Konten dari Pengguna

Biaya yang Harus Dibayar Bumi: Pentingnya Gen Z Memahami Green Accounting

Erlianti Anisa Putri

Erlianti Anisa Putri

Mahasiswi S1 Akuntansi Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Erlianti Anisa Putri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi catatan keuangan Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi catatan keuangan Foto: Shutterstock

Bayangkan sebuah laporan keuangan yang terlihat sempurna: pendapatan tumbuh, laba bersih naik, harga saham menghijau. Namun di balik angka-angka itu, ada sungai yang tercemar limbah, hutan yang menyusut, dan emisi karbon yang terus menumpuk di atmosfer. Selama puluhan tahun, laporan seperti inilah yang dianggap sebagai tolok ukur keberhasilan sebuah perusah, tanpa pernah benar-benar menghitung harga yang dibayar bumi untuk mewujudkannya.

Jika akuntansi tradisional menjawab pertanyaan "berapa besar keuntungan yang diperoleh perusahaan?", maka Green Accounting mengajak kita bertanya lebih jauh: "berapa besar keuntungan yang diperoleh tanpa mengorbankan lingkungan dan keberlanjutan masa depan?" Bagi saya, pertanyaan kedua ini semakin mendesak untuk dijawab. Perubahan iklim, pencemaran, kerusakan ekosistem, hingga keterbatasan sumber daya alam menunjukkan bahwa keberhasilan bisnis tidak seharusnya lagi dilihat semata dari angka di baris paling bawah laporan laba rugi.

Ketika Angka Saja Tidak Cukup

Green Accounting membantu perusahaan mengidentifikasi dan melaporkan biaya-biaya yang berkaitan dengan lingkungan, seperti konsumsi energi, pengelolaan limbah, hingga emisi karbon. Informasi ini bukan sekadar tambahan kosmetik dalam laporan tahunan, melainkan dasar untuk mengambil keputusan bisnis yang lebih bijak, mulai dari efisiensi operasional hingga mitigasi risiko reputasi.

Stakeholder Theory dari R. Edward Freeman menegaskan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab terhadap seluruh pihak yang terdampak oleh aktivitasnya, bukan hanya pemegang saham. Gagasan ini kini bukan lagi sekadar teori di ruang kuliah. Data menunjukkan bahwa pelaporan keberlanjutan telah menjadi arus utama dalam dunia bisnis global: survei KPMG mencatat bahwa proporsi perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia yang menerbitkan laporan keberlanjutan melonjak dari 86 persen pada 2018 menjadi 96 persen pada 2022. Standar Global Reporting Initiative (GRI), salah satu kerangka pelaporan keberlanjutan yang paling banyak dipakai, kini digunakan oleh lebih dari 10.000 organisasi di lebih dari 100 negara, termasuk sekitar 85 persen dari 250 perusahaan terbesar dunia.

Di Indonesia, tren ini juga terlihat jelas. Survei menunjukkan sekitar 80 persen perusahaan Indonesia yang disurvei telah melaporkan komitmen keberlanjutannya menggunakan standar GRI. Perkembangan ini didorong pula oleh regulasi: Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui POJK No. 51/POJK.03/2017, mewajibkan lembaga jasa keuangan, emiten, dan perusahaan publik untuk menyampaikan laporan keberlanjutan setiap tahun. Artinya, mengungkapkan dampak lingkungan bukan lagi sekadar pilihan etis, tetapi mulai menjadi kewajiban hukum bagi banyak entitas bisnis di Indonesia.

Gen Z: Bukan Sekadar Penonton

Di sinilah saya melihat Gen Z memiliki peran penting. Kami bukan hanya konsumen, tetapi juga calon akuntan, investor, pelaku bisnis, dan pengambil keputusan. Dan data memperlihatkan bahwa kepedulian ini bukan sekadar citra di media sosial. Survei Deloitte 2025 Gen Z and Millennial Survey terhadap lebih dari 23.000 responden di berbagai belahan dunia menemukan bahwa 70 persen Gen Z dan milenial menganggap reputasi lingkungan sebuah perusahaan penting saat memilih tempat bekerja, dan hampir dua pertiga bersedia membayar lebih untuk produk yang berkelanjutan. Di Indonesia, survei Jakpat bertajuk "Understanding Gen Z: Preference in the Workplace" mencatat bahwa 64 persen Gen Z mempertimbangkan isu lingkungan dan sosial ketika memilih perusahaan tempat bekerja, dengan 28 persen mengaku merasa malu jika bekerja di perusahaan yang tidak peduli pada isu tersebut.

Namun, kepedulian saja tidak cukup diwujudkan lewat unggahan di media sosial. Sebagai mahasiswa akuntansi, saya merasa kami perlu membekali diri dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang Green Accounting, ESG, dan sustainability reporting. Jangan sampai kami menjadi generasi yang ramai bersuara soal lingkungan di linimasa, tetapi begitu masuk dunia kerja hanya mampu membaca perusahaan dari sisi laba semata.

Bukan Tren, tapi Kebutuhan

Menurut saya, Green Accounting bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan. Kehadiran standar keberlanjutan seperti GRI (Global Reporting Initiative) dan IFRS Sustainability Disclosure Standards menunjukkan bahwa informasi mengenai keberlanjutan semakin dianggap material dalam dunia bisnis dan investasi bukan lagi pelengkap laporan tahunan. Bahkan di tingkat pasar modal, lebih dari separuh bursa saham di dunia kini memiliki pedoman pelaporan ESG, jauh meningkat dibandingkan tahun 2015 ketika baru belasan bursa yang memilikinya.

Karena itu, Gen Z perlu mengambil peran sejak sekarang. Akuntansi seharusnya tidak hanya membantu perusahaan menghitung keuntungan, tetapi juga membantu memastikan bahwa keuntungan tersebut tidak dibayar terlalu mahal oleh lingkungan. Sebab bisnis yang benar-benar berkelanjutan bukan hanya soal seberapa besar profit yang diperoleh hari ini, melainkan soal apakah generasi berikutnya masih memiliki lingkungan yang layak untuk menikmati hasilnya.