Wisata Pasar Bahulak Sragen: Hadirkan Suasana Tempo Dulu

Mahasiswi jurusan Ilmu Komunikasi pada Universitas Sebelas Maret.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Erlin Nursifa Hatmoko tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sragen - Pemerintah Desa Karungan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen, mengadakan kegiatan pasar wisata yaitu 'Pasar Bahulak' setiap bulan pada hari Minggu Pahing Minggu Legi, serta hari-hari besar. Pasar Bahulak sudah beroperasi atau buka sejak tahun 2020, kegiatan pasar tersebut telah mengembalikan suasana jual beli tempo dulu dengan sistem pembayaran yang menggunakan koin dari batok kelapa serta penjualnya yang menggunakan baju lurik khas Jawa. Pasar yang dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karungan ini menjadi salah satu destinasi wisata budaya yang tengah digemari masyarakat. Setiap kali buka, Kawasan pasar selalu dipadati pengunjung dari berbagai daerah yang ingin menikmati pengalaman berbelanja dengan cara tradisional ala tempo dulu. Pasar Bahulak dirancang untuk mempertahankan budaya lokal dan menghidupkan kembali suasana tempo dulu, kata Sarijo (48), salah satu anggota panitia penyelenggara dan pengelola pasar. "Kami ingin menciptakan pasar wisata yang bukan hanya untuk tempat jual beli, tapi juga tempat melestarikan suasana tempo dulu. Pembayarannya pun kami buat unik, pakai koin dari batok kelapa. Satu koin setara dua ribu rupiah," jelasnya.

Di pintu masuk, pengunjung dapat menukar uang rupiah dengan koin batok sebelum berbelanja. Selanjutnya, koin batok tersebut digunakan untuk membeli makanan tradisional seperti gethuk, tiwul, lenjongan, sego bancakan, jadah, dan sejenisnya. Suara musik Jawa yang mengalun menambah kesan tempo dulu pada pengunjung. Seorang pedagang, Bu Sri (45), mengatakan bahwa ia telah berjualan sejak pasar pertama kali dibuka, Beliau menawarkan berbagai macam makanan tradisional yang dibuat dengan resep yang diwariskan oleh keluarga. "Yang membuat jajanan ini istimewa itu resepnya masih sama seperti dulu, alias turun temurun. Sekarang sudah jarang ada yang jual makanan seperti ini," ujarnya sambil menata dagangan di atas daun pisang.
Harga jajanan di Pasar Bahulak tergolong terjangkau, mulai dari seribu rupiah per potong. Bu Sri dapat menjual hingga 500 potong jajanan dalam sehari buka. Semua makanan disajikan menggunakan wadah alami tanpa plastik sekali pakai, seperti daun pisang dan daun jati.
Dwi Cahyani (49), salah satu pengunjung mengatakan bahwa beliau mengetahui pasar ini dari unggahan di media sosial. Beliau datang bersama teman-temannya untuk merasakan suasana yang berbeda. "Masuk ke sini tuh kaya nostalgia. Dari jajanannya, pakaian penjualnya, sampai cara jual belinya, semuanya benar-benar seperti zaman dulu," ungkapnya.
Suasana di sekitar pasar semakin meriah dengan banyaknya pengunjung yang berfoto di depan gerbang bambu bertuliskan 'Pasar Bahulak' atau duduk menikmati sarapan tradisional di bawah pohon jati. Tak hanya menjadi tempat berbelanja, pasar ini juga menjadi ruang edukasi budaya dan pengenalan permainan tradisional khas tempo dulu bagi generasi muda agar mengenal kembali nilai-nilai tradisi. Sarijo menambahkan bahwa keberadaan pasar ini adalah sebuah bentuk komitmen warga desa untuk melestarikan warisan budaya di tengah perkembangan zaman. "Kami ingin anak muda tahu bahwa makanan tradisional itu bukan sesuatu yang ketinggalan zaman," ujarnya. Kegiatan rutin di Pasar Bahulak membuktikan bahwa konsep pelestarian budaya bisa dikemas secara menarik dan berdaya ekonomi. Melalui perpaduan antara wisata, kuliner, dan budaya, masyarakat Desa Karungan berhasil menciptakan ruang publik yang tidak hanya bersifat menghibur, tetapi juga menghidupkan kembali kenangan masa lalu dalam bentuk yang menarik bagi generasi saat ini.
