Cara Kuasa Bekerja Melalui Demo Mahasiswa

Pekerjaan : Free Writer, ASN di BAPPEDA Kab. Jeneponto, Prov. Sul-Sel
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Ermansyah R Hindi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada apa sih di negeri kita jadi kisruh? Apa yang salah sama penentu kebijakan? Kenapa massa turun ke jalan? Di benak kita mungkin jadi penasaran, jangan-jangan ada masalah serius. Pertanyaan itu bisa berjejer panjang. Untuk itu, kaitan antara pertanyaan lumayan relevan dengan tilikan singkat tentang kuasa: negara. Sedangkan, cara kuasa bekerja yang dimaksud adalah melalui aktivitas massa mahasiswa menggelar aksi demonstrasi itu pas peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026, di sekitaran Bundaharan HI.
Meminjam persfektif Foucauldian, bahwa pengetahuan, institusi, dan aktivitas sebagai cara kuasa bekerja. Kita tahu, masyarakat ilmiah di kampus tidak lebih sebagai medan pertarungan diskursus, narasi sekaligus ruang pengetahuan, dimana aktivitas mahasiswa bisa bergelut sama realitas yang lebih luas. Kampus jadi bagian dari kuasa disipliner, baik disiplin ilmiah, disiplin filsafat maupun disiplin atas tubuhnya dengan mekanisme kuasa.
Kontrol kuasa atas individu yang ujungnya berkumpul sebuah gerakan massa mahasiswa yang lebih mengebrak. Berapa massa mahasiswa yang terdisiplinkan saat aksi demonstrasi? Kita belum tahu.
Dari titik yang kontras, para aparat kuasa tanpa bedil pun ikut meramaikan panggung politik. Para aparat kuasa yang tidak pakai sepatu laras bernama kaum seleb atau influenser tampak cuek apakah mereka seperti “badut” yang siap ditertawai. Massa mereka justru melahirkan massa kerumunan. Yang penting mereka demi strategi kuasa, yaitu pengendalian massa tandingan yang berkedok mahasiswa bayaran diarahkan sama kuasa negara yang bekerja secara mekanis.
Nah, kuasa juga bekerja melalui aktivitas kelompok tertentu yang dimainkan sama sosok seleb dan kawan-kawan ngeles katanya cuma diundang di aksi demonstrasi 28 Oktober 2026 itu karena dia jadi bahan buat “pabrik” di balik hasrat untuk kuasa negara. Mumpung pentolan kaum seleb memang merepresentasikan kaumnya sebagai pejabat dalam lingkaran kuasa negara. Setuju jika mahasiswa gadungan tidak salah. “Mahasiswa dari kampus mana bang?” tanya seorang awak pers. Seorang yang ditanya tampak linglung parah. Yang gila-gilaan itu, ya aktor di balik mainan kepentingan politik melalui orang-orang yang dimanfaatkan dalam aksi demonstrasi.
Toh, semuanya itu punya cerita yang panjang. Mereka dan mungkin kita sendiri bisa jadi punya mentalitas inlanders. Ia membentuk kita tanpa sadar kian parah dalam kondisi seperti saat ini. Mentalitas inlanders itu diantaranya ingin kerja keras untuk dapat duit, kan? Kita bukannya diajak berpikir kritis untuk mengulik masalah diri dan lingkungan sekitar. Ia melibas cara berpikir yang berbeda.
***
Beberapa bulan lalu, saya menonton video tentang pengakuan mahasiswa soal uang suap melalui media online memang asyik karena ternyata ada orang yang mendesak di depan awak media, di antaranya tentang siapa dan berapa besar uang suap yang diterima. “Si A dapat blablabla, si B dapat sekian, si C terima segitu, dan seterusnya.” Mereka babak belur bukan karena diambat oleh massa yang lain, kecuali lagi “panen” uang suap di balik aksi demo sebagai hasil pesanan dari pihak berkepentingan.
Ketika nalar mahasiswa dikalahkan sama suap uang atau disogok 20 juta rupiah, mahasiswa jadi ngiler dan digoda oleh uang. Kaum terpelajar seperti mahasiswa punya mimpi besar ternyata amblas karena strategi kuasa yang dahsyat menggiring mahasiswa lebih “genit” melebihi suara kritis dan selera receh sekali.
Melalui kuasa, mahasiswa dengan aksi demonya bukan cuma bentuk penggembosan, kekerasan, dan pelarangan aksi demo mahasiswa. Isu utamanya bukan sekadar skandal suap mahasiswa dari pihak tertentu atau ada dan tidaknya suap uang, melainkan penanda uang dalam jaringan relasi kuasa yang mengawasinya secara senyap.
Memang betul, bukan tuntutan mahasiswa yang menggombal oknum aparat dengan uang sogokannya, dimana uang yang menggoda mahasiswa berfungsi sebagai instrumen kuasa untuk mengontrol aktivitas individu dan kelompok dengan jaringan relasi kuasa yang lebih luas dan efektif. Mahasiswa atas nama BEM disuap uang oleh aparat kuasa negara sebenarnya sebagai cara yang halus dan jitu.
Kemudian, kuasa pakai mekanisme seperti uang “pelican” aksi demo sebagai bentuk penghargaan atas jasa mahasiswa; ia bukan demo mahasiswa tandingan alias bayaran. Mahasiswa dibayar dan disogok berarti cara kuasa bekerja tanpa paksaan dan ancaman, melainkan kuasa memproduksi sebuah mekanisme penjinakan atau strategi pembujukan supaya mahasiswa terbawah arah yang diinginkan oleh rezim kuasa.
