Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 ยฉ PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
30 Ramadhan 1446 HMinggu, 30 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna
Petani Kelapa Sawit Itu Enak Nyatanya di lapangan Tak Semudah Itu
26 Maret 2025 12:24 WIB
ยท
waktu baca 2 menitTulisan dari erlangga putra ardana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan beragam komoditas unggulan, seperti padi dan kelapa sawit, yang sebagian hasil pengolahannya menjadi penyumbang devisa negara.
ADVERTISEMENT
Dengan nilai yang sangat tinggi di pasar internasional, banyak orang terlena dengan hasilnya saja tanpa melihat atau mengalami langsung proses bagaimana barang tersebut dapat bernilai.
Dibandingkan dengan petani padi, petani kelapa sawit harus bekerja lebih ekstra dalam pengerjaannya, seperti merawat lahan yang luas, melakukan pemupukan secara berkala, serta memastikan tanaman terbebas dari hama dan penyakit. Durasi waktu perawatan ini bisa berlangsung berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Tidak hanya itu, proses panen kelapa sawit juga jauh lebih berat dibandingkan dengan padi. Petani harus menggunakan alat khusus bernama egrek untuk memotong tandan buah segar (TBS), yang beratnya bisa mencapai puluhan kilogram per tandan. Setelah itu, hasil panen harus segera diangkut ke pabrik pengolahan agar kualitas minyak yang dihasilkan tetap optimal.
ADVERTISEMENT
Selain faktor teknis, petani kelapa sawit juga menghadapi tantangan besar dalam hal biaya produksi. Harga pupuk, pestisida, dan tenaga kerja terus meningkat, sementara harga jual TBS sering kali fluktuatif mengikuti pasar internasional. Jika harga sawit anjlok, petani kecil yang tidak memiliki cadangan modal akan kesulitan menutupi biaya operasional, bahkan bisa mengalami kerugian besar.
Regulasi pemerintah dan isu lingkungan juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam beberapa tahun terakhir, kelapa sawit sering dikaitkan dengan deforestasi dan kerusakan ekosistem, sehingga beberapa negara membatasi impor minyak sawit dari Indonesia. Hal ini berimbas pada penurunan harga dan membuat petani semakin terhimpit.
Selain itu, ada berbagai aturan terkait sertifikasi lahan dan praktik keberlanjutan yang harus dipenuhi, yang tidak selalu mudah bagi petani kecil karena keterbatasan akses terhadap informasi dan dukungan teknis.
ADVERTISEMENT
Sebagai petani kelapa sawit, hasil panennya berupa minyak goreng tetap harus dibeli, tidak seperti petani sayur dan padi yang bisa langsung mengonsumsi hasil pertaniannya.