Konten dari Pengguna

Lelaki Perkasa di Tengah Kemiskinan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ermansyah R Hindi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kami sebagai Tim Monitoring Kemiskinan Ekstrem bersama Pak Baso, Sumber: Dokpri
zoom-in-whitePerbesar
Kami sebagai Tim Monitoring Kemiskinan Ekstrem bersama Pak Baso, Sumber: Dokpri

Pagi jelang siang, saya bersama teman setim, sebut saja Erwin Ilyas mulai menaruh curiga pada gejala cuaca panas. "Bung, apa tidak berminat jadi ahli nujum di bidang percuacaan?" "Ada-ada saja, Bung," komentarku sekenanya.

Sekarang, belum seberapa, tim monitoring sudah angkat tangan. Jika sudah bergulat dengan panas-dingin di lapangan, tidak ada kata pantang menyerah.

Nah, begitu saudara. Itu baru lelaki! Hmm.

Benar-benar kami sudah di lokasi. Tidak peduli cuaca itu dan ini, kami mencoba menapaki jalan kecil. Didampingi oleh pejabat kelurahan setempat, saya menghampiri dan berhenti di sebuah gubuk reok.

Dari titik ini, kami sambangi pemilik gubuk reok. Siapa nama kepala rumah tangga, apa mata pencahariannya hingga jamban keluarga.

Seputar pertanyaan yang ketiga. Rupanya, mata pencaharian kepala rumah tangga sebagai nelayan. Lokasi kegiatan monitoring kali ini berada di kawasan kumuh daerah pesisir. Sekitar dua puluh hingga tiga puluh rumah menempati daerah pesisir.

Singkat kata, untuk mewakili kepala rumah tangga, kami menemui Pak Baso. Segera kami berpose ria dengan mengambil gambar persis di depan rumahnya. Aba-aba dari tukang foto dadakan, yang diminta pada salah satu warga lewat kamera ponsel saya.

Matahari semakin meninggi, sebentar lagi posisinya pas di atas kepala. Saya dan teman sudah anggap biasa.

Rumahnya beratap seng tampak lekang. Dindingnya terbuat dari kayu, jenis tripleks yang hampir lapuk. Lantainya dari floor biasa dan tidak memiliki penerangan listrik.

Lahan yang ditempati Pak Baso adalah milik pemerintah. Untuk bedah rumah saja begitu sulitnya karena syarat untuk membangun rumah layak huni harus status kepemilikan sendiri. Ini masalah krusial.

Di sela monitoring, kami sempatkan mengajukan pertanyaan kepada kepala rumah tangga miskin ekstrem. "Apa mata pencaharian bapak?" Tanya saya.

"Bapak cuma bekerja sebagai nelayan dan buruh budi daya rumput laut," kata Pak Baso. Sudah dapat bantuan Pak, seperti bantuan sosial Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), dan bantuan lainnya?

"Tidak dapat bantuan, Pak," balasnya. "Terima kasih juga Pak Baso atas kesediaannya menerima kami. Permisi ya Pak Baso."

Beralih ke alamat kepala rumah tangga yang lain. Saya dan teman sudah berada di depan rumah kayu yang berukuran besar. Yang terlihat atapnya sudah terpasang. Sisa dinding dan lantai yang belum terpenuhi. Jika begitu, kita ingin rekomendasikan Pak Baso sebagai salah satu kepala rumah tangga miskin ekstrem penerima manfaat.

"Tenang saja Bung," kataku. Kita melihatnya secara obyektif, apa adanya berdasarkan kriteria kemiskinan ekstrem. Begini, kita nilai rumah tangga itu sudah jelas sangat memenuhi kriteria kemiskinan ekstrem. Apa belum gamblang?

Kata lain, Pak Baso sangat layak mendapatkan uluran tangan sebagai rumah tangga miskin ekstrem penerima manfaat. "Buktinya apa Pak Erman," tanya Erwin Ilyas. Coba lihat saja sendiri! Kita mencoba untuk merekomendasikan pembangunan rumah layak huni bagi Pak Baso.

Jika bukan usaha yang lumayan berkembang seiring penghasilan bertambah, saya kira mustahil Pak Baso bisa membangun rumah layak huni. "Bung, tahu tidak, harga kayu mahal, kata saya." "Benar juga," balas Pak Erwin.

Sampai kemudian, Pak Baso dengan rambut terurai panjang sudah memutih yang ditutupi topi ditambah baju berwarna hitam sembari mengurut dahinya di saat kunjungan kami di gubuk reoknya. Selain itu, tangan Pak Baso masih tampak kencang dan kekar.

Singkat kata, Pak Baso tampak tegar, sekalipun memang tidak punya lahan sendiri. Jadi, ingin cari nafkah di lahan sendiri susah malah Pak Baso anggap terbiasa menjalani hidup dengan mata pencaharian sebagai nelayan atau buruh pembudi daya rumput laut.

***

Sesungguhnya Pak Baso dan lelaki miskin ekstrem yang perkasa lainnya memiliki mimpi kecil atau besar untuk terus bergerak meninggalkan nasib yang tidak menguntungkan mereka.

Apa yang ada di benak Pak Baso, ketika saya dan teman yang lain bekerja dengan cara "menggerebek" ala monitoring rumah tangga miskin ekstrem. Ada yang kepala rumah tangga miskin dimonitoring sedang keluar mencari nafkah seperti bekerja sebagai buruh bangunan dan bekerja di sawah. Itupun jika kepala rumah tangga miskin ekstrem memiliki lahan.

Kemudian, akhir Mei, 2025, mulai terasa cuaca panas bukan kepalang. Apa boleh buat, karena tugas dan tanggungjawab otomatis kami enyahkan keluh kesah. Kami sebagai tim monitoring malah menikmati cuaca panas cuaca di luar.

Bekal kemampuan tim monitoring yang demikian itu perlu didahului dengan peningkatan pengetahuan teknis kepekaan sosial, maka tidak mustahil jika kita serius memfasilitasi mereka agar bebas dari jeratan kemiskinan ekstrem. Kita melakukan sekarang, kenapa tidak?

Bisa saja orang menilai dengan kaca mata berbeda tentang apa yang kami lakukan sebagai tim bekerja di lapangan. Ya, gampang berbicara soal teori? Lelaki perkasa bernama Baso bisa kita yang melihat dan merasakan langsung kehidupannya.

Makan seadanya, tidur berselimut dengan kain lusuh hingga bangun tidur menuju kebun, sawah, rumput laut, dan tempat yang lain . Mereka seakan lebih terbiasa tanpa beban yang menghimpitnya. Kadangkala saya ingin menurunkan standar kemiskinan atau kriteria kemiskinan ekstrem di daerah. Namun, saya dan teman-teman tidak kewenangan. Kami hanya menjalankan tugas di Bappeda, diantaranya melakukan kegiatan monitoring dan memverifikasi antara data kemiskinan ekstrem dan fakta lapangan, termasuk menemukan Pak Baso sebagi lelaki perkasa di balik rumah tangga miskin ekstrem.