Gunung Anak Krakatau Meletus, Siapa yang Membayar Tagihan Ekonominya?

Dosen Prodi Akuntansi Perpajakan Universitas Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Erliana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Erupsi Gunung Anak Krakatau bukan hanya soal abu vulkanik. Penerbangan terganggu, omzet tertekan, dan pendapatan masyarakat ikut terdampak. Siapa yang membayar tagihan ekonominya?
Erupsi Gunung Anak Krakatau kembali mengingatkan kita bahwa bencana alam tidak hanya membawa persoalan keselamatan, tetapi juga dapat mengguncang aktivitas ekonomi. Bayangkan seseorang sudah duduk di ruang tunggu bandara. Koper ada di sampingnya. Tiket sudah dibeli. Jadwal perjalanan sudah disusun. Mungkin ada rapat penting yang menunggu di kota tujuan, atau keluarga yang sudah lama direncanakan untuk dikunjungi.
Kemudian sebuah notifikasi masuk ke telepon genggamnya.
"Penerbangan Anda dibatalkan."
Bukan karena pesawat mengalami kerusakan. Bukan pula karena cuaca hujan deras di bandara tujuan. Penyebabnya adalah abu vulkanik dari aktivitas Gunung Anak Krakatau yang kembali meningkat. Bagi sebagian orang, pembatalan penerbangan mungkin hanya dianggap sebagai gangguan perjalanan. Namun jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, satu penerbangan yang berhenti sebenarnya membawa cerita yang jauh lebih panjang. Ada hotel yang kehilangan tamu, restoran yang kehilangan pelanggan, transportasi yang kehilangan penumpang, hingga pekerja harian yang kehilangan peluang memperoleh pendapatan. Erupsi gunung api ternyata tidak hanya menghasilkan abu yang beterbangan di langit. Ia juga mampu menghentikan perputaran uang dalam waktu yang relatif singkat.
Aktivitas Gunung Anak Krakatau pada awal September 2026 kembali mengingatkan bahwa Indonesia hidup berdampingan dengan risiko bencana geologi. Aktivitas vulkanik yang meningkat membuat sejumlah wilayah harus meningkatkan kewaspadaan, sementara sektor transportasi dan aktivitas ekonomi ikut menyesuaikan kondisi yang terjadi. Dalam situasi seperti inilah kita mulai menyadari bahwa bencana bukan hanya persoalan alam. Bencana juga merupakan persoalan keuangan.
Ketika langit tertutup abu, arus kas ikut terganggu
Sektor penerbangan menjadi salah satu industri yang paling cepat merasakan dampaknya. Ketika abu vulkanik memasuki jalur penerbangan, keselamatan menjadi prioritas utama. Bandara dapat menghentikan operasional sementara, maskapai harus menjadwalkan ulang penerbangan, dan ribuan penumpang terpaksa menunggu kepastian keberangkatan. Namun di balik semua itu terdapat biaya yang tidak sedikit. Pesawat yang tidak terbang berarti pendapatan yang tidak masuk. Sementara berbagai pengeluaran tetap berjalan. Maskapai tetap harus menyiapkan kru, melakukan pemeriksaan pesawat, mengatur ulang jadwal penerbangan, melayani penumpang yang terdampak, hingga menanggung berbagai biaya operasional tambahan. Dalam dunia bisnis, kondisi tersebut dikenal sebagai tekanan terhadap "cash flow" atau arus kas.
Perusahaan mungkin memiliki aset bernilai miliaran rupiah. Pesawat tetap ada. Hanggar tetap berdiri. Kantor tetap beroperasi. Namun ketika aktivitas utama berhenti, aliran pendapatan dapat langsung melambat. Inilah mengapa sebuah bencana sering kali lebih dulu terasa pada laporan keuangan sebelum terlihat pada neraca aset.
Kerugian yang tidak terlihat
Menariknya, dampak ekonomi terbesar tidak selalu berasal dari bangunan yang rusak.
Bayangkan seorang pemilik warung makan di kawasan wisata.
Tidak ada meja yang patah.
Tidak ada dapur yang terbakar.
Tidak ada etalase yang hancur.
Tetapi hari itu pembeli tidak datang karena jumlah wisatawan berkurang dan perjalanan banyak yang tertunda.
Secara fisik, usahanya baik-baik saja.
Secara keuangan, omzetnya justru menurun.
Di sinilah kita memahami perbedaan antara "kerusakan" dan "kehilangan pendapatan."
Kerusakan dapat dilihat dengan mata. Bangunan retak, kendaraan rusak, atau fasilitas umum hancur. Sebaliknya, kehilangan pendapatan sering kali tidak terlihat. Tidak ada foto dramatis yang menggambarkan satu hari tanpa pelanggan. Tidak ada rekaman televisi yang menunjukkan kursi restoran yang kosong. Padahal bagi pelaku UMKM, kursi kosong tersebut bisa berarti penghasilan yang tidak pernah kembali.
Satu hari sepi mungkin masih dapat ditoleransi.
Namun ketika gangguan berlangsung beberapa hari, biaya tetap mulai menjadi beban.
Sewa tempat tetap harus dibayar.
Listrik tetap menyala.
Gaji karyawan tetap menjadi tanggung jawab.
Cicilan usaha tetap memiliki tanggal jatuh tempo.
Artinya, bencana dapat menguji kemampuan sebuah usaha untuk bertahan bukan hanya melalui kekuatan produknya, tetapi juga melalui kesehatan keuangannya.
Nelayan dan pekerja harian menghadapi persoalan yang sama
Jika maskapai berbicara mengenai biaya operasional dan UMKM berbicara mengenai omzet, maka nelayan memiliki perhitungan yang jauh lebih sederhana.
Hari melaut berarti ada peluang memperoleh pendapatan.
Hari tidak melaut berarti penghasilan berpotensi berhenti.
Aktivitas vulkanik yang memengaruhi keselamatan di sekitar Selat Sunda dapat membuat sebagian masyarakat pesisir harus menyesuaikan aktivitasnya. Bagi pekerja dengan sistem pendapatan harian, gangguan satu hari saja dapat memberikan dampak langsung terhadap keuangan keluarga.
Kebutuhan rumah tangga tidak pernah ikut berhenti.
Anak tetap membutuhkan biaya sekolah.
Belanja dapur tetap harus dilakukan.
Tagihan listrik tetap datang setiap bulan.
Karena itu, ketahanan menghadapi bencana sebenarnya juga berkaitan dengan satu pertanyaan sederhana: berapa lama sebuah keluarga mampu bertahan ketika sumber pendapatan terganggu?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi justru sering terlupakan ketika pembahasan bencana hanya berfokus pada aspek mitigasi fisik.
Efek domino yang menggerakkan banyak sektor
Ekonomi bekerja seperti rangkaian yang saling terhubung.
Ketika penerbangan terganggu, wisatawan menunda perjalanan.
Ketika wisatawan berkurang, tingkat hunian hotel ikut menurun.
Ketika hotel lebih sepi, restoran menerima lebih sedikit pelanggan.
Ketika restoran lebih sepi, permintaan bahan baku dari pemasok dapat ikut berkurang.
Efek tersebut terus bergerak dari satu sektor ke sektor lainnya.
Dalam ekonomi, kondisi seperti ini sering disebut sebagai efek domino. Tidak berarti seluruh perekonomian berhenti. Namun setiap gangguan pada satu mata rantai dapat memengaruhi aktivitas pada mata rantai berikutnya. Itulah sebabnya sebuah erupsi tidak hanya menjadi perhatian ahli geologi, tetapi juga menarik untuk dibahas oleh ekonom, pelaku usaha, hingga pengelola keuangan publik.
Karena pada akhirnya, semua pihak sedang menghitung biaya yang muncul dari sebuah gangguan yang tidak direncanakan.
Pemerintah pun memiliki tagihan yang harus dibayar
Ketika masyarakat mulai terdampak, pemerintah tidak hanya hadir melalui imbauan keselamatan.
Ada biaya mitigasi.
Ada pemantauan aktivitas gunung api.
Ada kesiapsiagaan petugas.
Ada penyesuaian transportasi.
Ada kemungkinan kebutuhan bantuan bagi masyarakat yang terdampak.
Semua membutuhkan anggaran.
Di sinilah peran keuangan negara menjadi sangat penting. Anggaran penanggulangan bencana seharusnya tidak dipandang sebagai pengeluaran semata. Ia merupakan bentuk investasi agar kerugian yang lebih besar dapat dicegah. Mengeluarkan biaya untuk mitigasi sebelum bencana membesar sering kali jauh lebih efisien dibandingkan membayar biaya pemulihan setelah kerusakan meluas.
Prinsip tersebut sebenarnya sangat dekat dengan manajemen keuangan perusahaan maupun rumah tangga. Kita mengenalnya sebagai persiapan menghadapi risiko.
Belajar dari Anak Krakatau tentang dana darurat
Ada satu pelajaran finansial yang menurut saya paling relevan dari peristiwa ini.
Bukan mengenai gunungnya.
Melainkan mengenai kesiapan kita.
Rumah tangga membutuhkan dana darurat karena pendapatan tidak selalu berjalan mulus.
UMKM membutuhkan cadangan kas karena penjualan dapat turun tanpa peringatan.
Perusahaan membutuhkan rencana keberlangsungan usaha karena operasional dapat terganggu oleh faktor di luar kendali.
Pemerintah membutuhkan ruang fiskal agar mampu merespons bencana tanpa mengorbankan pelayanan publik lainnya.
Semuanya berbicara mengenai satu konsep yang sama, yaitu resiliensi keuangan. Resiliensi bukan berarti kita mampu menghindari seluruh risiko. Resiliensi berarti kita memiliki kemampuan untuk bangkit ketika risiko benar-benar datang. Gunung Anak Krakatau mungkin kembali tenang beberapa waktu ke depan. Bandara akan kembali dipenuhi penumpang. Hotel kembali menerima tamu. Restoran kembali ramai. Nelayan kembali melaut ketika kondisi memungkinkan.
Namun ada satu hal yang seharusnya tetap tinggal dalam ingatan kita.
Bencana selalu memiliki biaya.
Sebagian dibayar dengan tenaga.
Sebagian dibayar dengan waktu.
Sebagian lagi dibayar dengan uang.
Dan justru biaya yang terakhir inilah yang sering datang diam-diam tanpa banyak disadari.
Abu vulkanik memang akan hilang ketika angin berubah arah. Tetapi pendapatan yang hilang, transaksi yang batal, serta kesempatan ekonomi yang terlewat tidak selalu dapat kembali dengan mudah. Karena itu, mungkin pertanyaan terpenting setelah sebuah erupsi bukan hanya kapan gunung kembali tenang. Melainkan seberapa siap kita menghadapi tagihan ekonomi ketika alam kembali menguji ketahanan keuangan masyarakat, dunia usaha, dan negara.
