Konten dari Pengguna

Ukiran Arti Kehilangan

Erlinda Septiawati

Erlinda Septiawati

Mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta

·waktu baca 3 menit

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Erlinda Septiawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi foto: unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi foto: unsplash

Suatu malam, sekitar pukul sepuluh dalam keadaan sedang tertidur pulas. Suara ibuku membangunkan, terdengar di gendang telinga. Berkata bahwa ayah sahabatku meninggal dunia. Masih dalam kondisi setengah sadar. Seperti bangun dari mimpi, aku diam dan kaget.

Tubuh seakan tersendat untuk bangkit. Tetapi, otak memaksa bergegas. Menghelakan napas dan berpikir. Kesadaranku mulai normal dan mencerna ucapan ibuku tadi.

Kutarik kerudung dari lemari dengan asal. Setelah memakainya, aku langsung menuju rumah sahabat sejak masa putih biruku itu. Ya, rumah kami berjarak dekat. Dengan langkah secepat kilat akhirnya aku sampai.

Terlihat puluhan pasang mata mengitari pelataran rumahnya. Aku segera melepas sendalku, duduk berdampingan dengannya. Berusaha menyalurkan kekuatan yang ada. Saling memeluk dan menangis.

Malam itu kuharap sekadar mimpi lelapku. Semua yang tergambar bukan nyata. Melainkan, hanya mimpi buruk yang tak sengaja muncul. Namun, detak irama ini sangat jelas dalam rengkuhan.

Penglihatanku terhenti pada sebuah kain yang tengah menutupi tubuh seseorang. Ayah sahabatku telah pergi meninggalkan memori selamanya. Kematian mendadak, meninggalkan duka mendalam. Hingga rasa tak percaya sempat ada.

Dalam iringan tangis ia bercerita. Membuka rasa tidak percayanya akan kehilangan sosok ayah secepat ini. Usianya saat itu 15 tahun. Ia menuturkan “Sore hari baru di antar pulang sekolah”. Lalu, malam dikabarkan kepergian ayahnya. Baru saja selesai menonton film tentang ayah.

Sembab di mata dan tarikkan napas yang berat. Cerita ini memilukan, turut menjalar disendiku. Pasalnya sewaktu putih biru, kami selalu bersama. Pulang sekolah aku juga sering diajak ayahnya. Kalau pernah dengar ayahnya berkata, “Ada sahabatku, di sana ada aku.”

Suara tangis menggema tiada henti di rumahnya. Aku memutuskan untuk pulang karena waktu sudah tengah malam. Terlebih sudah banyak sanak saudara dari pihak keluarganya. Setidaknya, aku lega ada yang menemaninya.

Paginya, prosesi salat jenazah dan pemakaman dilakukan. Lekuk wajah sahabatku sudah jauh lebih baik dari semalam. Air mata yang deras sudah sirna. Tetapi, kerut kesedihan tetap tergambar jelas menempel.

Menyaksikan kejadian yang dirasakannya. Membuat diriku paham arti perpisahan sesungguhnya. Belajar dari kisah sahabatku. Bagian pengalaman yang akan selalu kuingat. Benar kata pepatah, “Kehilangan yang sesungguhnya adalah ketika kita tak pernah bisa melihatnya kembali.”

Bersyukurlah jika kedua permata hati masih di sampingmu. Setiap hari masih mampu kau tatap. Bercengkerama dan berbagi cerita. Jika jiwa dan raga seseorang sudah pergi. Hanya kenangan dan memori yang bisa mewakili.

Meskipun penyesalan menggerogoti, tetapi waktu tak mungkin kembali. Selagi masih tersisa senyum dan tawa di pipi. Tetaplah menjadi bagian senyuman untuk orang-orang yang kau sayangi. Sebab, ketika sudah pergi baru terasa berarti.

Apa salahnya luangkan waktu sejenak? Tidak ada kata 'sibuk', jika mau meluangkan. Sulit menebak sampai kapan? Mereka yang kita cintai dan sayangi tetap berada di genggaman. Waktu tak akan mampu memahami karena takdir pasti terjadi.