Konten dari Pengguna

Kekerasan Ilahi: Kasus Intoleransi Atas Tempat Ibadah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ermansyah R Hindi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Gereja. Foto: REUTERS/Vasily Fedosenko
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Gereja. Foto: REUTERS/Vasily Fedosenko

" ... Tutup! Kalian yang bandel." "Sudah dua kali negosiasi. Anda izin sama siapa? Saya ini masyarakat, ini pemerintah," kata lelaki bersenjata golok dengan garangnya.

Lanjut, apa kata lelaki berkopiah dan bersenjata tajam berupa golok. "Saya nggak gunakan kekerasan, jika Anda punya izin ..."

Eh, habis nonton video reel tentang lelaki itu, muncul pula pernyataan lelaki yang sama di tanyangan video, di akun Facebook yang berbeda. Kali ini, dia tidak teriak-teriak. "Saya minta maaf sebesar-besarnya," ujar lelaki pembawa golok sekaligus biang yang ingin menutup gereja.

Dari video itu menandakan bahwa kekerasan atas nama Tuhan masih tetap rentan di negeri kita. Yang mayoritas pasang badan saat eksistensi sebagai umat Islam tidak tenang karena hadirnya gereja atau tempat ibadah lainnya. Padahal, Indonesia bukan negara agama; ia bukan sama sekali negara Islam. Negara kita adalah negara milik bersama, milik dari semua penganut agama. Kenapa kita keras kepala. Kenapa kita mabuk agama?

Ingatlah! Salah satu masalah laten yang serius, yaitu tirani mayoritas atas yang minoritas di bidang agama. Logika planet buminya: "Jika Bung tidak ingin dicubit, jangan cubit orang lain."

Apa yang dikatakan di sini, bahwa setumpuk alasan tentang tidak adanya izin membangun tempat ibadah tidak dimaksudkan pada kita untuk main hakim sendiri. Buktinya, si anu menghunus golok dengan nada sentimen pada umat beragama lainnya. Sebaiknya ditempuh jalur kekeluargaan atau musyawarah dengan berbicara elok.

"Lah, di mana negara hukum?" "Di mana penegak hukum?" Yang bersangkutan saja tidak penuhi syarat hukum mendirikan tempat ibadah. "Tenang Bung!"

Sejauh yang kita lihat, akan lebih menenangkan di antara kita, jika dengan cara hidup berlapang dada sekalipun kita berbeda agama. Atau jangan-jangan aparat hukum main mata sama yang lain. Ini prasangka, kan? Jika berangkat dari prasangka, bukan kepala dingin justru masalahnya makin runyam. "Kekerasan dan membunuh yang beragama dan non beragama sekalian adalah membunuh manusia sekaligus membunuh Tuhan." Zaman sudah berubah, tapi kekerasan Ilahi berulang-ulang, baik antarumat beragama maupun internal umat beragama. Kadangkala keras pada prinsip tanpa perspektif lebih luas akan menjelma jadi kekerasan Ilahi. Marilah belajar dari kasus kekerasan Ilahi, ketidakenakan, dan hal-hal yang membuat kekerasan yang lain! Kita coba menahan diri supaya tidak jatuh pada lubang yang sama! Yuk, kita bisa!

Beberapa tahun yang silam, sempat terjadi keributan dan menjurus kekerasan Ilahi atau agama di kampung kami. Penyebab dan polanya sama. Tempat atau rumah ibadah tidak punya izin mendirikan bangunan. Alasan warga untuk menggusur atau menyegel tempat ibadah karena melanggar SK Bersama. Itu saja. Memang begitu ekspresi massa yang menuntut penolakan atas tempat ibadah yang lain tampak di luar. Di samping faktor sosial-ekonomi, ada juga faktor karakter masyarakat setempat yang memicu keributan soal tempat ibadah.

Kembali pada kasus di kampung. Diakui ada rapat gabungan untuk mengantisipasi adanya kekerasan. Seruan untuk aksi protes dari massa supaya berjalan tertib tetap diindahkan. Syukurlah, massa protes masih terkendali. Dari situlah toleransi antar umat beragama diuji di tengah tindakan yang mengarah pada kekerasan simbolik (atas nama Tuhan).