Dari Inggris ke Korea: Kisah Dosen UNS Monika Sri Menjalani Studi Doktoral

Mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi pada Universitas Sebelas Maret.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Erlin Nursifa Hatmoko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rencana yang Disusun Rapi
Sri Monika Yuliarti, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret (UNS), tak pernah membayangkan akan melanjutkan studi doktoralnya di Korea Selatan. Sejak awal, rencana studinya tertuju pada Eropa dan Inggris. Namun ketika rencana itu gagal, hidup justru membawanya ke jalan yang sama sekali tak pernah ia siapkan.
“Sebetulnya Korea itu nggak pernah masuk rencana,” katanya.
Pengalaman akademik di Leiden University dan Coventry University semakin menguatkan keyakinannya bahwa Inggris adalah tujuan akhir.
Di Coventry University, Monika mengikuti program predoctoral bridging dan membangun relasi intens dengan calon pembimbing. Ia merasa berada di jalur yang tepat.
“Saya sudah PD banget. Sudah ngobrol sama profesor, bahkan dikenalkan ke tim risetnya,” ungkapnya.
Semua persiapan telah ia lakukan. Proposal matang, komunikasi akademik terjalin, dan rasa percaya diri kian menguat.
Korea yang Datang Tanpa Direncanakan
Di tengah penantian itu, Monika memilih untuk mendaftar ke berbagai beasiswa, termasuk Korea Selatan, sebuah pilihan yang ia ambil tanpa ekspektasi tinggi.
“Waktu itu mikirnya daftar aja dulu, yang penting selamat,” ujarnya.
Tak disangka, justru beasiswa Korea yang lebih dulu memberikan pengumuman kelulusan. Waktu persiapan sangat singkat, dan ia harus segera mengambil keputusan besar.
Diterima Inggris, Namun Harus Melepas
Drama hidup mencapai puncaknya tiga hari sebelum keberangkatan ke Korea. Kabar yang ia tunggu bertahun-tahun akhirnya datang: ia diterima di Inggris.
“Nangis banget. Sedih banget,” ucapnya.
Kebahagiaan itu justru bercampur dengan rasa kehilangan. Namun, jika menunggu Inggris dan hasil akhirnya tak pasti, semua kesempatan bisa hilang.
“Kalau Korea nggak diambil dan Inggris ternyata nggak lolos, ya nggak ada apa-apa lagi,” katanya.
Keputusan itu tidak langsung terasa ringan. Semester pertama di Korea diwarnai rasa penyesalan dan keterkejutan.
“Awal-awal tuh kayak nyesel banget,” ujarnya.
Namun waktu perlahan mengubah cara pandangnya. Ia belajar menerima kenyataan bahwa tidak semua hal berjalan sesuai rencana.
“Kadang kita pengen apa, tapi Tuhan ngasihnya apa,” ucap Monika reflektif.
Meski berawal dari keterpaksaan, perjalanan akademik di Korea justru memberinya pelajaran berharga tentang ketahanan, penerimaan, dan makna proses.
“Seiring berjalannya waktu, ya sudah, dijalani,” katanya.
Bagi Monika, kegagalan rencana bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari sanalah ia menemukan arah baru yang membentuknya menjadi pribadi dan akademisi yang lebih kuat.
Kisah Sri Monika Yuliarti menjadi pengingat bahwa hidup tidak selalu mengikuti skenario yang kita susun. Kadang, jalan terbaik justru hadir dari pilihan yang tak pernah kita rencanakan, asal kita cukup berani untuk melangkah.
