Mengenal Sindrom Tourette, Penyebab Gerakan Berulang Tak Terkendali

Mahasiswi Fakultas Kedokteran UIN Jakarta angkatan 2021
Tulisan dari Erliana Shinta Dewi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang tidak mengenal Billie Eilish? Penyanyi asal Amerika Serikat ini menjadi idola baru bagi kaum muda dengan berbagai lagu hitsnya yang enak didengar. Namun, tahukah kamu jika penyanyi yang satu ini menderita penyakit unik yang dikenal dengan Sindrom Tourette? Hal ini diakui oleh Billie sendiri melalui postingan di akun pribadinya juga dikonfirmasi melalui wawancara dengan mengatakan bahwa dirinya mengalami gangguan Tic.
Sindrom Tourette merupakan penyakit yang menyerang sistem saraf dengan gejala khas berupa gerakan berulang dan tiba-tiba yang tidak disadari penderitanya. Namanya sendiri diambil dari nama ahli neurologi asal Perancis, Georges Albert Edouard Brutus Gilles de la Tourette selaku dokter pertama yang mencatat munculnya sindrom ini pada 1885.
Secara klinis, Sindrom Tourette dimulai dengan munculnya gerakan otot sederhana seperti berkedip dan meringis yang bisa hilang dengan sendirinya. Dalam keadaan tertentu seperti stress, cemas, dan kelelahan, gejala-gejala semakin parah hingga menyebabkan penderita sulit bersosialisasi dengan masyarakat.
Penyebab penyakit ini beragam namun semuanya merujuk pada satu pusat yaitu adanya kerusakan pada otak baik berupa kerusakan struktur, fungsi, maupun zat kimia penghantar impuls yang biasa disebut neurotransmitter. Adanya damage ini memicu ketidakteraturan koordinasi sel saraf otak dan otot sehingga bermanifestasi menjadi gejala-gelaja yang telah disebutkan.
Penelitian lain membuktikan bahwasannya gen juga menjadi salah satu faktor penyebab dengan pola pewarisan yang unik. Namun beberapa kasus juga membuktikan jika sindrom ini tidak terkait dengan genetik.
Data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) mengatakan jika sindrom Tourette ini bukan sindrom yang langka. Kasusnya muncul sebanyak 0,5 hingga 13 per 10.000 orang. Sindrom ini biasanya mulai terdeteksi pada masa kanak-kanak dengan rentang usia 5 sampai 9 tahun dan lebih sering ditemukan pada laki-laki.
