

Di tengah hidup yang penuh tekanan, artikel ini menelusuri bagaimana musik jedag-jedug mampu memberikan energi, pelarian, dan rasa nyaman bagi Gen Z, sekaligus melihat dampaknya terhadap psikologi dalam tren anak muda.

Karakteristik yang energik: Mengurangi kejenuhan

Musik Jedag-Jedug sendiri berdasar pada genre Electronic Dance Music atau umumnya disebut EDM juga Remix dalam kalangan anak muda lebih dikenal dengan musik jedag-jedug. EDM merupakan sebuah genre yang mempunyai banyak variasi mulai dari techno, house, drum & bass, jungle, hingga dubstep. Dikutip dari artikel "mengenal lebih jauh EDM" menurutnya Banyak yang sudah menggeluti karir di genre ini, sebutlah nama-nama besar seperti Marshmellow, DJ Snake, The Chainsmokers, dan masih banyak lagi. Sedangkan Remix adalah proses mengubah atau memodifikasi sebuah lagu yang sudah ada dengan menambahkan elemen-elemen baru seperti beat, suara, atau efek lainnya. Remix sering kali dilakukan oleh seorang DJ atau produser musik elektronik. tujuannya mengubah genre musik dari lagu asli.

ilustrasi Anak muda menikmati Electronic Music Dance (sumber: https://www.freepik.com/free-photo/side-view-friends-partying-roof_32673321.htm#fromView=search&page=2&position=21&uuid=5ceaf6f1-b8f2-491e-be0e-894e2699421d&query=gen+z+dance+dj)

Penambahan atau pengintegrasian musik dengan elektronik ini lah yang membuat musik mempunyai keunikan atau menjadi versi yang lebih seru. Contohnya lagu dengan genre galau yang menyayat hati berjudul Terlalu Cinta yang di cover oleh Lyodra bisa diubah menjadi musik dengan bass dan beat yang penuh energi, rasanya seperti keluar dari zona nyaman lagu yang seharusnya sedih kini bisa dinikmati dengan hentakan bass yang energik. Ritme yang menghentak memicu respons fisiologis seperti peningkatan adrenalin dan dopamin, yang membuat pendengar merasa lebih hidup, teralihkan dari masalah, dan memperoleh energi baru dalam waktu singkat. Selain itu, Gen Z hidup dalam lingkungan serba cepat, multitasking, dan penuh hubungan digital, sehingga mereka cenderung membutuhkan bentuk hiburan yang intens dan instan.

Merangsang kreativitas: Terciptanya motivasi belajar

Berbagai genre musik sering digunakan sebagai bahan remix, hal ini mendorong seseorang dalam berkreativitas contohnya menciptakan editing video, velocity, atau efek visual, sehingga mendorong imajinasi dan kemampuan artistik digital seseorang. Dalam platfrom Tiktok sendiri, ada sebuah editing transisi video yang menggunakan lagu remix berjudul “DJ Sudah Terbiasa Terjadi Tante”, namun sering kali editing ini di isi dengan foto foto Mahasiswa Teknik yang berkharisma. Hal ini mendapat pesan positif dari orang orang yang melihatnya serta banyak Mahasiswa Teknik yang turut berpartisipasi sampai akhirnya banyak warganet yang merasa bahwa lagu ini sangat menyatu dengan kharisma Mahasiswa Teknik.

Sudah terbiasa terjadi tantee..

Teman datang ketika lagi butuh sajaa..

Coba kalau lagi susahh..

Mereka semua menghilanggg..

Tanteee…

Begitulah reff lagu “DJ Sudah Terbiasa Terjadi Tante”, ketika seseorang mendengarkannya ia akan teringat dengan Mahasiswa Teknik yang berkharisma, pada akhirnya lagu ini di cap sebagai lagu kebangsaan Mahasiswa Teknik. Tren ini mengguncang para siswa yang ada dibangku SMA khususnya karena setiap kali mendengar reff lagunya, muncul rasa ingin menjadi mahasiswa yang berkharisma terlebih lagi jika jurusan Teknik impiannya. Akhirnya Hal ini menjadi motivasi para siswa SMA dalam menuntut ilmu ke jurusan kuliah Impian mereka. Lantunan yang lambat namun Beat yang menghentak dapat memicu pelepasan dopamin serta meningkatkan mood, sehingga membantu seseorang merasa lebih bersemangat.

ilustrasi. Belajar sambil mendengarkan musik (sumber: https://www.freepik.com/free-photo/woman-attending-online-class_12457264.htm#fromView=image_search&page=1&position=4&uuid=5da648a0-0d84-44ff-862c-d47ed486386a&query=denger+musik+sambil++nulis)

Mengurangi stress: Mendorong perilaku eskapisme berlebihan

Pelarian ini muncul karena tubuh dan pikiran berusaha memulihkan keseimbangan psikologis yang terganggu, musik jedag-jedug menjadi pelarian bagi Gen Z karena karakteristiknya yang cepat, energik, dan repetitif mampu memberikan stimulasi sensorik yang kuat sehingga menciptakan rasa lega secara instan dari kejenuhan dan tekanan hidup. Namun jangan sampai jika dijadikan satu-satunya cara untuk kabur dari stres, musik bisa saja membuat seseorang menghindari masalah tanpa menyelesaikannya.

Mengganggu orang di sekitar dan Potensi gangguan pendengaran

Penggunaan speaker dengan volume besar dapat mengganggu lingkungan sosial, terutama di tempat umum atau rumah yang berdekatan. Jika mendengarkan musik ini dengan volume sangat tinggi atau menggunakan earphone terlalu lama risiko kerusakan pendengaran meningkat.

ilustrasi mikir kids ini berisik banget (sumber: https://www.freepik.com/free-photo/indoor-shot-upset-displeased-attractive-woman-glasses-jacket-t-shirt-sulking-frowning-from-sadness-pointing-up_10401545.htm#fromView=search&page=2&position=32&uuid=83de451f-1c30-4bc2-a385-1e15b3913b4a&query=berisik)