Konten dari Pengguna

Fenomena “Kabur Aja Dulu” dan Krisis Kepercayaan Anak Muda

Erlin Nurcahyani

Erlin Nurcahyani

Mahasiswa program studi Ilmu Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sriwijaya

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Erlin Nurcahyani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi fenomena “kabur aja dulu” di kalangan generasi muda Indonesia. Foto: Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi fenomena “kabur aja dulu” di kalangan generasi muda Indonesia. Foto: Generated by AI

Dalam beberapa tahun terakhir, keinginan pindah ke luar negeri bukan lagi sekadar impian segelintir orang. Di media sosial, istilah seperti “kabur aja dulu” semakin sering muncul, baik dalam bentuk candaan, keluhan, maupun rencana hidup yang serius. Banyak anak muda mulai membicarakan peluang kerja di Australia, beasiswa di Eropa, hingga kehidupan yang dianggap lebih manusiawi di negara lain.

Fenomena ini bukan sekadar tren internet yang lewat begitu saja. Di balik ramainya konten tentang pindah negara, terdapat satu hal yang patut diperhatikan: semakin banyak generasi muda yang merasa ragu terhadap masa depan mereka sendiri di Indonesia.

Yang menarik, keinginan untuk pergi ini tidak selalu lahir dari kebencian terhadap tanah air. Banyak anak muda tetap mencintai Indonesia, tetap bangga dengan identitasnya, dan tetap mengikuti perkembangan negaranya. Namun, rasa cinta ternyata tidak selalu cukup untuk membuat seseorang bertahan ketika hidup terasa semakin berat dan masa depan tampak makin tidak pasti.

Masalah utamanya bukan semata soal gaji yang kecil atau tren mengikuti kehidupan luar negeri. Fenomena “kabur aja dulu” mencerminkan adanya krisis kepercayaan—khususnya kepercayaan bahwa kerja keras akan membawa kehidupan yang lebih layak.

Banyak anak muda hari ini tumbuh dengan janji bahwa pendidikan adalah jalan menuju mobilitas sosial. Mereka diminta belajar keras, masuk universitas, meningkatkan kemampuan, dan menjadi produktif. Namun setelah lulus, realitas yang ditemui sering kali jauh dari harapan. Lapangan pekerjaan semakin kompetitif, biaya hidup meningkat, sementara pendapatan banyak pekerja muda tidak berkembang secepat kebutuhan hidup mereka.

Ilustrasi wisuda. Foto: Shutterstock

Tidak sedikit lulusan perguruan tinggi yang akhirnya bekerja di bidang yang tidak sesuai, menerima upah rendah, atau hidup dalam ketidakpastian kontrak jangka pendek. Di kota-kota besar, memiliki rumah terasa semakin mustahil. Bahkan untuk sekadar hidup nyaman tanpa rasa cemas terhadap biaya bulanan, banyak anak muda merasa harus bekerja jauh lebih keras dibanding generasi sebelumnya.

Dalam situasi seperti itu, muncul pertanyaan yang semakin sering terdengar: Apakah semua usaha ini benar-benar sepadan?

Media sosial memperkuat perasaan tersebut. Jika dulu seseorang hanya membandingkan hidupnya dengan lingkungan sekitar, kini anak muda membandingkan dirinya dengan dunia. Melalui TikTok, Instagram, dan YouTube, mereka melihat bagaimana pekerja di negara lain memiliki work-life balance yang lebih baik, transportasi publik yang nyaman, ruang publik yang tertata, hingga sistem kerja yang dianggap lebih menghargai manusia.

Tentu saja media sosial tidak selalu menampilkan kenyataan secara utuh. Kehidupan di luar negeri juga memiliki tekanan, diskriminasi, biaya hidup tinggi, dan tantangan adaptasi budaya. Namun, internet telah membuka mata banyak orang, bahwa standar hidup yang lebih baik ternyata mungkin untuk dicapai.

Akibatnya, banyak anak muda mulai melihat migrasi bukan lagi sebagai mimpi elite, melainkan strategi bertahan hidup.

Fenomena ini semakin kuat karena adanya krisis kepercayaan terhadap sistem sosial yang ada. Banyak generasi muda mulai mempertanyakan: Apakah kesempatan benar-benar terbuka secara adil bagi semua orang? Ketika nepotisme, koneksi, dan privilese sosial masih dianggap sangat menentukan keberhasilan, rasa percaya terhadap meritokrasi perlahan melemah.

Ilustrasi anak muda cemas. Foto: fizkes/Shutterstock

Dalam kondisi seperti itu, loyalitas emosional terhadap negara ikut terpengaruh. Nasionalisme tidak hilang, tetapi mulai berbenturan dengan kebutuhan realistis untuk mencari kehidupan yang lebih stabil.

Anak muda akhirnya berada dalam posisi yang rumit. Mereka tumbuh dengan semangat optimisme, tetapi hidup dalam situasi yang sering kali menuntut kompromi terus-menerus. Mereka diminta produktif, kreatif, dan kompetitif, tetapi pada saat yang sama menghadapi tekanan ekonomi, ketidakpastian karier, serta kecemasan sosial yang semakin tinggi.

Di sisi lain, negara juga sering kali gagal membaca perubahan psikologis generasi muda. Banyak respons terhadap keresahan anak muda masih bersifat normatif dan moralistik. Ketika generasi muda mengeluh soal sulitnya hidup, respons yang muncul kadang hanya berupa ajakan untuk “lebih bersyukur”, “lebih bekerja keras”, atau “lebih mencintai Indonesia”.

Padahal, persoalannya jauh lebih kompleks dari itu.

Cinta terhadap negara tidak bisa hanya dibangun melalui slogan. Ia juga membutuhkan rasa aman, rasa dihargai, dan keyakinan bahwa masa depan memang bisa dibangun secara realistis. Ketika harapan sosial melemah, keinginan untuk pergi menjadi semakin masuk akal.

Namun demikian, melihat luar negeri sebagai solusi sempurna juga merupakan penyederhanaan masalah. Banyak diaspora Indonesia yang tetap menghadapi kesepian, diskriminasi, tekanan kerja, hingga kesulitan adaptasi budaya. Tidak semua orang yang pindah ke luar negeri otomatis hidup lebih bahagia.

Ilustrasi kuliah di luar negeri. Foto: Shutterstock

Namun, fakta bahwa semakin banyak anak muda ingin pergi tetap menjadi sinyal penting yang tidak boleh diabaikan. Fenomena ini menunjukkan adanya jarak antara aspirasi generasi muda dengan kondisi sosial yang mereka hadapi sehari-hari.

Yang sering dilupakan adalah bahwa generasi muda tidak hanya mencari uang. Mereka juga mencari kualitas hidup, stabilitas mental, penghargaan terhadap waktu pribadi, dan rasa bahwa hidup mereka memiliki arah yang jelas. Ketika semua itu terasa sulit ditemukan, keinginan untuk mencari tempat lain akan terus tumbuh.

Pada akhirnya, fenomena “kabur aja dulu” seharusnya tidak dilihat sebagai bentuk kurangnya nasionalisme. Justru fenomena ini dapat dibaca sebagai kritik sosial yang lahir dari rasa kecewa dan kelelahan. Banyak anak muda sebenarnya tidak ingin pergi selamanya. Mereka hanya ingin hidup di tempat yang memberi mereka harapan.

Jika negara ingin generasi mudanya bertahan, yang dibutuhkan bukan sekadar kampanye cinta tanah air. Yang lebih penting adalah membangun kondisi sosial yang membuat anak muda percaya bahwa masa depan yang layak memang masih mungkin diwujudkan di negeri sendiri.

Sebab nasionalisme, pada akhirnya, bukan hanya soal bertahan di suatu tempat. Nasionalisme juga soal keyakinan bahwa tempat itu masih layak diperjuangkan.